Anggaran Dasar Muhammadiyah kesebelas
Tahun 1985
ANGGARAN DASAR MUHAMMADIYAH
Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke 41 tahun 1985
di Surakarta
BAB I
Pasal 1
Nama, Identitas dan Kedudukan
Persyarikatan ini bernama MUHAMMADIYAH, adalah Gerakan Islam dan Dakwah Amar Makruf Nahi Mungkar, beraqidah Islam dan bersumber pada Al-Qur'an dan Sunnah.
Muhammadiyah didirikan di Yogyakarta pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 bertepatan dengan tanggal 18 Nopember 1912, berkedudukan di tempat kedudukan Pimpinan Pusatnya.
BAB II
Pasal 2
Asas
Persyarikatan ini berasas Pancasila.
Pasal 3
Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan Persyarikatan ialah menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama, adil dan makmur yang diridlai Allah Subhanahu wata'ala.
Pasal 4
Usaha
Untuk mencapai maksud dan tujuan pada pasal 3 Persyarikatan melaksanakan dakwah dan tajdid dengan usaha sebagai berikut.
Mempergiat dan memperdalam penyelidikan ilmu Agama Islam untuk mendapatkan kemurnian dan kebenarannya.
Memperteguh iman, menggembirakan dan memperkuat ibadah serta mempertinggi akhlak.
Memajukan dan memperbaharui pendidikan dan kebudayaan serta memperluas ilmu pengetahuan, teknologi dan penelitian menurut tuntunan Islam.
Mempergiat dan menggembirakan tabligh.
Menggembirakan dan membimbing masyarakat untuk membangun dan memelihara tempat ibadah dan wakaf.
Meningkatkan harkat dan martabat kaum wanita menurut tuntunan Islam.
Membina dan menggerakkan angkatan muda, sehingga menjadi manusia muslim yang berjasa bagi agama, nusa dan bangsa.
Membimbing masyarakat ke arah perbaikan kehidupan dan penghidupan ekonomi sesuai dengan ajaran Islam dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya.
Menggerakkan dan menghidup-suburkan amal tolong-menolong dalam kebajikan dan taqwa dalam bidang kesehatan, sosial, pembangunan masyarakat dan keluarga sejahtera.
Menanam kesadaran agar tuntunan dan peraturan Islam diamalkan dalam masyarakat.
Menumbuhkan dan meningkatkan kekeluargaan Muhammadiyah dan ukhuwwah Islamiyah.
Pemantapan kesatuan dan persatuan bangsa dan peran-serta dalam pembangunan nasional.
Usaha-usaha lain yang sesuai dengan maksud dan tujuan Persyarikatan.
BAB III
Pasal 5
Anggota
Anggota Persyarikatan ialah warganegara Indonesia beragama Islam, menyetujui dan bersedia mendukung maksud dan tujuan Persyarikatan.
Anggota mempunyai hak suara, memilih dan dipilih.
Peraturan keanggotaan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.
Pasal 6
Susunan Organisasi
Persyarikatan bergerak dalam wilayah Negara Republik Indonesia dan tersusun dalam tingkatan sebagai berikut.
RANTING,ialah kesatuan anggota dalam satu tempat.
CABANG, ialah kesatuan Ranting-Ranting dalam satu tempat.
DAERAH, ialah kesatuan Cabang-Cabang dalam daerah Tingkat II atau yang setingkat.
WILAYAH,ialah kesatuan Daerah-Daerah dalam Propinsi/Daerah Tingkat I
Pasal 7
Penetapan Organisasi
1. Wilayah, Daerah, Cabang dan Ranting, dengan ketentuan luas lingkungannya ditetapkan oleh Pimpinan Pusat.
2. Dalam hal-hal luar biasa Pimpinan Pusat dapat mengambil ketetapan lain.
BAB IV
Pasal 8
Pimpinan Pusat
Pimpinan Pusat adalah pimpinan tertinggi yang memimpin Persyarikatan seumumnya.
Pimpinan Pusat terdiri dari sekurang-kurangnya sembilan orang, dipilih dan ditetapkan oleh Muktamar untuk satu masa jabatan dari calon-calon yang diusulkan oleh Tanwir.
Ketua Pimpinan Pusat dipilih dan ditetapkan oleh Muktamar dari antara dan atas usul anggota Pimpinan Pusat terpilih.
Apabila dipandang perlu, Pimpinan Pusat dapat mengusulkan tambahan anggotanya kepada Tanwir.
Pimpinan Pusat mewakili Persyarikatan di dalam dan di luar pengadilan, dan dapat menunjuk sekurang-kurangnya dua orang anggotanya atau Pimpinan Persyarikatan setempat yang dapat diwakili oleh sebagian anggotanya, untuk bertindak atas nama Pimpinan Pusat.
Pasal 9
Pimpinan Wilayah
Pimpinan Wilayah memimpin Persyarikatan dalam wilayah serta melaksanakan pimpinan dari Pimpinan Pusat.
Pimpinan Wilayah terdiri dari sekurang-kurangnya sembilan orang, ditetapkan oleh Pimpinan Pusat untuk satu masa jabatan dari calon-calon yang dipilih dalam Musyawarah Wilayah.
Ketua Pimpinan Wilayah ditetapkan oleh Pimpinan Pusat dari antara tiga calon yang diusulkan oleh Musyawarah Wilayah, dari dan atas usul calon-calon anggauta Pimpinan WIlayah terpilih.
Ketua Pimpinan Wilayah karena jabatannya menjadi Wakil Pimpinan Pusat untuk wilayahnya.
Pimpinan Wilayah dapat mengusulkan tambahan anggotanya kepada Musyawarah Wilayah, yang kemudian dimintakan ketetapan Pimpinan Pusat.
Pasal 10
Pimpinan Daerah
Pimpinan Daerah memimpin Persyarikatan dalam daerahnya serta melaksanakan pimpinan dari Pimpinan di atasnya.
Pimpinan Daerah terdiri dari sekurang-kurangnya sembilan orang, ditetapkan oleh Pimpinan Pusat untuk satu masa jabatan dari calon-calon yang dipilih dalam Musyawarah Daerah.
Ketua Pimpinan Daerah ditetapkan oleh Pimpinan Pusat dari antara tiga calon yang diusulkan oleh Musyawarah Daerah, dari dan atas usul calon-calon anggota Pimpinan Daerah terpilih, dengan memperhatikan pertimbangan Pimpinan Wilayah yang bersangkutan.
Pimpinan Daerah dapat mengusulkan tambahan anggotanya kepada Musyawarah Daerah yang kemudian dimintakan ketetapan Pimpinan Pusat.
Pasal 11
Pimpinan Cabang
Pimpinan Cabang memimpin Persyarikatan dalam Cabangnya serta melaksanakan pimpinan dari Pimpinan di atasnya.
Pimpinan Cabang terdiri dari sekurang-kurangnya sembilan orang, ditetapkan oleh Pimpinan Wilayah untuk satu masa jabatan, dari calon-calon yang dipilih dalam Musyawarah Cabang.
Ketua Pimpinan Cabang ditetapkan oleh Pimpinan Wilayah dari antara tiga calon yang diusulkan oleh Musyawarah Cabang, dari dan atas usul calon-calon anggota Pimpinan Cabang terpilih, dengan memperhatikan pertimbangan Pimpinan Daerah yang bersangkutan.
Pimpinan Cabang dapat mengusulkan tambahan anggotanya kepada Musyawarah Cabang, kemudian dimintakan ketetapan Pimpinan Wilayah.
Pasal 12
Pimpinan Ranting
Pimpinan Ranting memimpin Persyarikatan dalam Rantingnya serta melaksanakan pimpinan dari Pimpinan di atasnya.
Pimpinan Ranting terdiri dari sekurang-kurangnya lima orang, ditetapkan oleh Pimpinan Daerah atas nama Pimpinan Wilayah untuk satu masa jabatan, dari calon-calon yang dipilih dalam Musyawarah Ranting.
Ketua Pimpinan Ranting ditetapkan oleh Pimpinan Daerah atas nama Pimpinan Wilayah, dari antara tiga calon yang diusulkan oleh Musyawarah Ranting, dari dan atas usul calon-calon anggota Pimpinan Ranting terpilih, dengan memperhatikan per- timbangan Pimpinan Cabang yang bersangkutan.
Pimpinan Ranting dapat mengusulkan tambahan anggotanya kepada Musyawarah Ranting, kemudian dimintakan ketetapan Pimpinan Daerah atas nama Pimpinan Wilayah.
Pasal 13
Pemilihan Pimpinan
Anggota Pimpinan terdiri dari anggota Persyarikatan.
Cara pemilihan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.
Pasal 14
Majelis dan Bagian
Pimpinan Pusat/Pimpinan Wilayah/Pimpinan Daerah membentuk Majelis-Majelis sebagai Badan Pembantu Pimpinan.
Pimpinan Cabang membentuk Bagian-Bagian sebagai Badan Pembantu untuk melaksanakan dan memelihara usaha-usaha Persyarikatan.
BAB V
Pasal 15
Organisasi Otonom
Persyarikatan dapat membentuk organisasi otonom yang seasas dan setujuan dengannya.
Organisasi otonom tersebut angka 1, dalam pengawasan dan bimbingan Persyarikatan.
Pembentukan dan pembubaran organisasi otonom ditetapkan dengan keputusan Pimpinan Pusat dan disahkan oleh Tanwir.
BAB VI
Pasal 16
Muktamar
Muktamar ialah permusyawaratan tertinggi dalam Persyarikatan, diadakan atas undangan Pimpinan Pusat, yang anggota-anggotanya terdiri dari:
Anggota Pimpinan Pusat
Ketua Pimpinan Wilayah
Anggota Tanwir wakil Wilayah
Ketua Pimpinan Daerah
Wakil-wakil Daerah yang dipilih oleh Musyawarah Daerah, terdiri dari wakil Cabang-Cabang atas dasar perimbangan jumlah Cabang dalam tiap-tiap Daerah.
Wakil organisasi otonom tingkat Pusat.
Muktamar diadakan tiap lima tahun sekali.
Apabila dipandang perlu oleh Pimpinan Pusat, atas keputusan Tanwir, dapat diadakan Muktamar luar biasa.
Pasal 17
Tanwir
Tanwir ialah permusyawaratan tertinggi dalam Persyarikatan di bawah Muktamar, diadakan atas undangan Pimpinan Pusat, yang anggotanya terdiri dari:
Anggota Pimpinan Pusat
Ketua Pimpinan WIlayah
Wakil Wilayah
Wakil pimpinan Organisasi Otonom tingkat Pusat.
Tanwir diadakan sekurang-kurangnya sekali setahun.
Pasal 18
Musyawarah Wilayah
Musyawarah Wilayah ialah permusyawaratan Persyarikatan dalam Wilayah, diadakan oleh Pimpinan Wilayah, yang anggotanya terdiri dari:
Anggota Pimpinan Wilayah.
Ketua Pimpinan Daerah.
Anggota Pimpinan Daerah yang jumlahnya ditentukan oleh Pimpinan Wilayah.
Wakil Cabang yang jumlahnya ditentukan oleh Pimpinan Wilayah.
Wakil Pimpinan Organisasi Otonom tingkat Wilayah.
Musyawarah Wilayah diadakan sekurang-kurangnya sekali setahun.
Pasal 19
Musyawarah Daerah
Musyawarah Daerah ialah permusyawaratan Persyarikatan dalam Daerah, diadakan oleh Pimpinan Daerah, yang anggotanya terdiri dari:
Anggota Pimpinan Daerah.
Ketua Pimpinan Cabang.
Anggota Pimpinan Cabang yang jumlahnya ditentukan oleh Pimpinan Daerah.
Wakil Pimpinan Organisasi Otonom tingkat Daerah.
Musyawarah Daerah diadakan sekurang-kurangnya sekali setahun.
Pasal 20
Musyawarah Cabang
Musyawarah Cabang ialah permusyawaratan dalam Cabang, diadakan oleh Pimpinan Cabang, yang anggotanya terdiri dari:
Anggota Pimpinan Cabang
Ketua P{impinan Ranting
Wakil Pimpinan Ranting yang jumlahnya ditentukan oleh Pimpinan Cabang.
Wakil Pimpinan Organisasi Otonom tingkat Cabang.
Musyawarah Cabang diadakan sekurang-kurangnya sekali setahun.
Pasal 21
Musyawarah Ranting
Musyawarah Ranting ialah permusyawaratan Persyarikatan dalam Ranting, diadakan oleh Pimpinan Ranting, yang anggotanya terdiri dari segenap anggota Persyarikatan dalam Ranting.
Musyawarah Ranting diadakan apabila diperlukan dan sekurang-kurangnya sekali dalam enam bulan.
Pasal 22
Keputusan
Keputusan-keputusan Musyawarah tersebut dalam pasal-pasal 16 sampai dengan 21, diambil dengan suara terbanyak mutlak.
Pasal 23
Peraturan Permusyawaratan
Peraturan permusyawaratan ditetapkan dalam Anggaran Rumah Tangga.
BAB VII
Pasal 24
Keuangan
Keuangan Persyarikatan diperoleh dari:
Uang Pangkal, Iyuran dan Sokongan;
Zakat, Derma dan Wasiat;
Hasil hak-milik dan Wakaf Persyarikatan;
Sumber-sumber lain yang halal.
BAB VIII
Pasal 25
Anggaran Rumah Tangga
Hal-hal yang tidak disebut dalam Anggaran Dasar, diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.
Anggaran Rumah Tangga dibuat oleh Pimpinan Pusat, dengan tidak menyalahi Anggaran Dasar, kemudian disahkan oleh Tanwir.
Pasal 26
Perubahan Anggaran Rumah Tangga
Dalam keadaan yang sangat memerlukan, Pimpinan Pusat dapat mengadakan perubahan dalam Anggaran Rumah Tangga, dan berlaku sampai Tanwir memutuskan lain.
BAB IX
Pasal 27
Pembubaran Persyarikatan
Pembubaran Persyarikatan hanya dapat dilakukan dengan keputusan Muktamar yang diundang untuk membicarakan pembubaran, dan dihadliri oleh sedikitnya tiga perempat dari jumlah anggota Muktamar, serta keputusannya diambil oleh sedikitnya tigaperempat anggota yang hadlir.
Sesudah Persyarikatan dinyatakan bubar, segala hak miliknya menjadi hak milik mashalihul-Islamiyah, yang ditentukan oleh Muktamar yang memutuskan pembubaran itu.
Pasal 28
Perubahan Anggaran Dasar
Anggaran Dasar dapat diubah oleh Muktamar dan perubahannya sah apabila diputuskan dengan suara sedikitnya dua pertiga dari jumlah anggota Muktamar yang hadlir, yang diundng untuk membicarakan acara tersebut.
BAB X
Pasal 29
Penutup
Anggaran Dasar ini menjadi pengganti Anggaran Dasar sebelumnya, dan telah disahkan oleh Muktamar ke 41 di Surakarta pada tanggal 11 Desember `985, dan mulai berlaku sejak disahkan.
24 Rabi'ulakhir 1406
Yogyakarta 05 Januari 1986
PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH
|
Ketua
KH. AR. Fahruddin |
Sekretaris
H. A. Rosyad Soleh |