Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah

Tahun 1987

 

 

ANGGARAN RUMAH TANGGA MUHAMMADIYAH

 

Pasal 1

TEMPAT KEDUDUKAN PIMPINAN PUSAT

 

  1. Tempat kedudukan Pimpinan Pusat ditetapkan oleh Rapat pertama Pimpinan Pusat sesudah ditetapkan oleh Muktamar, kemudian di-umumkan kepada anggota dan instansi-instansi yang bersangkut- an.

  2. Sebelum ada ketetapan baru sebagaimana dimaksud ayat (1) di atas, kedudukan Pimpinan Pusat tetap seperti yang berlaku.

 

Pasal 2

ANGGOTA

 

  1. Yang dapat diterima menjadi anggota ialah warganegara Indonesia, beragama Islam, laki-laki dan perempuan yang sudah ber- umur 18 tahun atau sudah kawin; menyetujui maksud dan tujuan Persyarikatan, bersedia mendukung dan melaksanakan usaha-usahanya, serta membayar uang pangkal yang besarnya ditentukan oleh Persyarikatan.

  2. a. Permintaan menjadi anggota diajukan secara terulis kepada Pimpinan Pusat dengan kelengkapan syarat-syaratnya melalui Pimpinan Ranting, untuk diteruskan kepada Pimpinan Cabang.

  1. Pimpinan Cabang meneruskan permintaan tersebut dengan disertai pertimbangan kepada Pimpinan Pusat.

c. Sebelum menerima tanda anggota dari Pimpinan Pusat, oleh Pimpinan Cabang calon anggota tersebut diberi tanda calon anggota yang bentuknya ditetapkan oleh Pimpinan Pusat.

  1. Pimpinan Pusat memberi "Tanda Anggota Muhammadiyah" kepada calon anggota yang telah disetujui melalui Pimpinan Cabang yang bersangkutan.

  2. Pimpinan Pusat dapat melimpahkan wewenang penerimaan permintaan menjadi anggota dan memberikan "Tanda Anggota Muhammadiyah" kepada Pimpinan Wilayah. Pelimpahan wewenang tersebut dan ketentuan pelaksanaannya diatur dengan Keputusan Pimpinan Pusat untuk masing-masing Wilayah yang dimaksudkan.

  3. Kewajiban Anggota:

  1. Taat menjalankan ajaran Islam.

  2. Setia kepada dan menjaga nama baik Persyarikatan serta perjuangannya.

  3. Berpegang teguh kepada Kepribadian serta Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah.

  4. Taat kepada peraturan Persyarikatan, keputusan-keputusan Musyawarah serta kepada kebijaksanaan Pimpinan Pusat.

  5. Mendukung dan mengindahkan kepentingan Persyarikatan serta melaksanakan gerak dan amal usahanya.

  6. Membayar iuran anggota, yang besarnya ditentukan oleh Pimpinan Pusat.

  7. Membayar infaq, yang pelaksanaannya diatur oleh Pimpinan Persyarikatan.

  1. Anggota berhak menyatakan pendapat, suara, memilih dan dipilih.

  2. Anggota berhenti karena:

  1. Meninggal dunia.

  2. Permintaan sendiri.

  3. Keputusan Pimpinan Pusat karena merusak nama baik Persyarikatan atau melanggar disiplin organisasi.

  1. a. Pimpinan Wilayah atas usul Pimpinan Cabang serta pertimbangan Pimpinan Daerah yang bersangkutan, dapat memberhentikan untuk sementara (skorsing) anggota yang melakukan perbuatan yang dianggap merugikan nama baik serta perjuang an Persyarikatan atau melanggar disiplin organisasi.

  1. Apabila ternyata terdapat bukti-bukti yang sah dan meyakinkan tentang kesalahan yang bersangkutan, dalam waktu paling lama 6 (enam) bulan, Pimpinan Wilayah yang bersangkutan harus mengajukan usul pemberhentian anggota termaksud kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

  2. Apabila tidak terdapat bukti-bukti yang sah dan meyakinkan tentang kesalahan yang dituduhkan kepada yang bersangkutan, atau dalam waktu paling lama 6 (enam) bulan termaksud di atas Pimpinan Wilayah tidak mengusulkan pemberhentian anggota tersebut kepada Pimpinan Pusat, maka pemberhentian sementara (skorsing) itu dicabut dan keanggotaan yang bersangkutan kembali sebagai semula.

  3. Anggota yang diberhentikan oleh Pimpinan Pusat berdasarkan usul Pimpinan Wilayah termaksud dalam ayat (8) butir b pasal ini, dapat mengajukan keberatannya dengan mengemukakan alasan serta bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan kepada Pimpinan Pusat.

  4. Pimpinan Pusat membentuk suatu panitia yang diserahi tugas mempelajari keberatan yang diajukan oleh anggota termaksud dan kemudian Pimpinan Pusat memberikan keputusannya setelah mendengar pertimbangan panitia.

  5. Keputusan pemberhentian sementara, pencabutan pemberhentian sementara dan pemberhentian seseorang anggota diumumkan dalam Berita Resmi Muhammadiyah.

 

Pasal 3

RANTING

 

  1. Ranting adalah tempat pembinaan anggota, didirikan oleh Pimpinan Pusat atas usul sekurang-kurangnya 15 (limabelas) orang anggota Persyarikatan di suatu tempat yang telah mempunyai kegiatan nyata guna mewujudkan maksud dan tujuan Per- syarikatan, sekurang-kurangnya berwujud:

  1. Pengajian/kursus anggota berkala, sekurang-kurangnya seka-li seminggu.

  2. Pengajian/kursus umum berkala, sekurang-kurangnya sekali sebulan.

  3. Musholla/surau/langgar sebagai pusat kegiatannya.

  4. Jama`ah-jama`ah.

  1. Pengesahan pendirian Ranting dan luas lingkungannya ditetapkan oleh Pimpinan Pusat, setelah mendengar pertimbangan Pimpinan Cabang dan Daerah yang bersangkutan dan dikuatkan oleh Pimpinan Wilayah yang bersangkutan.

  2. Pendirian suatu Ranting yang merupakan pemisahan dari Ranting yang telah ada, dilakukan dengan persetujuan Pimpinan Ranting yang bersangkutan atau atas putusan Msuyawarah Cabang yang bersangkutan.

  3. Pimpinan Pusat dapat melimpahkan wewenang pengesahan pendirian Ranting kepada Pimpinan Wilayah.

 

Pasal 4

CABANG

 

  1. Cabang adalah tempat pembinaan dan koordinasi Ranting serta penyelenggara amal usaha dan pendayagunaan anggota, didirikan oleh Pimpinan Pusat sekurang-kurangnya meliputi 3 (tiga) Ranting dan telah mempunyai amal usaha nyata guna mewujudkan maksud dan tujuan Persyarikatan, sekurang-kurangnya berwujud:

  1. Pengajian/kursus berkala untuk anggota-anggota Pimpinan Cabang dan Bagian-bagiannya, Pimpinan Pimpinan Ranting dalam Cabangnya serta Pimpinan Orgaanisasi Otonom tingkat Cabang, sekurang-kurangnya sekali setengah bulan.

  2. Pengajian/kursus mubbaligh/muballighat untuk seluruh muballigh/muballighat dalam lingkungan Cabangnya, sekurang-kurangnya sekali sebulan.

  3. Korp muballigh/muballighat sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) orang.

  4. Usaha-usaha pertolongan sekurang-kurangnya seperti pemeliharaan anak yatim.

  5. Sekolah Dasar/Madrasah Diniyah.

  6. Kantor.

  1. Pengesahan pendirian Cabang dan ketentuan luas lingkungannya ditetapkan oleh Pimpinan Pusat atas usul Ranting-ranting yang bersangkutan, dengan memperhatikan pertimbangan Pimpinan Daerah dan Pimpinan Wilayah yang bersangkutan.

  2. Pendirian suatu Cabang yang merupakan pemecahan Cabang yang telah ada, dilakukan dengan persetujuan Pimpinan Cabang yang bersangkutan atau atas usul Musyawarah Daerah yang bersangkutan.

  3. Piminan Pusat dapat melimpahkan wewenang pengesahan pendirian Cabang kepada Pimpinan Wilayah.

  4. Apabila dalam satu Kecamatan terdapat lebih dari satu Cabang, maka salah satu dari padanya dapat ditetapkan sebagai Cabang Koordinator, trutama dalam berhubungan dengan instansi Peme- rintah.

  5. Penunjukan sebagai Cabang Koordinator dilakukan oleh Pimpinan Daerah setelah mendengar pertimbangan Cabang-Cabang yang bersangkutan.

 

Pasal 5

DAERAH

 

  1. Daerah adalah tempat pembinaan dan koordinasi Cabang serta pembinaan administrasi dan penyelenggaraan amal usaha, didirikan oleh Pimpinan Pusat dalam Kabupaten atau yang setingkat, sekurang-kurangnya meliputi 3 (tiga) Cabang dan telah mempunyai amal usaha nyata guna mewujudkan maksud dan tujuan Persyarikatan, sekurang-kurangnya berwujud:

  1. Pengajian/kursus anggota Pimpinan Daerah dengan Majelis-Majelisnya serta Pimpinan-Pimpinan Organisasi Otonom ting- kat Daerah, sekurang-kurangnya sekali setengah bulan.

  2. Pengajian/kursus muballigh/muballighat tingkat Daerah se- kurang-kurangnya sekali sebulan.

  3. Korp muballigh/muballighat Daerah sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) orang.

  4. Kursus kader pimpinan.

  5. Sekolah/madrasah menengah/muballighin, baik yang diselenggarakan bersama ataupun oleh salah satu Cabang dalam Daerahnya.

  6. Usaha-usaha pertolongaan seperti rumah sakit, rawatan bersalin, pemeliharaan anak yatim dan sebagainya, baik yang diselenggarakan bersama ataupun oleh salah satu Cabang dalam Daerahnya.

  7. Majelis Tarjih Daerah.

  8. Kantor.

  1. Pengesahan pendirian Daerah ditetapkan oleh Pimpinan Pusat atas usul Cabang-Cabang yang bersangkutan dan dengan memperhatikan pertimbangan Pimpinan Wilayah yang bersangkutan.

 

Pasal 6

WILAYAH

 

Wilayah adalah pusat pembinaan dan koordinasi Persyarikatan serta amal usaha dalam wilayahnya, didirikan oleh Pimpinan Pusat d tingkat Propinsi atau yang setingkat, sekurang-kurangnya meliputi 3 (tiga) Daerah dan telah mempunyai amal usaha nyata guna mewujudkan maksud dan tujuan Persyarikatan dalam wilayahnya, sekurang-kurangnya berwujud:

  1. Pengajian/kursus anggota Pimpinan Wilayah dengan Majelis-Majelisnya serta Pimpinan Organisasi Otonom tingkat Wilayah sekurang-kurangnya sekali sebulan.

  2. Pengajian/kursus muballigh/muballighat tingkat Wilayah, sekurang-kurangnya sekali sebulan.

  3. Korp muballigh/muballighat sekurang-kurangnya 25 (duapuluh lima) orang.

  4. Kursus kader pimpinan tingkat Wilayah.

  5. Sekolah/madrasah menengah atas/tsanawiyah/wustha mu`allimin/ madrasah muballighin menengah, baik yang diselenggarakan bersama ataupun oleh salah satu Cabang/Daerah dalam wilayahnya.

  6. Usaha-usaha pertolongan seperti rumah sakit, rawatan bersalin, pemeliharaan anak yatim dan sebagainya, baik yang diselenggarakan bersama ataupun oleh salah satu Cabang/Daerah dalam wilayahnya.

  7. Majelis Tarjih Wilayah.

  8. Kantor.

 

Pasal 7

PIMPINAN PUSAT

 

  1. Pimpinan Pusat menentukan kebijaksanaan Persyarikatan berdasarkan keputusan Muktamar dan Tanwir, mentanfidzkan keputusan Muktamar/Tanwir, serta memimpinkan dan mengawasi pelaksanaannya.

  2. Untuk melaksanakan tugas kewajibannya, Pimpinan Pusat membuat pedoman dan pembagian tugas wewenang antara anggota Pimpinan Pusat.

  3. Untuk melaksanakan pimpinan sehari-hari, Pimpinan Pusat menetapkan Pimpinan Harian yang terdiri dari Ketua/seorang Wakil Ketua yang ditunjuk, Sekretaris, Bendahara dan beberapa anggota di antara anggota Pimpinan Pusat.

  4. Anggota Pimpinan Pusat atau sekurang-kurangnya anggota Pimpinan Hariannya berkedudukan di tempat kedudukan Pimpinan Pusat.

  5. Sambil menunggu keputusan/pengesahan Tanwir, calon tambahan anggota Pimpinan Pusat berhak menjalankan tugasnya atas tanggungjawab Pimpinan Pusat.

  6. Ketua Pimpinan Pusat yang karena sesuatu hal berhenti dalam tenggang-jabatan, oleh Pimpinan Pusat diusulkan calon penggantinya kepada Tanwir. Sambil menunggu ketetapan Tanwir, Ketua Pimpinan Pusat dijabat oleh salah seorang Wakil Ketua atas keputusan Pimpinan Pusat.

 

Pasal 8

PIMPINAN WILAYAH

 

1. a. Pimpinan Wilayah menentukan kebijaksanaan Persyarikatan dalam wilayahnya berdasarkan kebijaksanaan Pimpinan Pusat dan keputusan Musyawarah Wilayah, mentanfidzkan keputusan-keputusan Musyawarah Wilayah, memimpin dan mengawasi pelak sanaannya.

b. Memimpinkan dan mengawasi pelaksanaan pimpinan/instruksi Pimpinan Pusat dan Majelis-Majelisnya.

  1. Membimbing dan meningkatkan amal usaha dan kegiatan Daerah dalam wilayahnya.

  2. Membina, membimbing, mengintegrasi, dan mengkoordinasi Majelis-Majelis dan Organisasi-Organisasi Otonom tingkat Wilayah.

  1. Apabila terjadi lowongan Ketua Pimpinan Wilayah, pengisian penggantinya dilakukan menurut pasal 9 ayat (3) Anggaran Dasar.

  2. Sambil menunggu Musyawarah Daerah, Ketua Pimpinan Wilayah dijabat oleh salah seorang Wakil Ketua atas keputusan Pimpinan Pusat berdasarkan usul Pimpinan Wilayah yang bersangkutan.

  3. Apabila Ketua Pimpinan Wilayah tidak dapat menunaikan tugasnya sebagai anggotan Tanwir, Pimpinan Wilayah menunjuk salah seorang Wakil Ketua untuk ditetapkan sebagai penggantinya.

  4. Pimpinan Wilayah sedapat mungkin berkedudukan di ibukota propinsi. Apabila Pimpinan Wilayah tidak berkedudukan di ibu-kota propinsi, maka di ibukota tersebut dibentuk Perwakilan Pimpinan Wilayah yang tugas dan wewenangnya diatur oleh Pimpinan Wilayah.

  5. Anggota Pimpinan Wilayah atau sekurang-kurangnya anggota Pimpinan Hariannya berkedudukan di tempat kedudukan Pimpinan Wilayah.

  6. Sambil menunggu keputusan Musyawarah Wilayah dan ketetapan Pimpinan Pusat, calon tambahan anggota Pimpinan Wilayah berhak menjalankan tugasnya tas tanggungjawab Pimpinan Wilayah.

  7.  

Pasal 9

PIMPINAN DAERAH

 

  1. a. Pimpinan Daerah menentukan kebijaksanaan Persyarikatan da- lam Daerahnya berdasarkan kebijaksanaan Pimpinan di atasnya, dan keputusan Musyawarah Daerah; mentanfidzkan keputusan Musyawarah Daerah, memimpin dan mengawasi pelaksanaannya.

b. Memimpinkan dan mengawasi pelaksanaan pimpinan/instruksi Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah dan Majelis-Majelisnya.

c. Membimbing dan meningkatkan amal usaha dan kegiatan Cabang-Cabang dalam Daerahnya.

d. Membina, membimbing, mengintegrasi dan mengkoordinasi Maje lis-Majelis dan Organisasi Otonom tingkat Daerah.

2. Apabila terjadi lowongan Ketua Pimpinan Daerah, pengisian penggantinya dilakukan menurut pasal 10 ayat (3) Anggaran Dasar.

  1. Sambil menunggu Musyawarah Daerah, Ketua Pimpinan Daerah dijabat oleh salah seorang Wakil Ketua atas keputusan Pimpinan Pusat berdasarkan usul Pimpinan Daerah serta pertimbangan Pimpinan Wilayah yang bersangkutan.

  2. Anggota Pimpinan Daerah, sekurang-kurangnya anggota Pimpinan Hariannya, berkedudukan di tempat kedudukan Pimpinan Daerah.

  3. Sambil menunggu keputusan Musyawarah Daerah dan ketetapan Pimpinan Pusat, calon tambahan anggota Pimpinan Daerah berhak menjalankan tugasnya atas tanggungjawab Pimpinan Daerah.

  4.  

Pasal 10

PIMPINAN CABANG

 

  1. a. Pimpinan Cabang menentukan kebijaksanaan Persyarikatan dalam Cabangnya berdasarkan kebijaksanaan Pimpinan di atasnya, dan keputusan Musyawarah Cabang; mentanfidzkan keputusan Musyawarah Cabang, memimpin dan mengawasi pelaksanaannya.

b. Memimpin dan mengawasi pelaksanaan pimpinan/instruksi Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah dan Majelis-Majelisnya.

c. Membimbing dan meningkatkan amal usaha dan kegiatan Ranting-Ranting dalam Cabangnya.

  1. Membina, membimbing, mengintegrasi, dan mengkoordinasi Bagian-bagiannya, dan Organisasi-Organisasi Otonom tingkat Cabang.

  1. Apabila terjadi lowongan Ketua Pimpinan Cabang, pengisian penggantinya dilakukan menurut pasal 11 ayat (3) Anggaran Dasar.

  2. Sambil menunggu Musyawarah Cabang, Ketua Pimpinan Cabang dijabat oleh salah seorang Wakil Ketua atas keputusan Pimpinan Wilayah berdasarkan usul dari Pimpinan Cabang serta pertimbangan Pimpinan Daerah yang bersangkutan.

  3. Anggota Pimpinan Cabang, sekurang-kurangnya anggota Pimpinan Hariannya, berkedudukan di t4empat kedudukan Pimpinan Cabang.

  4. Sambil menunggu keputusan Musyawarah Cabang dan ketetapan Pimpinan Wilayah, calon tambahan anggota Pimpinan Cabang berhak menjalankan tugasnya atas tanggungjawab Pimpinan Cabang.

Pasal 11

PIMPINAN RANTING

 

  1. a. Pimpinan Ranting menentukan kebijaksanaan Persyarikatan dalam Rantingnya berdasarkan kebijaksanaan Pimpinan di atasnya, dan keputusan Musyawarah Ranting; mentanfidzkan keputusan Musyawarah Ranting, memimpin dan mengawasi pelaksanaannya.

b. Memimpin dan mengawasi pelaksanaan pimpinan/instruksi Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah, Pimpinan Cabang dan Majelis-Majelisnya.

  1. Membimbing anggota-anggota dan Jama`ah-jama`ah dalam amal kemasyarakatan dan hidup beragama, meningkatkan kesadaran berorganisasi dan beragama serta menyalurkan aktivitas dalam amal usaha Persyarikatan sesuai dengan bakat dan kemampuannya.

  2. Membina, membimbing, mengintegrasi, dan mengkoordinasi Organisasi Otonom tingkat Ranting.

  1. Apabila terjadi lowongan Ketua Pimpinan Ranting, pengisian penggantinya dilakukan menurut pasal 12 ayat (3) Anggaran Dasar.

  2. Sambil menunggu Musyawarah Ranting, Ketua Pimpinan Ranting dijabat oleh salah seorang Wakil Ketua atas keputusan Pimpinan Daerah berdasarkan usul dari Pimpinan Ranting serta pertimbangan Pimpinan Cabang yang bersangkutan.

  3. Sambil menunggu keputusan Musyawarah Ranting dan ketetapan Pimpinan Daerah, calon tambahan anggota Pimpinan Ranting berhak menjalankan tugasnya atas tanggungjawab Pimpinan Ranting.

Pasal 12

MASA JABATAN

 

  1. Masa jabatan Pimpinan Wilayah, Daerah, Cabang dan Ranting adalah sama dengan masa jabatan Pimpinan Pusat.

  2. Pimpinan Pusat dapat mengambil tindakan administratif terhadap Pimpinan Persyarikatan yang tindakannya dapat merugikan nama baik dan atau perjuangan Persyarikatan. Dalam keadaan yang demikian, sampai ada penyelesaian lebih lanjut dari Pimpinan Pusat, kewajiban dan tanggungjawab Persyarikatan tersebut beralih kepada Pimpinan Pusat, atau kepada Pimpinan yang ditunjuk olehnya (P.P.)

Pasal 13

PERGANTIAN PIMPINAN

 

  1. Pergantian Pimpinan Wilayah, Daerah, Cabang dengan segenap Majelis/Bagiannya, serta Pimpinan Ranting, disesuaikan dengan pergantian Pimpinan Pusat dan pelaksanaannya dilakukan setelah Muktamar.

  2. Pimpinan-pimpinan dalam Persyarikatan yang telah habis masa jabatannya, tetap menjalankan tugasnya sampai dilakukan serah-terima dengan pimpinan yang baru.

  3. Setiap pergantian Pimpinan Persyarikatan harus menjamin adanya peningkatan effisiensi dan penyegaran jalannya pimpinan dengan memasukkan tenaga kader.

Pasal 14

PEDOMAN KERJA

 

Untuk effisiensi jalannya pimpinan, Pimpinan Pusat membuat pedoman kerja bagi tiap Pimpinan Persyarikatan.

Pasal 15

PEMILIHAN PIMPINAN

 

  1. Syarat untuk dapat dicalonkan sebagai anggota Pimpinan Persyarikatan:

  1. telah menjadi anggota Persyarikatan sekurang-kurangnya satu tahun dan telah menjalankan ibadah/mengamalkan ajaran Islam;

  2. setia kepada prinsip-prinsip dasar perjuangan Muhammadiyah;

  3. ta`at kepada garis kebijaksanaan Pimpinan Pusat;

  4. mampu dan cakap menjalankan tugasnya;

  5. dapat menjadi tauladan yang utama dalam Persyarikatan;

  6. berpengalaman dalam Persyarikatan;

  7. tidak merangkap Pimpinan organisasi politik dan organisasi yang amal usahanya sama dengan Persyarikatan, kecuali dengan idzin Pimpinan Pusat;

  8. tidak merangkap jabatan dalam Pimpinan Persyarikatan baik vertikal maupun horisontal. Penyimpangan dari ketentuan tersebut diatas, harus atas idzin Pimpinan Persyarikatan setingkat di atasnya.

  1. Untuk pemilihan Pimpinan dibentuk Panitia Pemilihan:

  1. untuk Pimpinan Pusat, ditetapkan oleh Tanwir atas usul Pimpinan Pusat;

  2. untuk Pimpinan Wilayah, Daerah, Cabang dan Ranting, ditetapkan oleh masing-masing tingkat Pimpinan Persyarikatan dengan persetujuan Pimpinan Persyarikatan setingkat di atasnya.

  3. Panitia Pemilihan diangkat untuk sekali pemilihan.

 

  1. Pemilihan dapat dilakukan dengan secara langsung atau dengan formatir atas keputusan Musyawarah masing-masing.

  2. Pedoman, tata-tertib pemilihan dibuat oleh Pimpinan Pusat.

Pasal 16

MAJELIS DAN BAGIAN

 

  1. Pimpinan Majelis/Bagian dengan susunan jabatannya ditetapkan oleh Pimpinan Persyarikatan masing-masing, untuk paling lama selama masa jabatannya.

  2. Majelis/Bagian adalah penyelenggara kegiatan dan amal usaha sesuai kebijaksanaan Pimpinan Persyarikatan masing-masing tingkat dan bertanggungjawab kepadanya.

  3. Organisasi Majelis/Bagian diatur dengan Qa`idah yang dibuat oleh Pimpinan Pusat.

  4. Majelis/Bagian berkedudukan di tempat kedudukan Pimpinan Per- syarikatan, kecuali Pimpinan Persyarikatan memutuskan lain.

  5. Syarat bagi Pimpinan Majelis/Bagian adalah sama dengan syarat bagi Pimpinan Persyarikatan.

Pasal 17

 

Untuk menyelenggarakan suatu tugas khusus, Pimpinan Pusat dapat membentuk Badan Pembantu lainnya yang pengaturannya ditetapkan oleh Pimpinan Pusat.

Pasal 19

ORGANISASI OTONOM

 

  1. Pembentukan Organisasi Otonom ditetapkan oleh Tanwir atas usul Pimpinan Pusat.

  2. Organisasi Otonom diatur dengan Qa`idah yang dibuat oleh Pimpinan Pusat.

  3. Anggaran Dasar Organisasi Otonom disahkan oleh Pimpinan Pusat.

  4. Susunan tingkatan Organisasi Otonom diatur sesuai dengan susunan tingkatan organisasi Persyarikatan.

  5. Anggota Pimpinan Organisasi Otonom adalah anggota Persyarikatan kecuali yang belum memenuhi syarat usia.

  6. Bimbingan dan pengawasan masing-masing tingkat Organisasi Otonom dilakukan oleh masing-masing tingkat Pimpinan Persyarikatan.

  7. Pembubaran Organisasi Otonom ditetapkan oleh Tanwir atas usul Pimpinan Pusat. Sambil menunggu ketetapan Tanwir, Pimpinan Pusat dapat membekukan Organisasi Otonom yang bersangkutan.

Pasal 19

MUKTAMAR

 

  1. Muktamar diadakan atas undangan Pimpinan Pusat.

  2. Acara Muktamar:

  1. Laporan Pimpinan Pusat:

  1. Kebijaksanaan Pimpinan Pusat

  2. Organisasi

  3. Pelaksanaan keputusan Muktamar dan Tanwir

  4. Keuangan

  1. Pemilihan Pimpinan Pusat dan penetapan ketuanya.

  2. Masalah-masalah Persyarikatan yang bersifat umum.

  3. Usul-usul

  1. Pimpinan Pusat bertanggungjawab atas penyelenggaraan Muktamar.

  2. Ketentuan tentang pelaksanaan dan tata-tertib Muktamar diatur oleh Pimpinan Pusat.

  3. Isi dan susunan acara Muktamar ditetapkan oleh Pimpinan Pusat dengan memperhatikan pertimbangan Tanwir.

  4. Tiga bulan sebelum Muktamar, undangan, acara dan prasaran sudah dikirim kepada anggota-anggota Muktamar.

  5. Muktamar dihadiri oleh:

  1. Anggota Muktamar, yang terdiri dari:

  1. Anggota Pimpinan Pusat;

  2. Ketua Pimpinan Wilayah atau penggantinya yang sudah disahkan oleh Pimpinan Pusat;

  3. Anggota Tanwir wakil Wilayah;

  4. Ketua Pimpinan Daerah atau penggantinya yang sudah disahkan oleh Pimpinan Pusat;

  5. Wakil-wakil Daerah sekurang-kurangnya 2 orang dan sebanyak-banyaknya 6 orang, berdasar atas perimbangan jumlah Cabang dalam tiap-tiap Daerah terdiri dari Wakil Cabang-Cabang atas dasar keputusan Musyawarah Daerah. Ketentuan perimbangan ditetapkan oleh Pimpinan Pusat.

  6. Wakil Pimpinan Organisasi Otonom tingkat Pusat masing-masing 3 (tiga) orang, di antaranya 2 (dua) wakilnya dalam Tanwir.

  1. Wakil-wakil Majelis tingkat Pusat masing-masing 2 (dua) orang.

  2. Mereka yang diundang oleh Pimpinan Pusat.

  1. Setiap anggota Muktamar berhak satu suara.

  2. Muktamar dinyatakaan sah apabila dihadiri oleh anggota-anggotanya yang telah diundang secara sah oleh Pimpinan Pusat.

  3. Keputusan Muktamar mulai berlaku setelah ditanfidzkan oleh Pimpinan Pusat dan tetap berlaku sampai diubah atau dibatal- kan oleh Muktamar yang kemudian.

  4. Selambat-lambatnya dua bulan sesuadah Muktamar, Pimpinan Pusat harus sudah mentanfidzkan keputusan-keputusannya.

  5. Pada waktu berlangsungnya Muktamar, dapat diselenggarakan pertemuan-pertemuan dan gerakan-gerakan yang tidak menyalahi maksud dan tujuan Persyarikatan serta tidak mengganggu ketertiban jalannya Muktamar.

Pasal 20

MUKTAMAR LUAR BIASA

 

  1. Muktamar Luarbiasa diadakan untuk membicarakan masalah yang mendesak, yang Tanwir tidak berwenang memutuskan dan tidak dapat ditangguhkan sampai berlangsungnya Muktamar.

  2. Undangan dan acara Muktamar Luarbiasa selambat-lambatnya sebulan sebelumnya harus sudah disampaikan kepada anggota-anggota Muktamar dengan cara yang secepat-cepatnya.

  3. Ketentuan-ketentuan Pasal 19 berlaku bagi penyelenggaraan Muktamar Luarbiasa, kecuali:

  1. Undangan dan seterusnya.

  2. Anggota Muktamar Wakil Daerah ditetapkan oleh Pimpinan Daerah.

Pasal 21

TANWIR

 

  1. Tanwir diadakan atas undangan Pimpinan Pusat, atau atas permintaan sekurang-kurangnya seperempat dari jumlah anggota Tanwir di luar anggota Pimpinan Pusat.

  2. Acara Tanwir:

  1. Laporan Pimpinan Pusat.

  2. Masalah-masalah mendesak yang tidak dapat ditangguhkan sampai berlangsungnya Muktamar.

  3. Masalah-masalah yang oleh Muktamar atau menurut Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga diserahkan kepada Tanwir.

  4. Masalah-masalah yang akan diajukan dalam Muktamar, sebagai pembicaraan pendahuluan.

  5. Usul-usul.

  1. Isi dan susunan acara Tanwir ditetapkan oleh Pimpinan Pusat.

  2. Pimpinan Pusat bertanggungjawab atas penyelenggaraan Tanwir.

  3. Ketentuan tentang pelaksanaan dan tatatertib Tanwir ditetapkan oleh Pimpinan Pusat.

  4. Undangan Tanwir beserta acara dan prasarannya selambat-lambatnya sebulan sebelum berlangsungnya Tanwir sudah dikirim kepada Anggota Tanwir.

  5. Tanwir dihadiri oleh:

  1. Anggota Tanwir, terdiri dari:

  1. Anggota Pimpinan Pusat.

  2. Ketua Pimpinan Wilayah atau penggantinya yang sudah disahkan oleh Pimpinan Pusat.

  3. Wakil-wakil Wilayah, masing-masing 3 (tiga) orang yang dicalonkan oleh Musyawarah Wilayah dari anggota Pimpinan Persyarikatan dalam Wilayah yang bersangkutan.

  4. Wakil Pimpinan Organisasi Otonom tingkat Pusat, masing-masing 2 (dua) orang.

  1. (Masa jabatan Anggota Tanwir sama dengan masa jabatan Pimpinan Persyarikatan).

  1. Wakil-wakil Majelis tingkat Pusat masing-masing 2 (dua) orang.

  2. Mereka yang diundang oleh Pimpinan Pusat.

  1. Setiap Anggota Tanwir berhak satu suara.

  2. Tanwir dinyatakan sah apabila dihadiri oleh anggota-anggotanya yang telah diundang secara sah oleh Pimpinan Pusat.

  3. Keputusan Tanwir mulai berlaku setelah ditanfidzkan oleh Pimpinan Pusat dan tetap berlaku sampai diubah atau dibatalkan oleh Tanwir atau Muktamar yang kemudian.

  4. Selambat-lambatnya sebulan setelah Tanwir selesai, Pimpinan Pusat harus sudah mentanfidzkan keputusannya.

Pasal 22

MUSYAWARAH WILAYAH

 

  1. Musyawarah Wilayah diadakan atas undangan Pimpinan Wilayah.

  2. Acara Musyawarah Wilayah terdiri antara lain:

  1. Laporan Pimpinan Wilayah tentang:

  1. Kebijaksanaan Pimpinan.

  2. Organisasi

  3. Pelaksanaan keputusan-keputusan Muktamar, Tanwir, Instruksi Pimpinan Pusat dan pelaksanaan keputusan Musyawarah Wilayah.

  4. Keuangan

  1. Pemilihan Pimpinan Wilayah dan calon-calon Ketua Wilayah pada setiap habis masa jabatan.

  2. Pemilihan Anggota Tanwir Wakil Wilayah untuk satu masa jabatan.

  3. Masalah-masalah Persyarikatan dalam Wilayah.

  4. Usul-usul.

  1. Pimpinan Wilayah bertanggungjawab atas penyelenggaraan Musyawarah Wilayah.

  2. Tata-tertib Musyawarah Wilayah diatur oleh Pimpinan Wilayah dan disahkan oleh Musyawarah Wilayah.

  3. Acara Musyawarah Wilayah ditetapkan oleh Pimpinan Wilayah. Pimpinan Pusat berhak mengubah acara tersebut.

  4. Sebulan sebelum berlangsungnya Musyawarah Wilayah, undangan, acara dan prasaran sudah dikirim kepada anggota Musyawarah Wilayah dan Pimpinan Pusat.

  5. Musyawarah Wilayah dihadiri oleh:

  1. Anggota Musyawarah Wilayah, terdiri dari:

  1. Anggota Pimpinan Wilayah, yang telah disahkan oleh Pimpinan Pusat.

  2. Ketua Pimpinan Daerah-Daerah.

  3. Anggota Pimpinan-Pimpinan Daerah, yang jumlahnya di- tetapkan oleh Pimpinan Wilayah.

  4. Wakil-wakil Cabang, yang jumlahnya ditetapkan oleh Pimpinan Wilayah berdasarkan atas perimbangan jumlah Ranting pada tiap-tiap Cabang.

  5. Wakil Pimpinan Organisasi Otonom tingkat Wilayah, masing-masing 2 (dua) orang.

  1. Wakil Majelis-Majelis tingkat Wilayah, masing-masing 2 (dua) orang.

  2. Mereka yang diundang oleh Pimpinan Wilayah.

  1. Setiap anggota Musyawarah Wilayah berhak satu suara.

  2. Musyawarah Wilayah dinyatakan sah apabila dihadiri oleh anggota-anggotanya yang telah diundang secara sah oleh Pimpinan Wilayah.

  3. Keputusan Musyawarah Wilayah mulai berlaku setelah ditanfidzkan oleh Pimpinan Wilayah dan tetap berlaku sampai diubah atau dibatalkan oleh Musyawarah Wilayah yang kemudian, dibatalkan oleh Pimpinan Pusat, dan batal dengan sendirinya bila bertentangan dengan keputusan Musyawarah/Pimpinan di atasnya.

  4. Selambat-lambatnya dua minggu setelah Musyawarah Wilayah selesai, Pimpinan Wilayah harus sudah melaporkan keputusan-keputusannya kepada Pimpinan Pusat. Apabila dalam waktu satu bulan sesudah diterimanya laporan tidak ada penelitian dari Pimpinan Pusat, maka keputusan tersebut dianggap sudah disahkan.

  5. Pada waktu berlangsungnya Musyawarah Wilayah, dapat diadakan pertemuan-pertemuan dan gerakan-gerakan yang tidak menyalahi maksud dan tujuan Persyarikatan serta tidak mengganggu ketertiban jalannya Musyawarah.

Pasal 23

MUSYAWARAH DAERAH

 

  1. Musyawarah Daerah diadakan atas undangan Pimpinan Daerah.

  2. Acara Musyawarah Daerah:

  1. Laporan Pimpinan Daerah tentang:

  1. Kebijaksanaan Pimpinan.

  2. Organisasi

  3. Pelaksanaan keputusan-keputusan Musyawarah/Pimpinan di atasnya dan pelaksanaan keputusan Musyawarah Daerah.

  4. Keuangan

  1. Pemilihan Pimpinan Daerah dan calon-calon Ketua Daerah pada setiap habis masa jabatan.

  2. Masalah-masalah Persyarikatan dalam Daerah.

  3. Usul-usul.

  1. Pimpinan Daerah bertanggungjawab atas penyelenggaraan Musyawarah Daerah.

  2. Tata-tertib Musyawarah Daerah diatur oleh Pimpinan Daerah dan disahkan oleh Musyawarah Daerah.

  3. Acara Musyawarah Daerah ditetapkan oleh Pimpinan Daerah. Pimpinan Pusat dan Pimpinan Wilayah berhak mengubah acara tersebut.

  4. Sebulan sebelum berlangsungnya Musyawarah Daerah, undangan, acara dan prasaran sudah dikirim kepada anggota Musyawarah dan Pimpinan Wilayah yang bersangkutan.

  5. Musyawarah Daerah dihadiri oleh:

  1. Anggota Musyawarah Daerah, terdiri dari:

  1. Anggota Pimpinan Daerah, yang telah disahkan oleh Pimpinan Pusat.

  2. Ketua Pimpinan Cabang-Cabang.

  3. Anggota Pimpinan Cabang, yang jumlahnya ditetapkan oleh Pimpinan Daerah berdasarkan perimbangan jumlah Ranting dalam tiap-tiap Cabang.

  4. Wakil-wakil Ranting, yang jumlahnya ditetapkan oleh Pimpinan Daerah berdasarkan jumlah anggota dalam tiap-tiap Ranting.

  5. Wakil Pimpinan Organisasi Otonom tingkat Daerah, masing-masing 2 (dua) orang.

  1. Wakil Majelis-Majelis tingkat Daerah, masing-masing 2 (dua) orang.

  2. Mereka yang diundang oleh Pimpinan Daerah.

  1. Setiap anggota Musyawarah Daerah berhak satu suara.

  2. Musyawarah Daerah dinyatakan sah apabila dihadiri oleh anggota-anggotanya yang telah diundang secara sah oleh Pimpinan Daerah.

  3. Keputusan Musyawarah Daerah mulai berlaku setelah ditanfidzkan oleh Pimpinan Daerah dan tetap berlaku sampai diubah atau dibatalkan oleh Musyawarah Daerah yang kemudian, dibatalkan oleh Pimpinan di atasnya, dan menjadi batal dengan sendirinya bila bertentangan dengan keputusan Musyawarah/Pimpinan di atasnya.

  4. Selambat-lambatnya seminggu setelah Musyawarah Daerah selesai, Pimpinan Daerah harus sudah melaporkan keputusannya kepada Pimpinan Pusat dan Pimpinan Wilayah yang bersangkutan. Apabila dalam waktu satu bulan sesudah diterimanya laporan tidak ada penelitian dari Pimpinan Pusat, maka keputusan tersebut dianggap sudah disahkan.

  5. Pada waktu berlangsungnya Musyawarah Daerah, dapat diadakan pertemuan-pertemuan dan gerakan-gerakan yang tidak menyalahi maksud dan tujuan Persyarikatan serta tidak mengganggu ketertiban jalannya Musyawarah.

Pasal 24

MUSYAWARAH CABANG

 

  1. Musyawarah Cabang diadakan atas undangan Pimpinan Cabang.

  2. Acara Musyawarah Cabang:

  1. Laporan Pimpinan Cabang tentang:

  1. Kebijaksanaan Pimpinan.

  2. Organisasi

  3. Pelaksanaan keputusan-keputusan Musyawarah/Pimpinan di atasnya dan pelaksanaan keputusan Musyawarah Cabang.

  4. Keuangan

  1. Pemilihan Pimpinan Cabang dan calon-calon Ketua Cabang pada setiap habis masa jabatan.

  2. Masalah-masalah Persyarikatan dalam Cabang.

  3. Usul-usul.

  1. Pimpinan Cabang bertanggungjawab atas penyelenggaraan Musyawarah Cabang.

  2. Tata-tertib Musyawarah Cabang diatur oleh Pimpinan Cabang dan disahkan oleh Musyawarah Cabang.

  3. Acara Musyawarah Cabang ditetapkan oleh Pimpinan Cabang. Pimpinan Daerah berhak mengubah acara tersebut.

  4. Selambat-lambatnya 15 hari sebelum Musyawarah Cabang berlangsaung, undangan dan acaranya sudah dikirim kepada anggota Musyawarah dan Pimpinan Daerah yang bersangkutan.

  5. Musyawarah Cabang dihadiri oleh:

  1. Anggota Musyawarah Cabang, terdiri dari:

  1. Anggota Pimpinan Cabang, yang telah disahkan oleh Pimpinan Wilayah yang bersangkutan.

  2. Ketua Ranting-Ranting.

  3. Anggota Pimpinan Ranting, yang jumlahnya ditetapkan oleh Pimpinan Cabang berdasarkan perimbangan jumlah amnggota pada tiap-tiap Ranting.

  4. Wakil Pimpinan Organisasi Otonom tingkat Cabang, masing-masing 2 (dua) orang.

  1. Wakil-wakil Bagian Cabang.

  2. Mereka yang diundang oleh Pimpinan Cabang.

  1. Setiap anggota Musyawarah Cabang berhak satu suara.

  2. Musyawarah Cabang dinyatakan sah apabila dihadiri oleh anggota-anggotanya yang telah diundang secara sah oleh Pimpinan Cabang.

  3. Keputusan Musyawarah Cabang mulai berlaku setelah ditanfidzkan oleh Pimpinan Cabang dan tetap berlaku sampai diubah atau dibatalkan oleh Musyawarah Cabang yang kemudian, dibatalkan oleh Pimpinan di atasnya, dan batal dengan sendirinya bila bertentangan dengan keputusan Musyawarah/Pimpinan di atasnya.

  4. Selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah Musyawarah Cabang selesai, Pimpinan Cabang harus sudah melaporkan keputusannya kepada Pimpinan Daerah dan Pimpinan Wilayah. Apabila dalam waktu 15 (limabelas) hari sesudah diterimanya laporan tidak ada penelitian dari Pimpinan Wilayah, maka keputusan tersebut dianggap sudah disahkan.

  5. Pada waktu berlangsungnya Musyawarah Cabang, dapat diadakan pertemuan-pertemuan yang tidak menyalahi maksud dan tujuan Persyarikatan serta tidak mengganggu jalannya Musyawarah.

Pasal 25

MUSYAWARAH RANTING

 

  1. Musyawarah Ranting diadakan atas undangan Pimpinan Ranting.

  2. Acara Musyawarah Ranting:

  1. Laporan Pimpinan Ranting tentang:

  1. Kebijaksanaan Pimpinan.

  2. Organisasi

  3. Pelaksanaan keputusan-keputusan Musyawarah/Pimpinan di atasnya dan pelaksanaan keputusan Musyawarah Ranting.

  4. Keuangan

  1. Pemilihan Pimpinan Ranting dan calon-calon Ketua Ranting pada setiap habis masa jabatan.

  2. Masalah-masalah Persyarikatan dalam Ranting.

  3. Usul-usul.

  1. Pimpinan Ranting bertanggungjawab atas penyelenggaraan Musyawarah Ranting.

  2. Tata-tertib Musyawarah Ranting diatur oleh Pimpinan Ranting dan disahkan oleh Musyawarah Ranting.

  3. Acara Musyawarah Ranting ditetapkan oleh Pimpinan Ranting. Pimpinan Cabang berhak mengubah acara tersebut.

  4. Selambat-lambatnya 3 (tiga) hari sebelum berlangsungnya Mu- syawarah Ranting, undangan dan acaranya sudah dikirim kepada anggota Musyawarah dan Pimpinan Cabang yang bersangkutan.

  5. Setiap anggota Musyawarah berhak satu suara.

  6. Musyawarah Ranting dinyatakan sah apabila dihadiri oleh anggota-anggotanya yang telah diundang secara sah oleh Pimpinan Ranting.

  7. Keputusan Musyawarah Ranting mulai berlaku setelah ditanfidzkan oleh Pimpinan Ranting dan tetap berlaku sampai diubah atau dibatalkan oleh Musyawarah Ranting yang kemudian, dibatalkan oleh Pimpinan di atasnya, dan batal dengan sendirinya bila bertentangan dengan keputusan Musyawarah/Pimpinan di atasnya.

  8. Selambat-lambatnya 5 (lima) hari setelah Musyawarah Ranting selesai, Pimpinan Ranting harus sudah melaporkan keputusannya kepada Pimpinan Cabang dan Pimpinan Daerah. Apabila dalam waktu 15 (limabelas) hari sesudah diterimanya laporan tidak ada penelitian dari Pimpinan Daerah, maka keputusan tersebut dianggap sudah disahkan.

Pasal 26

RAPAT KERJA PIMPINAN

 

  1. Sewaktu-waktu dapat diadakan Rapat Kerja Pimpinan pada tingkat Pusat, Wilayah, Daerah, dan Cabang, yang anggotanya:

  1. Tingkat Pusat, terdiri dari:

  2. Anggota Pimpinan Pusat, Ketua-ketua Wilayah, Ketua-ketua Majelis tingkat Pusat, Ketua-ketua Organisasi Otonom tingkat Pusat.

  3. Tingkat Wilayah, terdiri dari:

  4. Anggota Pimpinan Wilayah, Ketua-ketua Daerah, Ketua-ketua Majelis tingkat Wilayah, Ketua-ketua Organisasi Otonom tingkat Wilayah.

  5. Tingkat Daerah, terdiri dari:

  6. Anggota Pimpinan Daerah, Ketua-ketua Cabang, Ketua-ketua majelis tingkat Daerah, Ketua-ketua Organisasi Otonom tingkat Daerah.

  7. Tingkat Cabang, terdiri dari:

Anggota Pimpinan Cabang, Ketua-ketua Ranting, Ketua-ketua Bagian, Ketua-ketua Organisasi Otonom tingkat Cabang.

  1. Rapat Kerja Pimpinan diadakan atas undangan Pimpinan Persyarikatan masing-masing tingkat.

  2. Rapat Kerja Pimpinan membicarakan segala sesuatu yang menyangkut jalannya pimpinan masing-masing tingkat.

  3. Keputusan Rapat Kerja Pimpinan mulai berlaku setelah ditanfidzkan oleh Pimpinan Persyarikatan yang bersangkutan.

Pasal 27

RAPAT KERJA MAJELIS

 

  1. Majelis mengadakan Rapat Kerja atas persetujuan Pimpinan Persyarikatan yang bersangkutan.

  2. Acara Rapat Kerja Majelis ditetapkan oleh Majelis yang bersangkutan bersama-sama dengan Pimpinan Persyarikatan masing-masing.

  3. Rapat Kerja membicarakan pelaksanaan keputusan-keputusan Musyawarah Pimpinan di atasnya yang menyangkut bidang pekerjaannya, serta masalah-masalah yang berhubungan dengan kesempurnaan tugas pekerjaannya.

  4. Keputusan Rapat Kerja Majelis berlaku setelah disahkan oleh Pimpinan Persyarikatan masing-masing dan ditanfidzkan oleh Majelis yang bersangkutan.

  5. Selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah Rapat Kerja selesai, Pimpinan Rapat Kerja harus sudah menyampaikan keputusannya kepada Pimpinan Persyarikatan masing-masing. Apabila sesudah satu bulan setelah diterimanya laporan tersebut tidak ada penelitian, maka keputusan tersebut dianggap sudah disahkan.

  6. Anggota Rapat Kerja dan tata-tertib Rapat Kerja diatur dalam Qa`idah majelis.

Pasal 28

KEPUTUSAN MUSYAWARAH

 

  1. Keputusan musyawarah-musyawarah diusahakan diambil dengan suara bulat.

  2. Apabila dilakukan dengan pemungutan suara, keputusan diambil dengan suara terbanyak mutlak, yaitu separuh lebih satu dari jumlah yang berhak suara.

  3. Pemungutan suara atas seseorang atau masalah yang penting, dilakukan dengan tertulis dan rahasia.

  4. Apabila dalam suatu penungutan suara terdapat jumlah suara yang sama banyaknya, pemungutan suara dapat diulangi dengan memberi kesempatan kepada masing-masing pihak untuk menambah penjelasan. Apabila tiga kali pemungutan suara hasilnya sama atau tidak memenuhi syarat untuk mengambil keputusan, maka pembicaraan dihentikan tanpa sesuatu keputusan.

Pasal 29

LAPORAN TAHUNAN

 

  1. Pimpinan Persyarikatan masing-masing tingkat berkewajiban membuat laporan tahunan tentang jalan dan keadaan Persyarikatan, yang meliputi bidang organisasi, gerakan, amal usaha, keuangan dan kehartabendaan, termasuk pula laporan majelis-Majelis/Bagian-Bagian dan disampaikan kepada Pimpinan di atas nya.

  2. Pimpinan Pusat membuat Laporan Tahunan Persyarikatan dan diumumkan melalui Berita Resmi Persyarikatan.

Pasal 30

PENGAWASAN

 

Pengawasan atas pelaksanaan program, keputusan/kebijaksanaan Persyarikatan dan pengelolaan keuangan dilakukan secara terus-menerus oleh petugas dan atau oleh badan yang ditetapkan oleh Pimpinan Persyarikatan.

Pasal 31

KEUANGAN

 

  1. Keperluan umum Persyarikatan dibeayai bersama oleh Cabang-Cabang yang jumlahnya ditetapkan oleh Tanwir atau Muktamar.

  2. Keperluan setempat dibeayai oleh masing-masing yang bersangkutan menurut keputusan musyawarahnya masing-masing.

  3. Perorangan, badan-badan, organisasi-organisasi dan sebagainya dapat menjadi donatir Persyarikatan.

  4. Setiap tahun Pimpinan Persyarikatan menyampaikan laporan dan pertanggungjawaban keuangan serta hak milik berikut dengan laporan dan pertanggungjawaban keuangan dari Majelis/Bagian disertai dengan hasil pemeriksaan oleh petugas dan atau badan pengawasan dimaksud dalam Pasal 30 kepada Musyawarah masing-masing tingkat.

  5. Musyawarah masing-masing tingkat dfapat membentuk Panitia Pemeriksa Keuangan (team verifikasi) untuk memeriksa keabsahan pertanggungjawaban keuangan serta hak-milik sebagai dimaksud ayat (4) di atas.

Pasal 32

PERATURAN PERALIHAN

 

Ketentuan tersebut dalam Pasal 15 angka 1 huruf h, secara efektif baru berlaku mulai pada Pemilihan Pimpinan untuk periode 1990-1995 dan atau dalam hal terjadi pergantian Pimpinan dalam tenggang waktu masa jabatan 1985-1990.

Pasal 33

KETENTUAN LAIN-LAIN

 

  1. Persyarikatan menggunakan Tahun Takwim dimulai tanggal 1 Januari dan berakhir 31 Desember.

  2. Surat-surat resmi mempergunakan tanggal dan tahun Qomariyah atau Hijriyah di samping tanggal dan tahun Syamsiyah atau Miladiyah.

  3. a. Surat-menyurat resmi Persyarikatan ditandatangani oleh Ketua/Wakil Ketua bersama Sekretaris; yang mengenai masalah keuangan ditandatangani oleh Ketua/Wakil Ketua bersama Bendahara.

  1. Surat-surat yang bersifat rutin dapat ditandatangani oleh Sekretaris.

  1. Anggaran Rumah Tangga ini telah disahkan oleh Sidang Tanwir tahun 1987 pada tanggal 10-13 Desember 1987 di Yogyakarta, dan dinyatakan berlaku mulai tanggal tersebut sebagai pengganti Anggaran Rumah Tangga yang terdahulu.

 

26 J. Awal 1408

Yogyakarta 18 Januari 1988

PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH

Ketua

 

KH. AR. Fahruddin

Sekretaris

 

H. A. Rosyad Soleh