|
Bacaan
Shalat Mas Mansur
KH
Mas Mansur,
sapu kawat Jawa Timur, adalah orang
yang sejak muda selalu istiqamah pada
tujuan, tidak gampang goyak oleh
cobaan dan kesulitan. Pada usia 12
tahun beliau sudah belajar ke Mekkah
untuk memperdalam ilmu agama. Tetapi
baru dua tahun, pemerintah Saudi tahun
1910 mengeluarkan intruksi semua orang
asing harus meninggalkan Mekkah agar
tidak terlibat sengketa politik yang
melanda Saudi saat itu. Maka Mas
Mansur diperintahkan pulang oleh
ayahnya.
KH Ahmad Marzuki, ayah Mas Mansur
kecewa setelah membaca surat balasan
Mas Mansur, karena dia tidak mau
pulang melainkan pergi ke Al-Azhar
Mesir memperdalam ilmu. Ayahnya tidak
setuju karena menganggap Kairo kota
tempat maksiat, bukan tempat belajar
yang tepat. Ayahnya tidak mau
mengirimi biaya hidup dan biaya
sekolah.
Mas Mansur tetap ke Mesir. Maka dia
hidup sangat menderita. Dia mau
bekerja kasar untuk biaya hidupnya.
Setiap sore ia memberi satu ceret teh
kepada Syeh yang mengajarnya sebagai
ganti biaya studi. Setahun berikutnya
pamannya yang haji mampir
menjenguknya. Barulah diketahui bahwa
Mas Mansur memang benar-benar studi,
tidak bersenang-senang. Ayahnya
kemudian luluh dan mengirimi bekal
lagi.
Tentang kecerdasan, kedalaman ilmu dan
keluasan wawasan Mas Mansur kita semua
sudah tahu. Bung Karno dan Roeslan
Abdulgani kagum padanya. DrSoetomo
menangis haru mendengarkan uraiannya
tentang tasawuf yang begitu luas. Buya
Hamka mengaku setiap kali mendengar
Mas Mansur berbicara, secara otomatis
tangannya mencari pena dan kertas.
Sudah pasti banyak mutiara
penting yang perlu dicatat, sangat
sayang kalau dilewatkan begitu saja.
Masih banyak hal lain yang istimewa
dari Mas Mansur. Salah satu yang
menarik dan belum banyak diketahui
orang adalah bacaan beliau ketika
menjadi imam shalat.
Subagio IN, seorang wartawan senior
menuliskan pengalamannya menjadi
makmum ketika KH Mas Mansur menjadi
imam shalat Jumat. Dalam buku: “KH
Mas Mansur, Pembaharu Islam di
Indonesia” yang ditulisnya,
Subagijo mengaku: “Tidak mungkin saya
dapat melupakan hari itu”. Subagijo
sedang shalat Jumat di sekolah
Muallimin Muhammadiyah Yogya pada
1940-an. Imam dan khatibnya ketua PP
Muhammadiyah KH Mas Mansur. Tempat
shalat sudah penuh. Dia dan banyak
orang lain yang tidak kebagian tempat
harus shalat dan mendengarkan khutbah
di luar di bawah terik sinar matahari
yang menyengat kulit.
“Pada waktu Mas Mansur membaca surat
al-Fatihah, tanpa saya sadari air mata
saya mulai meleleh di pipi. Saya terus
menangis tersedu-sedu. Suaranya
mengalun, sungguh menyentuh perasaan,
menusuk jantung rongga dada. Saya
menangis terisak-isak. Terisak-isak.
Padahal waktu itu matahari sedang
panas memancar...”
Berhari-hari peristiwa itu terbawa
perasaan Subagijo. “Peristiwanya
sungguh mengesankan. Mengesankan
sekali”, tuturnya. Hatinya terus
bertanya mengapa bacaan shalat dapat
demikian menyentuh hati padahal di
bawah terik matahari? Suatu hari
ketika pulang kampung dia ceritakan
kepada ayahnya. Menurut ayahnya, itu
terjadi karena pembacanya hatinya
bersih. Kalam Ilahi jika dibaca oleh
orang yang hatinya bersih bisa
memantulkan kekuatan dan kedamaian
bagi pendengarnya. Apalagi jika yang
mendengar khusyu’ pula.
“Keluhuran budi dan kebersihan hati
Mas Mansur tidak diragukan lagi. Tiap
orang entah pelajar, orang pergerakan,
pejabat maupun orang awam tahu itu”
kata Subagijo. Mas Mansur seorang
pemimpin tidak ambisius, seorang yang
polos, alim, organisator dari
pesantren yang mampu bergerak di
kalangan terpelajar, katanya lagi.
Manangis ketika dalam shalat merupakan
kenikmatan yang sangat indah. Ketika
airmata membasahi pipi, saat itu pula
kenikmatan membasahi hati. Bacaan imam
yang bagus salah satu sumber
kenikmatan shalat. Di Masjdil Haram
dan masjid Nabawi kita sering
terhanyut oleh bacaan imam dengan
suara merdu lewat pengeras suara yang
bening. Berdiri lama tidak terasa
capek dan sering tiba-tiba air mata
sudah meleleh.
***
Bagaimana dengan masjid-masjid
Muhammadiyah? Harus jujur kita akui
kadang masih ada satu dua atau lebih
masjid kita yang bacaan imamnya belum
bagus, masih “bermasalah”, termasuk
soal pengeras suara dan muadzin. Adzan
yang berfungsi sebagai penggilan
shalat terdengar seperti dengkur sapi
disembelih. Kering dari suara
keindahan dan jauh dari panggilan yang
menggetarkan hati. Kadang muadzinnya
orang tua yang udzur, suaranya parau,
irama lagunya terasa aneh di telinga
dan nafasnya ngos-ngosan. Ditambah
lagi harus bersaing dengan suara
pengeras yang mendengung-dengung.
Soal bacaan imam? Memang tidak harus
sekelas Mas Mansur atau seperti para
qari’. Tetapi sekurang-kurangnya
memenuhi standar baku. Sebagian besar
kualitas suara kita kualitas biasa,
bahkan jelek (termasuk saya). Tetapi
kalau bacaannya mengindahkan tajwid
tentu suara jelek itu masih layak jadi
imam.
Bustanul Qiraah, tempat mendidik
putra-putri Muhammadiyah membaca quran
kini telah tiada. Sayang memang. Namun
imam di masjid Muhammadiyah harus
tetap orang pilihan. Kaena itu imam
shalat tarwih pada Ramadlan ini harus
kita pilih yang bacaannya enak di
telinga agar jamaah merasa nikmat
shalat di masjid Muhammadiyah. Kita
harus buktikan bahwa orang
Muhammadiyah bisa baca al-Quran dengan
benar. Tidak pincangan atau
kecantol-cantol.
|