Muhammadiyah

Aisyiyah

Pemuda Muhammadiyah

Nasyiatul

Aisyiyah

Ikatan

Mahasiswa

Muhammadiyah

Ikatan

Remaja

Muhammadiyah

Tapak

Suci

Hizbul Wathan

 

 

MATAN Edisi 23 Juni 2008

 
Halaman Utama

 

Kontak Kami

 

Organisasi

Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur

Strukur Organiasi PWM
Organisasi Otonom
Pimpinan Daerah

 

Majelis - majelis:
Tarjih & Tajdid

Tabligh & Dakwah Khusus

Pendidikan Dasar & Menengah

Pembina Kader

Kesehatan & Kesejahteraan Masyarakat

Pemberdayaan Masyarakat & Lingkungan Hidup

Waqaf, Zakat, Infaq & Shadaqah

Ekonomi & Kewirausahaan

 

Lembaga - lembaga:
Hikmah & Kebijakan Publik
Seni Budaya
Pustaka & Informasi
Penegakan Supremasi Hukum & Hak Asasi Manusia
Pembina & Pengawas Keuangan

 

Organisasi Otonom:
Aisyiyah
Pemuda Muhammadiyah
Nasyiatul Aisyiyah
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
Ikatan Remaja Muhammadiyah
Tapak Suci
Hizbul Wathan

 

AD / ART 
Anggaran Dasar

Anggaran Rumah Tangga

 

AD / ART Lama
AD Tahun 1912
AD Tahun 1914
AD Tahun 1921
AD Tahun 1922
AD Tahun 1933
AD Tahun 1934
AD Tahun 1941
AD Tahun 1943
AD Tahun 1946
AD Tahun 1950
AD Tahun 1985
ART Tahun 1987

 

Download Links

 

 

 

Bacaan Shalat  Mas Mansur

 

             KH Mas Mansur, sapu kawat Jawa Timur, adalah orang yang sejak muda selalu istiqamah pada tujuan, tidak gampang goyak oleh cobaan dan kesulitan. Pada usia 12 tahun beliau sudah belajar ke Mekkah untuk memperdalam ilmu agama. Tetapi baru dua tahun, pemerintah Saudi tahun 1910 mengeluarkan intruksi semua orang asing harus  meninggalkan Mekkah agar tidak terlibat sengketa politik yang melanda Saudi saat itu. Maka Mas Mansur diperintahkan pulang oleh ayahnya.

            KH Ahmad Marzuki, ayah Mas Mansur kecewa setelah membaca surat balasan  Mas Mansur, karena dia tidak mau pulang melainkan pergi ke Al-Azhar Mesir memperdalam ilmu. Ayahnya tidak setuju karena menganggap Kairo kota tempat maksiat, bukan tempat belajar yang tepat. Ayahnya tidak mau mengirimi biaya hidup dan biaya sekolah.

            Mas Mansur tetap ke Mesir. Maka dia hidup sangat menderita. Dia mau bekerja kasar untuk biaya hidupnya. Setiap sore ia memberi satu ceret teh kepada Syeh yang mengajarnya sebagai ganti biaya studi. Setahun berikutnya pamannya yang haji mampir menjenguknya. Barulah diketahui bahwa Mas Mansur memang benar-benar studi, tidak bersenang-senang. Ayahnya kemudian luluh dan mengirimi bekal lagi.

            Tentang kecerdasan, kedalaman ilmu dan keluasan wawasan Mas Mansur kita semua sudah tahu. Bung Karno dan Roeslan Abdulgani kagum padanya. DrSoetomo menangis haru mendengarkan uraiannya tentang tasawuf yang begitu luas. Buya Hamka mengaku setiap kali mendengar Mas Mansur berbicara, secara otomatis tangannya mencari pena dan kertas. Sudah pasti banyak mutiara  penting yang perlu dicatat, sangat sayang kalau dilewatkan begitu saja. Masih banyak hal lain yang istimewa dari Mas Mansur. Salah satu yang menarik dan belum banyak diketahui orang adalah bacaan beliau ketika menjadi imam shalat.

            Subagio IN, seorang wartawan senior menuliskan pengalamannya menjadi makmum ketika KH Mas Mansur menjadi imam shalat Jumat. Dalam buku: “KH Mas Mansur, Pembaharu Islam di Indonesia” yang ditulisnya, Subagijo mengaku: “Tidak mungkin saya dapat melupakan hari itu”. Subagijo sedang shalat Jumat di sekolah Muallimin Muhammadiyah Yogya pada 1940-an. Imam dan khatibnya ketua PP Muhammadiyah KH Mas Mansur. Tempat shalat sudah penuh. Dia dan banyak orang lain yang tidak kebagian tempat harus shalat dan mendengarkan khutbah di luar di bawah terik sinar matahari yang menyengat kulit.

            “Pada waktu Mas Mansur membaca surat al-Fatihah, tanpa saya sadari air mata saya mulai meleleh di pipi. Saya terus menangis tersedu-sedu. Suaranya mengalun, sungguh menyentuh perasaan, menusuk jantung rongga dada. Saya menangis terisak-isak. Terisak-isak. Padahal waktu itu matahari sedang panas memancar...”

            Berhari-hari peristiwa itu terbawa perasaan Subagijo. “Peristiwanya sungguh mengesankan. Mengesankan sekali”, tuturnya.  Hatinya terus bertanya mengapa bacaan shalat dapat demikian menyentuh hati padahal di bawah terik matahari? Suatu hari ketika pulang kampung dia ceritakan kepada ayahnya. Menurut ayahnya, itu terjadi karena pembacanya hatinya bersih. Kalam Ilahi jika dibaca oleh orang yang hatinya bersih bisa memantulkan kekuatan dan kedamaian bagi pendengarnya. Apalagi jika yang mendengar khusyu’ pula.

            “Keluhuran budi dan kebersihan hati Mas Mansur tidak diragukan lagi. Tiap orang entah pelajar, orang pergerakan, pejabat maupun orang awam tahu itu” kata Subagijo. Mas Mansur seorang pemimpin tidak ambisius, seorang yang polos, alim, organisator dari pesantren yang mampu bergerak di kalangan terpelajar, katanya lagi.

            Manangis ketika dalam shalat merupakan kenikmatan yang sangat indah. Ketika airmata membasahi pipi, saat itu pula kenikmatan membasahi hati. Bacaan imam yang bagus salah satu sumber kenikmatan shalat. Di Masjdil Haram dan masjid Nabawi kita sering terhanyut oleh bacaan imam dengan suara merdu lewat pengeras suara yang bening. Berdiri lama tidak terasa capek dan sering tiba-tiba air mata sudah meleleh.

***

            Bagaimana dengan masjid-masjid Muhammadiyah? Harus jujur kita akui kadang masih ada satu dua atau lebih masjid kita yang bacaan imamnya belum bagus, masih “bermasalah”, termasuk soal pengeras suara dan muadzin. Adzan yang berfungsi sebagai penggilan shalat terdengar seperti dengkur sapi disembelih. Kering dari suara keindahan dan jauh dari panggilan yang menggetarkan hati. Kadang muadzinnya orang tua yang udzur, suaranya parau, irama lagunya terasa aneh di telinga dan nafasnya ngos-ngosan. Ditambah lagi harus bersaing dengan suara pengeras yang mendengung-dengung.

            Soal bacaan imam? Memang tidak harus sekelas Mas Mansur atau seperti para qari’. Tetapi sekurang-kurangnya memenuhi standar baku. Sebagian besar kualitas suara kita kualitas biasa, bahkan jelek (termasuk saya). Tetapi kalau bacaannya mengindahkan tajwid tentu suara jelek itu masih layak jadi imam.   

            Bustanul Qiraah, tempat mendidik putra-putri Muhammadiyah membaca quran kini telah tiada. Sayang memang. Namun imam di masjid Muhammadiyah harus tetap orang pilihan. Kaena itu imam shalat tarwih pada Ramadlan ini harus kita pilih yang bacaannya enak di telinga agar jamaah merasa nikmat shalat di masjid Muhammadiyah. Kita harus buktikan bahwa orang Muhammadiyah bisa baca al-Quran dengan benar. Tidak pincangan atau kecantol-cantol.