|
DEWAN PIMPINAN
DAERAH
IKATAN MAHASISWA
MUHAMMADIYAH
JAWA TIMUR
Ketua Umum
: Ton Abdillah
Has
Sekretaris Umum
: Al Muslimun
Bendahara Umum
: Ziah Naililah
WakilBendahara
:
Antonius WU
Ketua Bidang
Organisasi
: Herlani
Agus Parigesit
Sekretaris
Bidang
: Moh
Roissudin
Ketua Bidang
Kader
: M.
Syai’in
Sekretaris
Bidang
: Isbakhi
M. Aries
Ketua Bidang
Hikmah
: Soliq
Al-Huda
Sekretaris
Bidang
: Mukayat
Al-Amin
Ketua Bidang
Keilmuan
:
Choirul Mahfud
Sekretaris
Bidang
:
Susmudioko
Ketua Bidang
Sosek
: Abdul
Gofar
Sekretaris
Bidang
: Jasmuri
Ketua Bidang
Immawati
: Umi
Rosyida
Sekretaris
Bidang
: Umi
Zakiyah
Ketua Bidang
Dakwah
: Amri
Gunasti
Sekretaris
Bidang
: Sutaji
Korps Instruktur
Jawa Timur
Ketua
: Wahono
Sekretaris
: Heni Wahyu
Unit Penerbitan
Ketua
: Alfi Yusratin
Sekretaris
: Suwarni Puji
Lestari
Unit Pengelolaan
Website
Ketua
: Abdullah Al-Habsy
Sekretaris
: Muhadi
SEJARAH
IKATAN MAHASISWA
MUHAMMADIYAH
Sesungguhnya
ada dua faktor
integral yang
melandasi
kalahiran, yaitu
faktor intem dan
fakor ekstem. Faktor intem dimiaksudkan yaitu faktor yang terdapat didalam
diri
Muhammadiyah itu
sendiri,
sedangkan fakor
ekstern adalah
faktor yang
berawal dari
luar
Muhammadiyah,
khususnya umat
Islam di
Indonesia dan
pada umumnya
adalah seluruh
umat dunia.
1. Faktor
intern, sebenarnya
lebih dominan
dalam bentuk
motivasi
idealismse,
yaitu motif
untuk
mengembangkan
ideologi
Muhammadiyah,
yaitu faham dan
cita cita
Muhammadiyah
bahwa
Muhammadiyah
pada hakekatnya
adalah sebuah
wadah
oraganisasi yang
punya cita-cita
atau tujuan
yakni menegakkan
dan menjunjung
tinggi agama
islam , sehingga
terwujud
masyarakat Utama,
adil dan makmur
yang diridloi
oleh Allah SWT.
Hal ini
termaktub dalam
AD Muhammadiyah
Bab II pasal 3.
dan dalam
merefleksikan
cita-citanya ini,
Muhammadiyah mau
tidak mau harus
bersinggungan
dengan
masyarakat bawah
(jelata) atau
masyarakat
heterogen. Ada
masyarakat
petani, pedagang,
peternakan dan
masyarakat padat
karya dan ada
masyarakat
administratif
dan lain
sebagainya yang
juga termasuk
didalamnya
masyarakat
kampus atau
intelektual
yaitu Masyarakat
Mahasiswa.
Persinggungan
Muhammadiyah
dalam maksud dan
tuiuannya,
terutama
terhadap
masyarakat
mahasiswa,
secara teknisnya
bukan secara
langsung terjun
mendakwahi dan
mempengaruhi
mahasiswa yang
berarti
orang-orang
Mahasiswa,
khususnya para
mubalighnya ya
langsung terjun
ke mahasiswa.
Tapi
dalam hal ini
Muhammadiyah
memakai teknis
Yang jitu yaitu
dengan
menyediakan
yang
memungkinkan
menarik animo
atau simpati
mahasiswa untuk,
memakai
fasilitas Yang
telah disiapkan.
Pada mulanya
para mahasiswa yang bergabung atau yang
mengikuti jejak-jejak Muhammadiyah oleh
Muhammadiyah dianggapnya cukup bergabung
dalam organisasi otonom yang ada dalam
Muhammadiyah, seperti Pemuda Muahmmadiyah
(PM) Yang diperuntukkan pada mahasiswa dan
Nasyi'atul Aisyiyah (NA) untuk mahasisiwi
Yang lahir pada 27 Dzulhijjah 1349 H (NA)
dan pemuda pada tanggal 25 Dzulhiijjah
1350 H.
Anggapan
Muhammadiyah tersebut lahir pada saat-saat
Muhammadiyah bermuktamar ke-25 di Jakarta
pada tahun 1936 Yang pada saat itu
dihembuskan pula cita-cita besar
Muhammadiyah untuk mendirikan Perguruan
Tinggi Muhammadiyah (PTM) dan pada saat
itu pula Pimpinan Pusat (PP) Yang dipegang
oleh KH. Hisyam (periode
1933-1937). Dan pada
dikatakan bahwa anggapan dan pemikiran
mengenai perlunya menghirnpun mahasiswa
Yang sehaluan dengan Muhammadiyah yaitu
sejak konggres ke-25 tersebut.
Namun demikian
keinginan untuk menghimpun dan membina
mahasiswa Muhammadiyah pada saat itu masih
vakum, karena pada waktu itu Muhammadiyah
masih belum memiliki Perguruan Tinggi
seperti Yang diinginkannya sehingga para
mahasiswa Yang berada di Perguruan Tinggi
lain baik negeri ataupun swasta Yang sudah
ada pada waktu itu secara ideologi tetap
berittiba' pada
Muhammadiyah dalmn kondisi tetap mereka
harus mau bergabung dengan PM, NA ataupun
Hizbul Wathon (HW).
Pada perkembangan keberadaan mereka Yang
berada dalam ketiga organisasi otonom
tersebut merasa perlu adanya perkumpulan
khusus mahasiswa Yang secara khusus
anggotanya terdiri dari mahasiswa Islam.
Alternatif yang mereka pilih yaitu
bergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
bahkan ada image waktu itu yang menyatakan
bahwa HMI adalah anak Muhammadiyah Yang
diberi tugas khusus untuk membawa
mahasiswa dalam misi dan visi yang
dimiliki oleh Muhammadiyah, karena waktu
itu ditubuh HMI sendiri dipegang oleh
tokoh-tokoh Muhammadiyah yang secara aktif
mengelola HMI.
>>
Selanjutnya
|