|
Ketua : Lely Ika
Mariyati SPsi
Wakil Ketua I : Nur ‘Ainy SPd
Wakil ketua II : Roisya Rosidiana
SSi
Sekretaris : Nur Hidayah SPd
MKes
Wakil Sekretaris : Nurul Fajriyah
Bendahara
: Mas’ad S.A Fachir SKom MMT
Wakil Bendahara : Fuadah SPd
Departemen
Kader
Departemen Komunikasi Informasi
Ketua
: Yulfa Mardliana SAg
Ketua
: Nida’ur
Rohmah I SPd
Sekretaris
: Farida
Sekretaris
: Ria Eka
Lestari
Anggota
: Mahtumatul Fauziyah
Anggota
: Laili Fitriya
Wati SE
Departemen Da’wah
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Ketua
:
Luklu’ul Islamiyati SPd
Ketua
: Nur Habibah
SPd
Sekretaris
: Ria Pusvitasari
Sekretaris
: Tazkiyatun
Nafsi El Hawa SS
Anggota
: Lilis Rosidah SAg
Anggota
: Siti Nadhifah
SPd
Mufidah
Rosyidah Zuhroh
Evi Yuliatin SPd
Departemen Sosial Ekonomi
Ketua
: Fakhrudiana Ermawati F
SPsi
Lembaga Pengkajian dan Pengembangan
Sekretaris
: dr Zuhrotul
Mar’ah L SKed
Ketua
: Nur Laila
Anggota
:
Irfin Rifi’yah SH
Sekretaris
: Sylvia Andriani
: Mu’minatun
Anggota
: Siti Azizah
Farida SH
Riwayat Berdirinya Nasyiatul Aisyiyah
Berdirinya Nasyiatul Aisyiyah bermula
dengan adanya ide Somodirdjo dalam
usahanya untuk memajukan Muhammadiyah, ia
telah menyadari bahwa tanpa adanya
peningkatan mutu ilmu pengetahuan yang
diajarkan kepada para muridnya menyebabkan
perjuangan Muhammadiyah terhambat.
Oleh karena itu ia selalu berusaha
untuk meningkatkan mutu ilmu pengetahuan
para muridnya baik dalam bidaing
spiritual, intelektual maupun jasmaninya.
Pada mulanya
ia telah mengarahkan para muridnya untuk
memikirkan sejauh mana ilmu
pengetahuan yang telah diserap selama
belajar di Standart School Muhammadiyah
dapat diwujudkan secara nyata dalam
kehidupan bermasyarakat.
Didepan kelas ia menyatakan bahwa
setiap umat manusia mempunyai dua
kewajiban yaitu kewajiban terhadap Allah
dan kewajiban terhadap sesama manusia.
Didalam melaksanakan kewajiban
terhadap Allah ummat manusia wajib
menjalankan segala perintahnya dan
menjauhi segala larangannva. sedangkan
untuk melaksanakan kewajiban terhadap
manusia ummat manusia wajib menyumbangkan
pikiran, tenaga dan harta bendanya dalam
batas-batas tertentu demi kepentingan
bersama. Selanjutnya
ia mengajak kepada para muridnya untuk
selalu mengamalkan ilmu pengetahuan,
tenaga dan harta bendanya dalam masyarakat,
untuk mempertanggungjawabkan kewajibannya
sebagai ummat manusia yang hidup di dunia
kepada Tuhan. Ide Somodirdjo untuk
menambah pelajaran praktek kepada para
muridnya itu, dituangkan dalam pelaksanaan
untuk membentuk wadah dimana putra-putri
Muhammadiyah mengadakan kegiatan
Dengan bantuan
R H. Hadjid seorang kepala guru agama di
Standart School Muhammadiyah, maka pada
tahun 1919 Somodirdjo berhasil mendirikan
perkumpulan yang anggotanya terdiri dari
para remaja putra-putri Standart School
Muhammadiyah.
Perkumpulan tersebut diberi nama Siswa
Praja (SP).
Tujuan
dibentuknya Siswa Praja adalah:
1.
Menanamkan rasa persatuan,
2.
Memperbaiki;
3.
Memperdalam agama;
Siswa Praja
mempunyai ranting-ranting di sekolah
sekolah Muhammadiyah yang ada, yaitu:
Suronatan, Karangkajen
Bausasran, dan
Kotagede. Seminggu
sekali anggota Siswa Praja Pusat memberi
tuntunan ke ranting-ranting. Setelah lima
bulan diadakan
pemisahan, antara anggota laki-laki dan
perempuan. Pimpinan
Siswa Praja Wanita diserahkan kepada Siti
Wasilah
sebagai Ketua, Umayah Wakil Ketua, Siti
Juhainah Penulis, dan Siti Zuhriyah
Bendahara. Tempat mengadakan
kegiatan Siswa
Praja Wanita di rumah Haji Irsyad (Mushola
Aisyiyah Kauman Yogyakarta sekarang).
Kegiatan Siswa Praja
Wanita adalah
pengajian, berpidato, jama'ah subuh
membunyikan kentongan untuk membangunkan
ummat Islam Kauman agar
menjalankan
kewajibannya yaitu shalat subuh,
mengadakan peringatan hari-hari besar
Islam dan kegiatan keputrian.
Lima bulan
kemudian Siti Wasilah mengundurkan diri
dan diadakan perubahan susunan pengurus
pirnpinan Ketua: Siti Umayah, Wakil Ketua:
Siti Zuhriyah, Penulis Siti Djuhainah
Bendahara: Siti Zaidiyah.
Pada periode ini mulai diadakan
klasifikasi
1. Thalabus
Saadah tiap malam jum'at untuk anak-anak
berumur 15 tahun keatas.
2. Tajmilul
akhlak, tiap jum'at sore untuk anak-anak
yang berumur 10-15 tahun
3. Dirasatul
Bannat pengajian sesudah maghrib untuk
anak-anak Dasar.
4. Jamiatul
Athfal dua kali seminggu untuk anak-anak
yang berumur 7-10 tahun.
5.Tiap satu
bulan, pada hari jum'at terakhir diadakan
tamasya keluar kota.
Meskipun Siswa
Praja Wanita berhasil didirikan pada tahun
1919, namun pengurusnya mengalami hambatan
didalam memajukan kegiatan.
Hambatan ini pada umumnya berasal
dari orang tua murid itu sendiri.
Mereka melarang, putra-putrinya
mengikuti kegiatan diluar jam sekolah
karena mereka sering lupa akan tugas rumah
vang harus dikerjakan Namun Berkat
kesabaran dan ketekunan pengurus dalam
memberikan pengertian kepada para orang
tua, akhirnya mereka mengerti dan
merasakan manfaat dari adanya perkumpulan
Siswa Praja Wanita.
Bahkan anak-anak yang mengikuti SPW
semakin banyak memiliki ketrampilan
ketrampilan praktis yang sangat berguna
dikelak kemudian hari.
>>
Selanjutnya
|