|
KELANGSUNGAN HIDUP
PERGERAKAN MUHAMMADIYAH
(Analisis
Historis Pergerakan Muhammadiyah Di Malang
Tahun 1926 – 1989)
PROSES
LAHIRNYA PERSYARIKATAN MUHAMMADIYAH
DAERAH
MALANG
Berdirinya
persyarikatan Muhammadiyah pada tahun
1912, tidak dapat dilepaskan dari dua
sebab yang pokok, yaitu : Pertama pengaruh
pembaharuan pemikiran Islam yang
dipelopori Syech Muh. Abduh dan
pengikut-pengikutnya yang melancarkan
usahanya memodernisasi ajaran Islam di
Mesir. Kedua, kondisi umat Islam Indonesia
yang sangat memprihatinkan sebagai mana
dalam bab I di muka.
Muhammad
Abduh dengan pengikut-pengikutnya yang
kemudian terkenal dangan golongan
Salafiyah mempunyai pengaruh yang tidak
kecil artinya dalam alam fikiran dan
kehidupan agama Islam di Indonesia.
Sebabnya ialah
pelajar-pelajar dan mahasiswa-mahasiswa
Indonesia yang belajar di tanah suci dan
Mesir sudah tentu terpengaruh pula olehg
gerakan pembaharuan Islam Muhammad Abduh
dan pengikut-pengikutnya. Setelah mereka
kembali ke tanah air mereka berusaha
mengadakan gerakan pembaharuan Islam,
sehingga bermunculan organisasi Islam,
seperti : Syarekat Dagang Islam (1909),
Syarekat Islam (1911), Muhammadiyah
(1912), Nahdlatul Ulama (1926) semua ini
di Jawa, dan Tawalib (1918) di Sumatra.
Salah
seorang dari pelajar-pelajar Indonesia
yang pada masa itu bertekun belajar di
Mesir dan Saudi Arabia (L.K. 17 tahun),
ialah pemuda Nur Yasin asal Malang ; yang
ternya nantinya menjadi salah satu pelopor
berdirinya Muhammadiyah daerah Malang.
Pada awal
berdirinya Muhammadiyah mengkhususkan
usahanya terbatas di wilayan residensi
Yogyakarta saja. Hal ini terbukti dari
bunyi tujuan Muhammadiyah pada saat
berdiri, yaitu berbunyi :
Maka
Perhimpunan itu maksudnya :
a.
Menyebarkan pengajaran agama
Kanjeng Nabi Muhammad saw. kepada penduduk
bumi putra di dalam residensi Yogyakarta
b.
Memajukan hal Agama kepada
anggota-anggotanya
Setelah 2
tahun berjalan, ternyata perhatian
masyarakat Islam tidak terbatas pada
residensi Yogyakarta, tetapi di luar
Yogyakarta banyak yang ingin ikut
mendirikan Muhammadiyah. Oleh karena itu,
diadakan usul perubahan tujuan
persyarikatam Muhammadiyah khususnya
tentang perubahan wilayah jangkauan
kegiatan Muhammadiyah. Yang akhirnya
meliputi seluruh Indonesia. Usul ini
diajukan ke Gubernur Jendral Hindia
Belanda di Batavia, pada tahun 1914.
Setelah beberapa kali mengalami perubahan,
akhirnya dengan bersluit Gubernur Jendral
Hindia Belanda No.36, tertanggal 2
September 1921 maka tujuan Muhammadiyah
menjadi sebagai berikut :
a.
Memajukan dan memberikan pengajaran
dan pelajaran agama Islam di Hindia
Belanda.
b.
Memajukan dan memberikan cara
kehidupan sepanjang kemauan agama Islam
kepada anggota-anggotanya.
Demikianlah
setelah ada ijin perubahan wilayah gerak
Muhammadiyah yang meliputi seluruh wilayah
Hindia Belanda, maka bermunculan
cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh
Indonesia, seperti di Garut, Solo,
Surabaya, Pekalongan, Jakarta, Blitar,
Padang Panjang, Banjar Masin, Makassar,
dan sebagainya.
Pada tahun
antara 1920 – 1922, KH. Ahmad Dahlan telah
berhasil menanamkan benih-benih
Muhammadiyah di Jawa timur, lebih-lebih
setelah “2 benteng penghalang”
Muhammadiyah di Banyuwangi dan di Surabaya
bobol dan takluk kepada KH. Ahmad Dahlan.
Seperti kita
ketahui, bahwa sudah menjadi kebiasaan KH.
Ahmad Dahlan bertabligh sambil berdagang
batik. Demikian pula pada waktu keliling
di Jawa Timur ternyata di kota-kota yang
didatangi mendapat sambutan yang baik,
sebab sebagian besar pedagang batik juga
berasal dari Yogyakarta, Misalnya di
Ponorogo, Blitar, Sumberpucung, Kepanjen,
Pasuruan, Jember dan Banyuwangi. Para
pedagang batik yang berasal dari
Yogyakarta banyak yang tertarik pada figur
KH. Ahmad Dahlan dalam berdagang, yang
akhirnya tertarik juga pada
tabligh-tabligh yang diadakannya.
Mereka-mereka inilah yang kemudian
merintis berdirinya Muhammadiyah di
tempat-tempat tersebut. Misalnya, Ranting
Sumberpucung didirikan oleh keluarga
Mataram (sebutan untuk orang Yogyakarta
yang bertempat tinggal di Sumberpucung).
Juga di Kepanjen, Ponorogo, Blitar dan
sebagainya. Sedang di tempat-tempat lain,
mereka bergerak untuk mendirikan
Muhammadiyah karena tertarik oleh
cita-cita Muhammadiyah, yang dikenal
sebagai gerakan pembaharuan Islam, yang
lebih menggunakan pola fikir atau
pendekatan rasional dalam memecahkan
masalah keagamaan sepanjang dibenarkan
oleh ajaran Islam. Nampaknya justru pola
fikir yang seperti itu yang banyak
mengundang tantangan dan hambatan dari
pihak-pihak yang tidak senang dan bahkan
sampai hati menuduh Muhammadiyah sebagai
agama baru, agama kafir dan sebagainya.
Tantangan yang seperti itulah yang ditemui
KH. Ahmad Dahlan sewaktu beliau bertabligh
di Banyuwangi.
Pada
waktu beliau mangunjungi rapat umum di
Bayuwangi, diadakan tanya jawab, dan
segala pertanyaan yang tidak ada
hubungannya dengan Muhammadiyah tidak
beliau layani. Maka orang-orangpun
berteriak-teriak, ujarnya : “Dahlan Kalah
!, Kyai Palsu !”, dan sebagainya. Sesudah
beliau pulang, dikirimlah surat kaleng
kapada beliau yang berisi ancaman : “kalau
berani datang sekali lagi, akan disambut
dengan kelewang (sejenis pedang) dan
istrinya supaya diajak untuk dijadikan
pelayan”. Maka seketika itu juga,
beliaupun berangkat ke Banyuwangi,
walaupun keluarganya mancegahnya. Tetapi
setelah datang di sana dan mengadakan
rapat lagi, tidak terjadi apa-apa, bahkan,
akhirnya berdirilah Cabang Muhammadiyah
Banyuwangi.
Inilah yang disebut oleh
Almarhum KH. Tedjo Darmoleksono, sebagai
bobolnya benteng Banyuwangi. Konon
diketahui yang menentang KH. Ahmad Dahlan
tersebut adalah tokoh agama Islam yang
fanatik, bernama Taslim. Dan akhirnya
justru Taslim inlah yang mempelopori
berdirinya Muhammadiyah Cabang Banyuwangi,
dan menjadi pejuang Muhammadiyah di
Banyuwangi.
Pada ketika
yang lain, sewaktu K.H.A. Dahlan
bertabligh di Surabaya, tepatnya di
kampung Mas Udik. Setelah beliau
mengadakan tabligh, beliau menginap di
penginapan yang kurang patut, di mana di
penginapan itu banyak terdapat wanita tuna
susilanya. Sehubingan dengan itu,
datanglah seorang pemuda, yaitu Mas
Mansyur (yang kemudian lebih dikenal
sebagai K.H. Mas Mansyur). Mas Mansyur
baru pulang dari Saudi Arabia, dan sudah
membawa paham tentang pembaharuan Islam.
Ia merasa kurang enak dengan penginapan
K.H.A. Dahlan tersebut. Kemudian dia
mengundang dan mengajak K.H.A. Dahlan
bermalam di rumahnya.
Pada Malam
itu, ternyata K.H. A. Dahlan terlibat
diskusi semalam suntuk dengan pemuda Mas
Mansyur tersebut. Diskusi tersebut
mengarah pada persoalan pembaharuan Islam
di Indonesia. Ternyata, Mas Mansyur kalah
berargumentasi dengan K.H. A. Ahmad Dahlan.
Beberapa hari kemudian, Mas Mansyur datang
ke Yogyakarta, sekedar mengintai apa yang
dikerjakan oleh K.H. A. Dahlan di rumahnya
di Kauman. Selama beberapa hari dia
mengikuti pengajian yang dilakukan K.H. A.
Dahlan. Dia melihat bagaimana setelah
Sholat Subuh, K.H. A. Dahlan sudah
berjalan-jalan sambil mambaca Al Qur`an di
muka rumahnya , di bawah pohon sawo.
Setelah lebih kurang 1 minggu lamanya
mengintai gerak-gerik K.H. A. Dahlan, maka
yakinlah pada diri K.H. A. Dahlan. Maka
yakinlah pada diri Mas Mansyur, bahwa K.H.
A. Dahlan patut diteladani . kemudian Mas
Masyur pulang ke Surabaya dan mendirikan
Muhammadiyah di sana. Kejadian ini oleh
K.H. M. Bedjo Dermoleksono disebutnya
sebagai bobolnya benteng Surabaya.
Sehubungan dengan masuknya Kyai Mas Mansur
ke Muhammadiyah (pada tahun 1921), Kyai
Dahlan sendiri menyatakan bahwa “sapu
kawate Jawa Timur wis ono tanganku”.
Sebenarnya,
Mas Mansur sudah tertarik kepada Kyai
Dahlan sejak tahun 1915; sewaktu akan
kembali ke Indonesia dari Makkah, dia
sudah merencanakan tempat-tempat (di pulau
Jawa ) yang akan disinggahinya sebelum
tiba di Surabaya. Salah astu tempat yang
akan disinggahinya adalah Yogyakarta,
yaitu tempat tinggal
Kyai Dahlan. Mas Mansur
mengisahkan sebagai berikut:
“Waktu
itulah saya datang kepada beliau
dan memperkenalkan diri. Abru saja
berkenalan hati tertarik, baru saja keluar
kata lemah lembut dari hati yang ikhlas,
hati pun tunduk. Waktu itu terasa pada
saya bahwa ada pula
kiranya saya berayah
di Yogyakarta.
Ketika itu
beliau terangkan bahwa beliau sangat kenal
dan bersahabat dengan ayah saya. Katanya
kalau beliau ke Surabaya beliau tinggal
dirumah Kyai Habib, tempat pertemuan
kyai-kyai. Di sanalah beliau kerap kali
bercakap-cakap lama dengan ayah saya
memperbicangkan soal-soal agama. Dan
apabila ayah saya datang ke Yogya, beliau
tinggal dirumah Kyai Nur tempat pertemuan
inyik-inyik itu pula.
.... segal
gerak-gerik beliau menyatakan keikhlasan
dan kesucian hati. Kata-kata dan
perjalanan beliau menyatakan ketundukan
dan ketaatan kepada Yang Maha Kuasa. Ah
mudah mudahan arwah beliau tidak
terhalang-halang dan tidak mendapat
rintangan.
Demikianlah
pada permulaan tahun 1916 saya kembali
pula ke Yogya. Di situlah beliau terangkan
bahwa alat untuk memperbaiki umat
Islam itu hanyalah Quran dan Hadits.
Dikembalikan orang pada Tauhid.
Dibawa umat pada kehidupan sepanjang
kemauan agama Islam. Hal itu bukanlah
berarti bahwa ilmu pengetahuan dipencilkan
dan ditinggalkan dibelakang saja. Dan
salah sekali paham orang jika agama Islam
hanya sembahyang atau ibadat semata-mata.
Kita hidup di dunia. Dari itu kita harus
pula tahu akan apa-apa yang terajdi
disekeliling kita hidup.
Tabligh-tabligh
K.H. Ahmad Dahlan di Surabaya ternyata
seringkali diadakan, dan tempatnya
berpindah-pindah. Hal ini menunjukkan
bahwa makin banyak orang yang tertarik
dengan gerakan pembaharuan yang
dilancarkan K.H.A. Dahlan. Bahkan di
kalangan orang pergerakan mulai melihat
kaitan erat antara pembaharuan dan
pembangunan agama dengan pembangunan tanah
air, bangsa, negara dan masyarakat.
Salah satu
tokoh pergerakan nasional yang kemudian
menjadi Presiden RI yang pertama ialah
Ir. Soekarno.
Dia tertarik pada salah satu tabligh K.H.A.
Dahlan, yang menegaskan bahwa .... agama
Islam itu agama yang sederhana, yang
gampang, yang bersih, yang dapat dilakukan
oleh semua orang. Agama yang tidak
pentalitan, tanpa pentolat-pentolit. Satu
agama yang mudah sekali ...
Sedangkan
intisari keyakinan dan cita-cita
Muhammadiyah adalah sebagai berikut :
1.
Muhammadiyah adalah gerakan berasas
Islam, bercita-cita dan bekerja untuk
terwujudnya masyarakat Islam yang
sebenar-benarnya, untuk melaksanakan
fungsi dan misi manusia sebagai hamba dan
khalifah Allah di muka bumi.
2.
Muhammadiyah berkeyakinan bahwa
Islam adalah agama Allah yang diwahyukan
kepada rasul-Nya, sejak Nabi Adam, Nuh,
Ibrahim, Musa, Isa dan seterusnya sampai
kepada nabi penutup Muhammad saw, sebagai
hidayah dan rahmah Allah kepada umat
manusia sepanjang masa dan menjamin
kesejahteraan hidup material dan
spiritual, duniawi dan ukhrowi.
3.
Muhammadiyah dalam mengamalkan
ajaran Islam berdasarkan :
a.
Al Qur`an : Kitab Allah yang
diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw.
b.
Sunnah Rasul : penjelasan dan
pelaksanaan ajaran Al Qur`an yang
diberikan oleh Nabi Muhammad saw dengan
menggunakan akal fikiran sesuai dengan
jiwa ajaran Islam.
4.
Muhammadiyah bekerja untuk
terlaksananya ajaran Islam yang meliputi
bidang-bidang :
aqidah, ahlak, ibadah, muammalat
duniawiyat.
a.
Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya
aqidah Islam, yang murni, bersih dari
gejala-gejala kemusyrikan, bid`ah dan
khurofat, tanpa mengabaikan prinsip
toleransi menurut ajaran Islam.
b.
Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya
nilai-nilai ahlaq mulia dengan berpedoman
kepada ajaran-ajaran ciptaan manusia.
c.
Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya
ibadah yang dituntunkan oleh rasulullah
saw tanpa tambahan dan perubahan dari
manusia.
d.
Muhammadiyah bekerja untuk
terlaksananya mu`ammalat duniawiyat
(pengelolaan dunia dan pembinaan
masyarakat) dengan berdasarkan pada
ajaran agama serta menjadikan semua
kegiatan dalam bidang ini sebagai ibadah
kepada Allah swt.
e.
Muhammadiyah mengajak segenap
lapisan bangsa Indonesia yang telah
mendapat karunia Allah berupa tanah air
yang mempunyai sumber-sumber kekayaan ....
untuk bersama-sama menjadikan negara yang
adil makmur dan diridloi Allah swt.
“Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghofur”.
Pada waktu
itu Bung Karno baru berusia 15 tahun serta
indekost dirumah HOS Cokro Aminoto, pada
saat itulah beliau bertemu Kyai Dahlan
buat pertama kalinya. Beliau mengisahkan
sebagai berikut:
...... Pada
suatu hari datanglah di Surabaya Alm Kyai
Dahlan mengadakan beberapa tabligh, dan
tabligh yang pertama
yang beliau berikan adalah dekat rumah
kami di kampung Peneleh dan saya hadir
ditempat itu . dan terus terang, segera
saya tertangkap oleh apa yang dikatakn
oleh Alm Kyai Dahlan, hingga tadi
dikatakan saya menghadiri
tabligh-tabligh Kyai Dahlan di
lain-lain tempat.dalam seminggu saja, tiga
kali di Kota Surabaya, kemudian lain tahun
masih beberapa kali lagi dalam suasana
demikian ini, suasana mencari, saya
sebagai pemuda suasana
mencari. Suasana melihat hal-hal itu baru
remang-remang, datanglah Kyai Haji Ahmad
Dahlan di Surabaya dan memberi tabligh
mengenai agama Islam, yang bagi saya
berisi regenaration dan rejuvenation dari
pada Islam itu.
Apa yang
disampaikan K.H.A. Dahlan dan apa yang
menjadi cita-cita Muhammadiyah sangat
berlainan dengan apa yang dilihat dan
dialami Presiden Soekarno pada waktu itu,
seperti yang dikatakan beliau :
Tetapi
sebagai pemuda, dengan banyak sekali
pemuda-pemuda, dengan banyak sekali
pemimpin-pemimpin yang tiap-tiap hari
membanjiri rumahnya Almarhum Cokroaminoto
itu. Melihat dengan jelas, bahwa umat
Islam Indonesia sama sekali “jumud”, beku,
tertutup oleh bid`ah dan khurafat yang
sehebat-hebatnya. Sehingga kadang-kadang
kami pun bertanya “inikah Islam ? ...
Apakah Islam itu tidak memiliki andreng
untuk menjadikan bangsa-bangsa yang
menganut agamanya itu menjadi bangsa yang
merdeka ? yang berdaulat ? yang makmur ?
yang sentosa ? yang pantas dikagumi oleh
seluruh umat manusia di muka bumi ini ?”.
Nah, suasana yang demikian itulah
saudara-saudara, yang meliputi jiwa saya
tatkala saya buat pertama kali pertemu
dengan K.H.A. Dahlan .... yang memberi
pengertian yang lain tentang agama Islam.
K.H.A.
Dahlan mengajarkan, bahwa moderenisasi
tidak bertentangan dengan ajaran Islam,
bahkan sejalan, yaitu jika ajaran Islam
dikembalikan kepada Al Qur`an dan Sunnah
Rasul. Lalu
penafsirannya disesuaikan dengan jaman.
Salah satu usaha untuk memajukan Islam
ialah melalui pendidikan sistem yang baru,
yaitu melalui sekolah. Justru itu K.H.A.
Dahlan aktif sekali mengajarkan agama di
sekolah sekolah Belanda, seperti Kweek
Skool. Dengan cara ini K.H.A. Dahlan
berharap bahwa orang yang terpelajar
(intelek) supaya mengerti agama Islam dan
sebaliknya para Kyai pandai dalam
soal-soal pengetahuan umum.
Hasilnya sangat memuaskan,
dimana para pemuda pribumi yang sudah
mengecap pendidikan barat, kalangan
priyayi menjadi salah satu kelompok yang
rajin mengunjungi Tabligh K.H.A. Dahlan.
Seorang di antaranya adalah pemuda
Soekarno (Presiden RI pertama) yang merasa
terpukau oleh tabligh-tabligh K.H.A.
Dahlan.
Penafsiran
Al Qur`an dan Hadits gaya konvensional ,
diperbaharui dan diubah, misalnya
penafsiran dari Hadits yang berbunyi :
“Siapa yang menyerupai suatu kaum, ia
termasuk kaum itu”. Diartikan bahwa segala
bentuk yang menyerupai identitas Belanda
(kafir) dianggap kafir juga, seperti pakai
dasi, celana, sistem sekolah yang memakai
bangku dan lain sebagainya, itu ditentang
oleh K.H. A. Dahlan. Beliau menafsirkan
secara lain, yaitu lebih disesuaikan
dengan keadaan jaman yang makin maju.
Sistem sekolah lebih efesien dan efektif
untuk mengajar agama bila dibandingkan
dengan sistem tradisional, maka K.H.A.
Dahlan setuju dan meniru sistem sekolah
barat. Juga di bidang praktek-praktek
keagamaan yang tidak jelas sumbernya dari
Al Qur`an dan Hadits, juga diberantas dan
dibetulkan. Ternyata K.H.A. Dahlan lebih
banyak menggunakan pendekatan-pendekatan
intelektual/rasional dalam menjelaskan dan
mengajarkan agama Islam. Itulah sebabnya
kaum intelaktual banyak yang tertarik pada
Muhammadiyah.
Demikianlah
sekitar situasi pada saat K.H.A. Dahlan
mengembangkan sayap Muhammadiyah di Jawa
Timur, khususnya di Surabaya, yang nota
bene telah menjadi baro meter kegiatan
sosial politik di Jawa Timut, termasuk
kegiatan perlunya pembaharuan dan
pembangunan umat Islam dalam kaitan skala
yang lebih luas, yaitu pergerakan Nasional
Indonesia.
Hasil kerja
keras yang dilakukan sendiri oleh K.H.A.
Dahlan di Jawa Timur antara tahun 1920 –
1922 itu, maka berdirilah cabang dan
ranting Muhammadiyah di Ponorogo,
Trenggalek, Blitar, Sumberpucung,
Kepanjen, Pasuruan, Bangil, Probolinggo,
Kaliboto (Jatiroto), Sukodono, Jember,
Banyuwangi dan sebagainya.
Dari
fakta-fakta ini nampak, bahwa jalur yang
dilewati K.H.A. Dahlan dalam mengembangkan
Muhammadiyah di Jawa Timur cukup menarik
untuk diperhatikan. Pertama, jalur
selatan, Ponorogo, Blitar, Sumberpucung,
Kepanjen, Jatiroto dan Jember. Media yang
digunakan adalah jalur perdagangan, yaitu
dagang kain batik. Media ini sangat
memudahkan beliau untuk mengadakan
pendekatan-pendekatan, karena
pedagang-pedagang batik di kota-kota
tersebut berasal dari Kota Gede
Yogyakarta, yang disamping sudah tahu apa
Muhammadiyah, juga sedaerah dengan K.H.A.
Dahlan. Dengan demikian keakraban dan
persaudaraan dengan mudah dapat dibina
sekaligus digunakan ole K.H.A. Dahlan
untuk mengenalkan dan menanamkan
Muhammadiyah. Kedua, jalur utara,
Surabaya, Bangil, Pasuruan, Probolinggo,
Banyuwangi. Pada jalur ini K.H.A. Dahlan
banyak menggunakan pendekatan intelektual.
Hal ini terbukti dengan adanya usaha-usaha
K.H.A. Dahlan untuk berdialog dan
berargumentasi tentang gerkan pembaharuan
Islam dengan Mas Masyur, mendekati kaum
intelektual seperti Ir.
Soekarno, Cokroaminoto, dan di
Bangil berhadapan Dengan Persis. Kemudian
tragedi Banyuwangi, juga akibat dialog
intelektual dengan tokoh agama Islam
setempat.
Kota Malang
berada di tengah-tengan dua jalur
tersebut, dan bahkan setiap K.H.A. Dahlan
pulang dari Tabligh di bagian timur Jawa
ini, selalu lewat jalur selatan dan boleh
dipastikan singgah di kepanjen dahulu,
yaitu di rumah Bapak Soerodji (pedagang
batik di Kepanjen)
Sebelum berkenalan dengan
K.H.A. Dahlan, Pak Soeradji belum kenal
Muhammadiyah. Dia mendirikan Muhammadiyah
cabang Kepanjen pada
tanggal 21 Desember 1921 dengan surat
ketetapan dari Hoofbertuur Muhammadiyah
Jogyakarta No.:7 yang ditandatangani oleh
Kyai Dahlan sebagai presiden dan H.
Fachruddin sebagi
sekretaris. Adapun
susunan pengurus Muhammadiyah Cabang
Kepanjen yang pertama
adalah:
Ketua
: H.M. Akuwan
Pemuka Muda
: Mc. Suratin
Juru Surat I
: M. Marto Utomo
Juru Surat
II :
M. Abd. Muchtar
Juru Periksa
: M. Saerodji
M. Notodiharjo
H. Nursyahid
R. Mattazis
M. Karmo
R. Abdullah Asfari
Adapun
pengurus Aisyiyyahnya pada waktu itu
adalah sebagai berikut:
Pemuka
: B. H.M. Akuwan
Juru Surat
: S. Mujayanah
Juru Uang
: B. M. Munadji
Juru Periksa
: M. Ngasirah
M. Ngarifah
M. Laminten
M. Lasminah
B. Sarwo
B. M. Edris
B. Muskinah
Pada suatu
hari, dalam lawatan tablighnya, K.H.A.
Dahlan hendak kembali ke Yogyakarta. Akan
tetapi, sampai di Sumberpucung, beliau
kehabisan kereta api jurusan barat
(Yogyakarta). Beliau kemudian dengan
sangat terpaksa harus mencari penginaoan
di Sumberpucung itu. Dan secara kebetulan
beliau bertemu dengan Pak Aspari, Kepala
Stasiun Kereta Api di Sumberpucung
tersebut. Kemudian menginaplah K.H.A.
Dahlan di rumah dinas Pak Aspari di muka
stasiun. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh
K.H.A. Dahlan untuk mengenalkan
Muhammadiyah di Sumberpucung. Ternyata Pak
Aspari tertarik dengan Muhammadiyah.
Apabila di
Surabaya, K.H. Mas Mansyur tertarik pada
Muhammadiyah karena argumentasi
intelaktual tentang pembaharuan Islam di
Indonesia sehingga dapat meyakinkan K.H.
Mas Mansyur. Maka tertariknya Pak
Aspari kepada Muhammadiyah adalah lebih
bertitik beratkan pada figur dan
penampilan K.H.A. Dahlan yang sederhana
dan penuh keikhlasan dalam beramal. Itulah
sebabnya sebelum Pak Aspari menerima dan
mengembangkan Muhammadiyah, dia ingin
membuktikan sendiri, apakah penampilan dan
keikhlasan Muhammadiyah bukan hanya
pulasan. Beberapa hari kemudian Pak Aspari
pergi ke Yogyakarta “njujug” rumahnya
K.H.A. Dahlan ia menyamar sebagai Musyafir
yang kehabisan bekal, setelah tiba
waktunya sholat, Pak Aspari minta kepada
K.H.A. Dahlan untuk dapat meminjami sarung
untuk sholat. Maka dengan serta merta,
diajaklah tamu yang tak dikenal (K.H.A.
Dahlan “pangling” pada Pak Aspari) itu ke
dalam kamarnya, dan dibukakan almari
pakaian. K.H.A. Dahlan mempersilahkan tamu
tadi mengambi sendiri pakaian mana yang
dia sukai. Pak Aspari mengambil sarung
yang paling bagus, yang konon merupakan
sarung yang paling sering digunakan K.H.A.
Dahlan. Sarung tersebut ternyata langsung
diberikan kepada Pak Aspari. Sekembalinya
dari Yogyakarta Pak Aspari mendirikan
Muhammadiyah di Sumberpucung, pada tahun
1922.
Demikianlah
semasa K.H.A. Dahlan hidup, dibagian
selatan kota Malang, telah berdiri Cabang
Muhammadiyah Kepanjen dan Ranring
Muhammadiyah Sumberpucung. Kemudian di
bagian utara, telah berdiri Muhammadiyah
Cabang Pasuruan, Probolinggo dan Surabaya.
Di dua arah inilah Muhammadiyah Malang
mulai dirintis, disamping secara potensial
Malang memiliki tokoh-tokoh kader perintis
Muhammadiyah sendiri.
Kader
perintis yang dimaksud adalah pemuda Nur
Yasin. Putra K. Yasin yang pada tahun 1925
didatangkan oleh pemerintah Hindia Belanda
dari Surabaya. K. Yasin diberi tugas
khusus memperbaiki mental masyarakat
Malang, yang pada waktu itu masih
terjangkit penyakit masyarakat, yaitu
mo-limo (madat, madon, maling, minum,
main), dengan jalan memberi pengajian
agama Islam di Masjid Jami` Malang.
Kemudian K. Yasin juga
mendirikan pondok pesantren di Kauman
(belakang masjid Jami` Malang). Setelah
beliau meninggal dunia, pengajaran di
pondok diteruskan oleh Kyai Rofi`i dan
Kyai Mukti.
Pada tahun
1925 seorang muballigh Muhammadiyah
bernama Kyai Fanan, datang di Malang. Dia
mengajar agama di Mulo Tanjung dan di Wil
Helmina Celaket Malang, seminggu sekali.
Dia adalah mubaligh keliling dengan biaya
sendiri. Pada tahun 1926 dia mengadakan
tabligh di Kidul Dalem Malang, yaang hadir
dalam yabligh tersebut adalah siswa-siswa
Mulo Gede dan Kyai tamin beserta
santrinya. Pada waktu itu pemuda Nuryasin
masih belajar di Al Azhar Mesir dan di
Saudi Arabia(sellama ±17 tahun). Kira-kira
tahun 1926 dia pulang keMalang dan
langsung menggantikan kedudukan
ayahnya(KyaiYasin), yang baru meninggal
dunia, atas persetujuan Bupati Malang.
Dengan
kedaatangan mubaligh Muhammadiyah Kyai
Fanan ternyata menarik perhatian para
takoh Muhammadiyah
Cabang Kepanjen, yaitu H. Akhwan untuk
merintis Muhammadiyah Malang. Kebetulan
pada waktu itu, Kyai Muh. Nuryasin baru
kembali dari Makkah, dan dalam diri Kyai
Muh. Nuryasin telah tertanam jiwa
Muhammadiyah. Sebab, sewaktu dia pulang
dari Makkah, di kapal berjumpa dengan Kyai
Sujak dari Yogyakarta yang juga seorang
tokoh Muhammadiyah dan masih kerabat dekat
dengan K.H.A. Dahlan. Kyai Sujak menjadi
tertarik pada Kyai Muh. Nuryasin, karena
fasihnya berbahasa Arab, maka diajaklah
Muhammad Nuryasin singgah dulu di
Yogyakarta. Selam di Yogyakarta, selain
dikenalkan dengan gerakan pembaharuan
Muhammadiyah, dia juga diambil menantu
oleh K.H. Ibrahim, adik Nyai Dahlan. Oleh
karena itu, setelah Nuryasin pulang ke
Malang ide untuk mendirikan Muhammadiyah
di Malang telah menyala-nyala di dadanya.
Ide ini diwujudkan dengan mendirikan
Mualimin Muhammadiyah pada tahun
1926/1927, di Kauman. Yang menjadi guru di
Mualimin tersebut adalah Muh. Nuryasin dan
Syekh Ali Kudus. Dengan kejadian ini,
yaitu ada tanda-tanda bahwa Muhammadiyah
akan berdiri, Kyai Mukti dan Kyai Rofii
lalu memisdahkan diri dan pindah dari
Kauman. Kyai Mukti pindah ke Kasin
mendirikan pesantren sendiri, sedangkan
Kyai Rofii membeli rumah sendiri di dekat
masjid Jamik.
Ide
mendirikan Muhammadiyah tetap jalan terus,
ini berkat dorongan Kyai Ibrahim (mertua
Nuryasin) yang sering berkunjung ke
Malang, dan jalinan kerjasama dengan Kyai
Akhwan (Ketua Muhammadiyah Cabang
Kepanjen). Akhirnya berdirilah
Muhammadiyah Cabang Malang pada tanggal 1
Juli 1927.
Adapun
proses lengkap berdirinya Muhammadiyah
Cabang Malang adalah sebagai berikut :
Tahun 1924
Kala itu
beberapa orang guru negeri dan beberapa
orang lainnya di Kota Malang yang
bersimpati terhadap gerakan Muhammadiyah
mengadakan persiapan ... mereka adalah
Ronodiharjo, Abdul Rahman (guru SD Embong
Brantas), E. Abdullah, Syech Sadiq Alamri,
R. Suradji dan beberapa orang lainnya giat
berusaha ke arah terlaksananya pendirian
Muhammadiyah di Malang. Al Muchtar, waktu
itu telah berhasil mendirikan Muhammadiyah
Kepanjen pindah ke Malang dan mulai
mengadakan hubungan dengan orang-orang
yang ada di Malang.
Tahun 1926
Kata bulat
dimufakat, didirikanlah panitia HIS Met
Den Qur`an dengan diketuai oleh
Ronodiharjo, penulis A. rahman, dan E.
Abdullah sebagai Bendaharanya.
Sebelum itu
datang gilir gemanti Muballigh-muballigh
Muhammadiyah dari tempat yang jauh ke kota
Malang, a.l. Kyai Fanan dari Jember dan
Kyai Fachruddin dari Yogyakarta.
Tahun 1927
K.H. Muh.
Nuryasin telah datang setelah selama 17
tahun belajar di Al Azar dan Makkah,
hubungan segera diadakan oleh panitia. Tak
lama kemudian pada tanggal 5 Juli 1927,
diresmikam Muhammadiyah
Cabang Malang.
Adapun
pengurus pertama Muhammadiyah Cabang
Malang adalah sebagai berikut :
Ketua
: K.H. Moh. Nuryasin
Wakil Ketua
: Ronodiharjo
Penulis
: H. Elyas Hidir
Wakil
Penulis
: A. Rahman
Bendahara
: E. Abdullah
Pembantu
:
Al Muchtar
R. Suradji
Syarip
Sedangkan
pengurus Aisyiyyah pada waktu itu,
sebagai berikut:
Ketua
: Ibu H.A. Djari
Penulis
: R.A. Hasan Surati
Bendahara
: Ibu. H. Hasyim
Pembantu
: Ibu H. Sueb
Ibu Munah Tayib
Dengan
berdirinya Muhammadiyah
Cabang Malang, berarti Muhammadiyah
di jalur dakwah Kyai Dahlan, yang
dirintisnya dengan naik kereta api:
Sumberpucung, Kepanjen, Malang, Bangil,
Pasuruan, Probolinggo, Lumajang sampai
Banyuwangi.
Dalam
perkembangan Muhammadiyah
lebih lanjut, cabang Muhammadiyah
di kota-kota ini dijadikan satu daerah
kepengurusan Muhammadiyah dengan sebutan
Muhammadiyah Daerah Pasuruan, kemudian
menjadi “Muhammadiyah Daerah Malang”, yang
meliputi ex-karesidenan Malang.
PERKEMBANGAN
PERSYARIKATAN MUHAMMADIYAH MALANG
Seperti telah
disebutkan pada bagian akhir BAB II bahwa
secara resmi Muhammadiyah Cabang Malang
berdiri pada 1 Juli 1927. Pada waktu
berdirinya, Muhammadiyah sudah mempunya
modal usaha yang pokok, yaitu Mualimin
Muhammadiyah di Kauman yang didirikan oleh
K.H. Muh. Yasin dibatu oleh Syech Ali
Kudus. Disamping itu juga didirikan HIS,
MET dan Qur`an, yang didirikan oleh sebua
panitia yang diketuai oleh Ronodiharjo.
Setelah
Muhammadiyah Cabang Malang berdiri, maka
kedua amal usaha tersebut dan kegiatan
lain yang menjadi program kerja
Muhammadiyah diurus dan dikemudikan oleh
pengurus Cabang Muhammadiyah Malang.
Tokoh yang
sangat berjasa dalam penyandang dana untuk
membiayai kegiatan dan amal usaha
Muhammadiyah ialah Bapak Hasan Surati. Dia
seorang usahawan, pemilik gedung bioskop
“Grand” (yang sekarang sudah ditempati
Toserba Mitra). Dialah yang membiayai
berdirinya Balai Kesehatan yang menempati
salah satu bagaian dari tokonya di Jl.
Gadean (sekarang menjadi rumah makan
Masjhur, Jl. Sukaryo Wiryo Pranoto).
Demikian
pula tokoh kyai Muhammad Nuryasin. Dia
memberikan halaman rumahnya untuk
mendirikan gedung Sekolah Putri Aisyiyah
pada tahun 1927. Dan masih banyak lagi
pengorbanan dari para perintis dan pelopor
Muhammadiyah Malang. Mereka merelakan
tenaga, harta dan pikiran untuk
menghidup-hidupkan Muhammadiyah.
Pada waktu
berdirinya, kantor Muhammadiyah bertempat
di rumah K.H.A. Djari, di Kauman. Baru
kemudian setelah berhasil mendirikan
gedung sekolah Aisyiyah di halaman rumah
K. Moh. Nuryasin, kantor Muhammadiyah juga
dipindahkan ke situ.
Model-model
pembiayaan seperti inilah yang membuat
Muhammadiyah tetap tegek berdiri dan tetap
hidup. Keikhlasan berjuang dan kerelaan
berkorban dari para pendiri, pemimpin
serta dari para anggota dan simpatisan,
menjadi kunci dari kelangsungan hidup
Muhammadiyah. Setiap ada proyek dari
Muhammadiyah, pasti akan muncul penyandang
dan penyumbang dana, sehingga proyek
tersebut dapat berjalan, dan dapat
dimanfaatkan.
Di sini
jelas sekali jiwa pengorbanan para
pengurus Muhammadiyah. Meskipun telah di
tinggalkan Kyai Dahlan, mereka tetap
memegang teguh Khitah yang di canangkan
Kyai Dahlan serta
pesan-pesan beliau sebelum
meninggal dunia. Beliau pernah berkata :
Mengingat
keadaan badanku, kiranya aku telah dekat
waktunya akan meningalkan anak-anakku
semua. Sedang aku adalah seorang yang
tidak berharta benda yang akan ku
tinggalkan padamu. Aku hanya punya
persyarikatan Muhammadiyah, yang ku
wariskan kepadamu sekalian. Aku titipkan
Muhammadiyah kepadamu dengan penuh harapan
agar Muhammadiyah dapat di pelihara dan di
jaga dengan sesungguhnya.
Dalam
kesempatan lain Kyai Dahlan pernah
pula berkata :
Muhammadiyah
bukanlah untuk mencari penghidupan, tetapi
harus di hidup-hidupkan. Oleh Karena itu,
saya minta kepada saudara : Jagalah,
suburkanlah dan selamatkanlah Muhammadiyah
dengan rajin memelihara sekolah, madrasah,
rajin bertabligh dan rajin menambah
amalan-amalan dalam bidang sosial,
kemasyarakatan dan pembangunan.
Adapun untuk
menjaga keselamatan muhammadiyah, perlulah
kita berusaha dan menjalankan serta
mengikuti garis-garis khitahku itu pada
dewasa ini, ialah :
1.
Hendaklah amu jangan sekali-kali
menduakan pandangan-pandangan Muhammadiyah
dengan perkumpulan lain.
2.
Jangan sentimen, jangan sakit hati
kalau menerima celaan dan kritikan
3.
Jangan sombong, jangan berbesar
hati kalau meneerima pujian
4.
Jangan jubriya ( ujub, kibir dan
riya’ ).
5.
Dengan ikhlas murni hatinya, kalau
sedang berkurban harta benda, fikiran dan
tenaganya.
6.
Harus bersungguh-sungguh hati dan
tetap tegak pendirianmu.
Dengan enam
syarat itu apabila kamu amalkan
dengan sungguh-sungguh insyaAllah
pasti Tuhan memberi ijabah, terkabullah
apa yang yang menjadi usaha-usaha kita
semuanya.
Pesan-pesan
Kyai Dahlan inilah yang memberi motivasi
dan semangat juang para perintis
Muhammadiyah Malang. Motivasi yang di
berikan Kyai Dahlan tidak saja Jaminan
rahmat Allah yang akan menyambutnya,
tetapi juga pemompaan suatu keyakinan,
Bahwa Muhammadiyah itu benar-benar
memiliki suatu kekuatan yang hebat. Beliau
pernah juga berkata untuk membesarkan hati
para pendukung Muhammadiyah dan sekaligus
memberi peringatan kepada mereka-mereka
yang memusuhi Muhammadiyah. Beliau berkata
:
“ Jangan
sekali-kali diganggu Muhammadiyah itu,
nanti semakin besar. Muhammadiyah itu di
jiwiti dadi kulit, di cethot dadi otot.
Baik di diamkan saja, tentu akan lebih
lagi besarnya
Tokoh-tokoh
yang sempat mengukir sejarah Muhammadiyah
Malang, antara lain :
1.
Kyai Fanan ; dia adalah Muballigh
Muhammadiyah keliling dari Jember, dengan
biaya sendiri.
2.
Kyai Moh. Nuryasin ; dia adalah
ketua Muhammadiyah Malang yang pertama.
3.
Kyai Hasan Surati ; dia adalah
seorang usahawan yang menjadi penyandang
dana persyarikatan Muhammadiyah Malang dan
ketua pertama dari Majelis PKU
Muhammadiyah.
4.
Prawiro Sukarto ; dia adalah tokoh
Muhammadiyah Sumberpucung yang sering ke
Malang menemui Kyai Muh. Nuryasin.
5.
Kyai Akhwan ; adalah tokoh
Muhammadiyah Kepanjen yang mendorong Kyai
Muh. Nuryasin.
6.
Al Mukhtar ; dia adalah tokoh
Muhammadiyah Kepanjen yang kemudian pindah
ke Malang dan ikut menjadi pengurus
pertama Muhammadiyah Malang.
7.
Abdul Rahman ; dia adalah seorang
guru SR
8.
Rono Diharjo ; pendiri HIS MET den
Qur`an
9.
E. Abdullah
10.
Syech Sodiq Al amri
11.
R. Suradji
12.
H.A. Jari
13.
H. Hasyim
14.
Syafiudin
15.
H. Dimyati
16.
H. Elyas Hidir
17.
Joyo Sumarto
18.
Arba`un
19.
Atmo Kahar
20.
Sutan Ibrahim
21.
Madhechan
22.
Nimbar (perintis HW)
23.
M. Gondo Suparto (perintis HW)
24.
Chasbullah
25.
Kyai Ibrahim ; adik ipar K.H.A.
Dahlan, mertua Kyai Muh. Nuryasin yang
sering ke Malang ikut memproses berdirinya
Muhammadiyah Malang
Salah satu
langkah kokrit yang cukup memberi ciri
khas Muhammadiyah sebagai gerakan
pembaharuan Islam di Malang adalah mulai
diberikan khotbah Jumah di masjid Jami`
Malang dengan diterjemahkan
ke dalam bahasa yang dimengerti
oleh jamaahnya, dalam mana sebelum itu
khotbah harus menggunakan bahasa Arab.
“Tanggal 2
Ba`da Maulud 1348 utawa tanggal 7
September 1929, chotbah Jum`ah Masjid
Malang mulai dima`nai iku saka ihtiyare
sedulur Muhammadiyah Malang”.
usaha ini
berkat persetujuan Bupati Malang, bahwa
yang menggantikan Kayi Yasin sebagai
pengurus masjid Jami` Malang adalah
putranya yaitu Kyai Haji Moh. Nur Yasin.
Konon, mengapa Kyai
Dahlan hanya melewati Malang, tidak
singgah seperti di Kepanjen, Sumberpucung
dan tempat lainnya, adalah karena Malang
merupakan tempat yang sulit dimasuki paham
Muhammadiyah, akibat kuatnya tokoh-tokoh
agama yang tradisional dan kurangnya
muballigh Muhammadiyah. Salah satu tokoh
utamanya ialah Kyai Yasin sendiri; ayah
dari Kyai Moh Nor Yasin. Oleh karena itu,
setelah Kyai Yasin meninggal dunia dan
Kyai Moh Nor Yasin menggantikannya, maka
Muhammadiyah mulai mendapat angin di
Malang dan akhirnya berdirilah
Muhammadiyah Malang pada tanggal 24
September 1926.
Beberapa
catatan pribadio Bapak Al-Muchtar yang
kiranya perlu diungkapkan untuk memberi
gambaran bagaimana Muhammadiyah
menjalankan misinya, antara lain sebagai
berikut:
1.
Aku ing nalika dina Kamis 7
Muharram 1346 (tanggal 7 Juli 1927), aku
tampa besluit anggonku dadi guru ing
pamulangan Muhammadiyah Malang.
2.
Muhammadiyah Cabang Malang ing
naliko tanggal 14 Suro 1346 (tanggal 14
Juli 1927), nganaake openbar kang dipimpin
sedulur Kyai Fanan ditekani Guru Kristen
Jawa lan Landa.
3.
Muhammadiyah tanggal 22 Suro 1346
(tanggal 22 Juli 1927), nganaake openbar
vergadiring Aisyiyyah ing daleme H.A.
Ajari Kauman Malang.
4.
Wiwit tanggal 10 Suro 1346
aku lungo tabligh menyang Sawahan
lan konco-konco saben Minggu.
5.
Aku ono ing Malang wulan Juli 1927
utawa wulan Muharram 1436 miwiti oleh
garapan njilid buku maneh, kaya nalika ana
ing Kepanjen mbiyen dadi tukang njilid
buku.
6.
Tangggal 1 Safar 1346 (tanggal 31
Juli 1927) aku lan Kyai Noor Yasin,
Abdullah, Asnan, Mbok H.A., Jari pada
eksamen ing masjid perlu dadi tukang
nggiyarake agama Islam.
7.
Dalam bulan Agustus 1927, Bestuur
Muhammadiyah Cabang Malang diganti semua
dan mengadakan bestuur bagian HW.
Dari hasil
perubahan itu, pengurus selengkapnya
adalah sebagai berikut:
PK (ketua)
: H.M. Nur Yasin
PKm (wakil
ketua) : M.
Asmani
J.S. I
(sekretaris I) :
H.M. Ilyas Chidir
J.S. II
(sekretarisII) :
Abdulrahman
J.W.
(bendahara) :
Abdullah
J.P.
(anggota) : Seh
sodiq Almari, M. Suradji. M. Joyo Suparno,
Abdul Mukhtar.
8.
Dalam tanggal
13 Muharram 1346 (tanggal 13 Juli 1927),
saya mulai mengajar di sekolahan H.I.S.
Muhammadiyah di Kepanjen lagi.
9.
Dalam tanggal 29 Muharram 1346
(tanggal 29 Juli 1927) cabang Muhammadiyah
Malang mengadakan openbar vergadering
bagian HW di Kamar Bola Hardoloko.
10.
H.M. Ilyas Chidir, telah berkata
kepada saya, dalam rumah saya, tanggal 29
Rabiul Awwal 1346 (tanggal 26 September
1927) demikian saya hendak berhenti
menjadi bestuur cabang, dan saya
masih suka jadi comisaris dan lainnya
tidak mau. Begitu juga jika saya sedang
pidato, saudara harus menjaga, jangan
sampai pidato saya bermaksud membangunkan
SI (Sarekat Islam).
Di atas itu
saudara H.M. Ilyas telah mendengar chabar,
bahwa seorang SI yang memimpin
Muhammadiyah Banyak yang memutar kepada
Muhammadiyah. Menjadi kalang kabut. Itulah
yang menjadi sebabnya minta berhenti
menjadi bestuur cabang.
H.M. Ilyas
Chidir meletakkan jabatannya sekretaris
Cabang Muhammadiyah dalam tanggal 2
Rabiulachir 1346 atau tanggal 29 September
1927, dan kawannya, pemuka cabang muda: E
Abdullah dan Joyo Suparno comisaris
cabang.
Demikian
sekilas gambaran gerak Muhammadiyah Cabang
Malang, yang ternyata masalah politik
sudah menjadi perhatian para penggerak
Muhammadiyah pada waktu itu.
Pada
awal-awal berdirinya Muhammadiyah Malang,
ternyata sudah ada sejumlah pemuda, yang
tertarik pada gerakan Muhammadiyah, antara
lain pemuda Bedjo, yang akhirnya menjadi
tokh terkemuka Muhammadiyah Malang.
Makin
banyaknya para pemuda yang tertarik dan
masuk ke Muhammadiyah, maka sebelas bulan
kemudian cabang Muhammadiyah berdiri,
yaitu pada bulan Agustus 1927 telah
dibentuk bagian HW sebagai sarana
menampung para pemuda yang tertarik kepada
Muhammadiyah. Dengan berdirinya HW makin
banyak pemuda-pemuda remaja yang tertarik;
tercatat Slamet, Nimbar, Gondo, termasuk
pensiunan KNIL yaitu Palimin, yang semula
sangat membenci Muhammadiyah, akan tetapi
setelah berkenalan dengan HW ia ikut
bergabung main dan olah raga, maka
berbalik menjadi menyenangi Muhammadiyah.
Dia (Palimin) dengan seluruh keluarganya
menjadi aktifis dan warga Muhammadiyah
sampai sekarang beliau tinggal di
Kalyatan, Malang.
Melalui
kegiatan HW Muhammadiyah makin dikenal dan
makin besar, terutama kegiatan olah raga
sepak bola dan drum band. Kesebelasan
sepak bola HW (PSHW)
sangat terkenal saat itu. Demikian
senangnya warga Muhammadiyah pada PSHW,
sampai-sampai semua peralatan sepak bola
dibiayai oleh warga Muhammadiyah.
Adapun HW
pusat sudah berdiri sejak 1921. Mula-mula
menjadi bagian dari Muhammadiyah
bagian sekolahan, akrena
Muhammadiyah bagian sekolahan telah
memperhatikan sungguh-sungguh bahwa
banyaklah pengajaran dan didikan budi
pekerti dalam sekolah tiada dapat
diamalkan (dikerjakan) misalnya; menolong,
mengasihi fakir miskin dan lain
sebagainya. Akrenanya supaya sekalian
pengajaran itu tiada hanya tinggal
percakapan saja, lalau diusahakan
mendirikan perkumpulan Hizbulwathan (HW)
itu.
Muhammadiyah
Malang dalam setiap gerak dan langkahnya
tetap terikat pada Muhammadiyah khususnya
di Yogyakarta, sehingga sepak terjang
anggota-anggota Muhammadiyah Malang harus
mengikuti putusan-putusan dan ketentua
pengurus/pimpinan pusatnya.
Pada Kongres
Muhammadiyah ke-16 tahun 1927 di
Pekalongan,Muhammadiyah sudah menetukan
sikapnya terhadap bidang-bidang politik
praktis, yaitu sebagai berikut:
Muhammadiyah
tidak berbuat atau berhubungan politik
dengan urusan negeri. Akan tetapi
Muhammadiyah memperbaiki budi pekerti
serta kepercayaan segala manusia, sehingga
menjadi baik adanya, sebagaimana yang
telah disuruhkan dan dikerjakan sendiri
oleh Kanjeng Nabi Muhammad saw.
Sikap
Muhammadiyah terhadap persyarikatan
politik tidak mengahalang-halangi.
Terhadap sosialisme, sesunggihnya
Muhammadiyah telah menjalankan, tetapi
menurut tuntunan Islam.
Atas dasar
putusan Kongres Muhammadiyah di Pekalongan
ini maka banyak diantara pemuda Malang
masuk menjadi anggota pergerakan politik,
seperti : J.I.B (Jong Islamiten Bond).
Para pemuda itu antara lain Hadi Subroto,
Bedjo, Untung, Yasumar, Matali ; yang
ternyata mereka adalah aktivis-akyivis
Pemuda Muhammadiyah Malang pada masa itu.
Bagian-bagian Muhammadiyah Malang pada
waktu berdirinya, tanggal 24 September
1926, yaitu:
1.
Aisyiyah dengan Nasyiyatul Aisyiyah
(NA) diketuai oleh Ibu Kyai Muh. Nuryasin
2.
Tabligh
3.
Pengajaran
4.
PKO (Penolong Kesengsaraan Oemat)
sekarang diubah menjadi PKU, dibeayai dan
diketuai Hasan Surati
5.
Pemuda dengan HW-nya, dipelopori M.
Gondo Suparto dan Nimbar
Tahun 1928,
Muhammadiyah berhasil melebarkan sayapnya
dengan membuka Ranting Muhammadiyah
Singosari. Berdirinya Muhammadiyah Ranting
Singosari adalah berkat kerja keras dari
Kyai Muh. Nuryasin, Ketua Cabang
Muhammadiyah Malang. Konon penggerak dan
simpatisan Muhammadiyah Singosari adalah
“bekas” anggota “Syarekat Rakyat” yang
sudah “ikrar’ masuk Muhammadiyah dan
Pegawai negeri, guru serta Pegawai
pegadaian.
Salah satu
faktor yang menyebabkan orang-orang
terpelajar tertarik masuk Muhammadiyah
adalah karena ada muballigh Muhammadiyah
yang menggunakan bahasa Belanda.
Berdirinya
ranting Muhammadiyah Singosari dipelopori
oleh pemuda Chasbullah lulusan pondok
jamsaren Solo. Istilah
ranting pada waktu belum disebut dalam
statuten Muhammadiyah, maka digunakanlah
istilah group atau gerombolan. Berdasarkan
statuten pasal XII baris no. 4,
menentukan:
Gerombolan
itu boleh didirikan, jika ada sedikitnya 5
orang sekutu Muhammadiyah. Pengurus
gerombolan itu sedikitnya 1 orang, dipilih
dari dan oleh sekutu Muhammadiyah
gerombolan itu. Kebenaran tetapnya dan
berhentinya pengurus gerombolan itu ada
pada Pengurus Besar atau Pengurus Cabang
Muhammadiyah yang mempunyai gerombolan
itu.
Setelah
gerombolan Muhammadiyah Singosari
ini makin mantap dan mempunayi amalan
nyata yaitu berupa H.I.S. Met de Qur`an
dan jumlah sekutu Muhammadiyah
bertambah besar menjadi kurang
lebih 40 orang, maka diajukan usulan dari
nama gerombolan (group) Muhammadiyah
Singosari dengan surat No. 4 tanggal 13
Juli 1931, menjadi Cabang Singosari,
setelah mendapat persetujuan dari Cabang
Muhammadiyah Malang dengan suratnya
tanggal 15 Juli 1931 dan advis dari consul
H.B. daerah Pasuruan, maka dengan surat
ketetapan Muhammadiyah Hindia Timur No.
283/HB I. Tanggal 18 juli 1931, Cabang
Muhammadiyah Singosari secara resmi
disyahkan.
Demikian
berdasrkan Statuten Muhammadiyah, setiap
usaha pengurus Cabang melebarkan saapnya,
dapat mendirikan gerombolan Muhammadiyah
dimana saja di wilayah cabang tersebut.
Hanya yang pengurus-pengurus gerombolan
yang ada di daerah
Malang tidak dilaporkan ke PB Muhammadiyah
sehingga tidak dimuat dalam almanak
Muhammadiyah.
Menurut
putusan kongres ke-19 tahun 1930 di Bukit
Tinggi, diputuskan bahwa Muhammadiyah
dibagi-bagi menurut daerah karesidenan
yang disebut “Muhammadiyah Daerah” dan
ketua Muhammadiyah Daerah disebut “consul
Hoof-Bestuure Muhammadiyah”. Muhammadiyah
Daerah dan Consul Hoof-Besture yang
dibentuk pertama kali, adalah sebagai
berikut :
1.
Muhammadiyah Daerah Aceh dengan
consul Tengku Hasan
2.
Muhammadiyah Daerah Minagkabau
dengan consul A.R. Sutan Mansyur
3.
Muhammadiyah Daerah Lampung dengan
consul Zaenuddin Zamana
4.
Muhammadiyah Daerah Jawa Barat
dengan consul Karto Sudarmo
5.
Muhammadiyah Daerah Banyumas dengan
consul H. Dardiri
6.
Muhammadiyah Daerah Pekalongan
dengan consul Citro Suwarno
7.
Muhammadiyah Daerah Semarang dengan
consul Zulkarnaen
8.
Muhammadiyah Daerah Solo dengan
consul Mulyadi Djoyo Martono
9.
Muhammadiyah Daerah Madiun dengan
consul K.H. Abdul Mukti
10.
Muhammadiyah Daerah Pasuruan dengan
consul A.R.C. Salim
11.
Muhammadiyah Daerah Madura dengan
consul Noto Amidarmo
12.
Muhammadiyah Daerah Borneo dengan
consul Hasan Tiro
13.
Muhammadiyah Daerah Makassar dengan
consul H. M.S. Daeng Muntu
14.
Muhammadiyah Daerah Sulawesi Utara
dengan consul Tom Khonidi
Rapat
gabungan antara consul-consul dengan
pengurus Besar Muhammadiyah dinamakan
“Tanwir”.
Untuk
merealisir program kerja Muhammadiyah
Daerah, pada tahun 1932, Muhammadiyah
Daerah Pasuruan untuk pertama kalinya
mengadakan Konferensi Muhammadiyah Daerah,
yang dihadiri oleh pengurus cabang dan
pengurus ranting yang menjadi “wewengkon”
(daerah kekuasaannya) yaitu meliputi
cabang dan ranting yang berada di
karesidenan Pasuruan. Cabang dan Ranting
Muhammadiyah yang hadir dalam Konferensi
tersebut adalah :
1.
Muhammadiyah Cabang Pasuruan
2.
Muhammadiyah Cabang Probolinggo
3.
Muhammadiyah Cabang Krakasan
(Grantil)
4.
Muhammadiyah Cabang Bangil
5.
Muhammadiyah Cabang Tulungagung
6.
Muhammadiyah Cabang Malang
7.
Muhammadiyah Cabang Blitar
8.
Muhammadiyah Cabang Trenggalek
Sebetulnya,
Blitar, Tulungagung, dan trenggalek
termasuk karesidenan Kediri, akan tetapi
berhubunng di Kediri belum ada
Muhammadiyah Daerah, maka ketiga Cabang
itu dimasukkan dalam “wewengkon”
Muhammadiyah Daerah Pasuruan dan memilih
konsul yang pertama yaitu Bapak A.R.C.
Salim.
Pada waktu
itu Muhammadiyah Cabang Malang, mengutus
beberapa orang utusan dan para Pemuda
Muhammadiyah yang bersepeda “pancal”. Satu
diantaranya adalah pemuda Bedjo; yang
kemudian menjadi salah satu tokoh
Muhammadiyah Malang terkemuka yaitu K.H.
M. Bedjo darmoleksono (almarhum).
Cabang-cabang Muhammadiyah terus mengikuti
situasi dan kondisi setempat, seirama
dengan perkembangan pemerintahan dan
masyarakat di mana cabang tersebut berada.
Kota Malang tenyata berkembang lebih cepat
dari kota Pasuruan. Kota Malang dan
sekitarnya memiliki kelebihan yaitu
daerahnya yang subur, udaranya segar,
pemandangannya indah, banyak tempat-tempat
peristirahatan dan objek wisata, sehingga
menarik Pemerintah Belanda untuk
mengembangkannya. Sejak tahun 1767
Pemerintah Malang diambil alih oelh
Belanda dari tangan Mataram, yang akhirnya
Malang dimasukkan dalam
rechsstreeksbestuurd gebeid
daerah yang langsung diperintah
Belanda, sebagai Kabupaten dalam
karesidenan Pasuruan.
Oleh karena itu, dari segi tata
pemerintahan kota Malang lebih cepat besar
dari pada kota Pasuruan. Itulah sebabnya
yang semula ibu kota karesidenan adalah
Pasuruan dipindah ke Malang. Akibatnya
nama Karesidenan Pasuruan diganti dengan
Karesidenan Malang. Dengan Ibu Kota di
Malang.
Sejalan
dengan perkenbangan kota Malang ini, maka
Cabang Muhammadiyah Malang juga berkembang
lebih besar dari pada Cabang Pasuruan.
Dengan keadaan ini, Muhammadiyah Malang
menjadi berhak untuk menjadi konsul dari
pada Muhammadiyah Pasuruan. Terbukti
dengan makin luasnya amal usaha
Muhammadiyah seperti
sekolah, poliklinik, rumah yatim piatu,
rumah miskin, disamping berkembangnya
bagian epmuda dengan HW dan
PSHW-nya. Nama-nama seperti; Syekh Ali
Kudus, R. Subandi, Abdil Gani. Ircham
Yusuf, Bu Jamanah (isteri Kyai H.M. Nur
Yasin) Jefrouw Hartini, Sri Chasabah,
Srifatun, Bu Sukiati (Ny Ronodoharjo),
Aritiyah, Min Hartini, Zainab, Tukiyat
(guru dan berggerak dibidang pendidikan
dan Aisyiyyah), Pramu Condro, Panud,
Palimin, Gondo, Suparto, Nimbar,
(dibagian HW); St. Anwar, Sutan Mangkuto,
M. Darim Al Mathoromy, Ramlan salim,
Kusno, Aksar, Untung dan Bejo (PSHW);
Cokro Salamun, Moh. Ali, Salaman, Slamet,
Abdullah, Malikun (bidang kesenian, orkes
dan Tonel) adalah pelaku-pelaku utama dari
kegiatan amal usaha Muhammadiyah
pada zamannya. Dengan keadaan ini,
Muhammadiyah Malang
menjadi merasa berhak untuk menjadi konsul
daripada Muhammadiyah Pasuruan. Itulah
sebabnya pada waktu itu ada sedikit
ketegangan antara konsul Muhammadiyah
Pasuruan dengan pengurus Muhammadiyah
Cabang Malang. Sehingga pada suatu ketika
Cabang Malang dikeluarkan dari “wewengkon”
Muhammadiyah Pasuruan, dan dimasukkan ke
“wewengkon” Muhammadiyah Daerah Surabaya,
dibawah pimpinan BPK K.H.
Mas Mansyur. Sementara itu, Cabang
Singosari (berdiri tahun 1935), Cabang
Kepanjen tetap ikut Muhammadiyah Daerah
Pasuruan.
Dengan
pergantian nama Karesidenan Pasuruan
menjadi Karesidenan Malang, pada tahun
1942 maka Muhammadiyah Daerah Pasuruan
secara otomatis menjadi Muhammadiyah
Daerah Malang, dengan konsul Bapak KH
Kholil Abdul Azis
Berturut-turut yang memegamg jabatan
konsul Muhammadiyah Daerah Malang sampai
menjelang berakhirnya jaman penjajahan
Belanda, yaitu :
1.
Bapak A.R.C. Salim, Tahun 1932
2.
Bapak Kyai Muh.Nuryasin, Tahun 1933
3.
Bapak Rajabgani, Tahun 1934
4.
Bapak D. Sutaryo, Tahun 1935
5.
Bapak Atmonotoredjo (pensiunan
Aissten wedono Probolinggo), Tahun 1936
Tahun 1937
konsul Atmonotorejo diganti oleh K.H.
Kholil Abdul Azis, yang menjadi
konsul Muhammadiyah hingga tahun 1940.
Setahun setelah Kyai Kholil menjadi
konsul, Muhammadiyah Daerah Malang telah
sanggup menjadi tuan rumah kongres
Muhammadiyah yang ke-27, pada tahun 1938.
Ternyata kongres berjalan lancar dan baik.
Kongres
ke-27 berlangsung pada tanggal 21 s/d 26
juli 1938 bertempat di Jalan Kawi
(sekarang kantor Perhutani, dulu berupa
lapangan), dengan susunan Panitia Penerima
kongres sebagai berikut:
Ketua
: Rajabgani
Penulis
: Abdullah
Bendahara
: H. Sacheh
Anggota
: H. Hasyim. Irham, Anwar, Prawoto,
Atmo Kahar, Noto Suharjo, Rono Diharjo,
Bejo.
Peserta
kongres, utusan resmi kurang lebih 450
utusan cabang.
Hasil-hasil
terpenting dari keputusan kongres
Muhammadiyah ke-27 di Malang tersebut
adalah, “menerima baik perubahan anggaran
dasar Muhammadiyah pasal VII hal Hoofd
Bestuur ayat 6 alinea b,
sehingga berbunyi “Majelis Tanwir
yaitu majelis yang diserahi, mepelajari
serta merembuk masalah-masalah yang
berhubungan dengan maksud Al Qur`an surat
Al A`raf ayat 156.
Pada waktu
itu, setelah Muhammadiyah
Pasuruan berganti nama menjadi
Muhammadiyah Daerah Malang pada tahun
1942, Muhammadiyah
daerah Malang mempunyai cabang-cabang :
1.
Muhammadiyah Cabang Malang dengan
ranting-rantingnya
2.
Muhammadiyah Cabang Singosari
dengan ranting-rantingnya
3.
Muhammadiyah Cabang Bangil dengan
ranting-rantingnya
4.
Muhammadiyah Cabang Pasuruan dengan
ranting-rantingnya
5.
Muhammadiyah Cabang Probolinggo
dengan ranting-rantingnya
6.
Muhammadiyah Cabang Lumajang dengan
ranting-rantingnya
Andil dan
partisipasi Pimpina Muhammadiyah Daerah
Malang terhadap perkembangan Muhammadiyah
di Indonesia cukup dapat dibanggakan. Hal
ini terbukti dengan fikiran dan usulan
yang diberikan oleh utusan Muhammadiyah
Daerah Malang ke dalam kongres
Muhammadiyah ke-28 pada tahun 1939 di
Medan. Usul tersebut berkenaan dengan
terbentuknya Badan Waqaf yang diterima
bulat oleh seluruh peserta kongres.
Hal ini dengan mudah dapat
dipahami, karena sejak tahun 1932
Muhammadiyah Malang telah mengirimkan
beberapa tokoh pemuda yang cerdas untuk
belajar tentang Muhammadiyah di
Yogyakarta. Tokoh pemuda tersebut adalah
“Bedjo” dan “Hadi Subroto”.
Tahun 1942,
sesudah masa jabatan konsul K.H.
Kholil berakhir, maka diadakan
konferensi Muhammadiyah Daerah Malang
untuk memilih konsul yang baru. Terpilih
dengan suara bulat untuk menjabat konsul
daerah Malang adalah Bapak Bedjo (setelah
masa tuanya dikenal dengan K.H. Mohammad
Darmoleksono). Pada waktu
ini nama konsul
diganti menjadi Pimpinan Muhammadiyah
Daerah (PMD)
Beliau
memegang jabatan PMD sampai tahun 1947.
Kemudian diganti oleh Bapak Dimyati.
Ternyata Bapak Kyai Bedjo adalah pemegang
jabatan konsul yang terakhir, sebelum nama
konsul diganti dengan Pimpinan Daerah.
Masa
kepeminpinan K.M.H. Bedjo Darmoleksono,
ternyata diawali dengan berkobarnya Perang
Dunia II. Jepang mulai menyerang
Indonesia. Kata-kata
Hindia Belanda yang terdapat dalam
anggaran dasar Muhammadiyah, pada kongres
ke-28 di Medan diganti menjadi kata-kata
Indonesia. Pada waktu itu keadaan menjadi
kacau dan tidak menentu.
Untuk
menghadapi masa genting ini (yang mungkin
akan menpengaruhi pergerakan Muhammadiyah)
maka pada sidang Tanwir di Surabaya pada
tanggal 22 – 24 Mei 1941, dalam suasana
serbuan Jepang, diambil kebijakan sebagai
berikut :
Andaikata
benar-benar pecah perang pasifik dan PP
Muhammadiyah putus hubungannya dengan
cabang-cabang luar Jawa, maka PP
menyerahkan dan mengamanatkan Muhammadiyah
kepada para konsul untuk bertindak sebagai
Hoofdbestuur.
a.
A.R. St. Mamsur untuk Sumatra
b.
G.M. Hasan Tiro untuk Kalimantan
c.
D. Muntu untuk Sulawesi.
Apa yang
diperkirakan PP Muhammadiyah memang
benar-benar terjadi, sehingga kongres
Muhammadiyah ke –30 yang rencananya
dilaksanakan di Puwokerto pada tahun 1941,
terpaksa dibatalkan. Karena telah terjadi
peperangan antara Jepang dan Belanda.
Tempat yang telah dibangun untuk
berlangsungnya kongres tersebut telah
dipergunakan oleh Belanda untuk tempat
cadangan bagi tentaranya.
Dengan
demikian, setelah Muhammadiyah berusia 29
tahun ditutup dengan kongres ke-29 di
Yogyakarta, terhentilah kegiatan-kegiatan
Muhammadiyah untuk beberapa saat lamanya.
Sampai akhirnya. tentara Belanda hancur
dan menyerah pada Jepang.
Menurut
Statuta Muhammadiyah yang dikeluarkan
Belanda, ia memberi hak hidup kepada
Muhammadiyah selama 29 tahun lamanya
(rechts-persoon). Pada waktu itu sudah
saatnya dimintakan perpanjangan waktu.
Akan tetapi dengan adanya ketentuan yang
berlaku, bahwa kalau organisasi yang telah
berjalan 29 tahun lamanya dan selama itu
tidak penah melakukan hal-hal yang
melanggar hukum, maka organisasi tersebut
diperkenankan hidup terus. Ketentuan ini
berlaku bagi Muhammadiyah, sehingga tanpa
ada ijin perpanjangan Muhammadiyah berhak
hidup terus.
Selama
penjajahan Jepang praktis Muhammadiyah
tidak dapat begerak. Hampir 10 tahun
Muhammadiyah dengan Tanwirnya tidak
bergerak di jaman penjajahan Jepang sampai
pada suasana Revolusi.
Pada masa
pendudukan Jepang, tahun 1942 s/d 1945
berdasarkan undang-undang bala tentara Dai
Nippon No. 23 (khusus di Jawa), segala
perkumpulan dan partai politik dibubarkan.
Tetapi Muhammadiyah dapat menghindari
peraturan itu, karena Muhammadiyah
menampakkan diri sebagai perkumpulan agama
Iislam yang isinya
hanya menganjurkan hal-hal ibadah, mengaji
dan beramal baik, sedangkan gerakan pemuda
dan HW yang harus dimasukkan dalam
seinendan dan gerakan
Aisyiyyah yang harus masuk dalam Fujinkai,
oleh Muhammadiyah dimasukkan dalam
tubuhnya sendiri dan dinamakan bagian
pelatih, sedangkan Aisyiyyah sebagai warga
wanita yang membantu Muhammadiyah dalam
ibadah (tabligh), mengurus mushala dam
amsjid (takmirul masjid) serta mengasuh
anak-anak perempuan (Nasyiyyah. Dengan
cara demikian Muhammadiyah diijinkan terus
berjalan yang diberikan oleh Syutyokan.
Dalam
kondisi penjajahan Jepang yang terkenal
keras. Maka Muhammadiyah Daerah Malang
dengan cabang-cabangnya ikut mentesuaikan
diri dengan PP, dam arti tidak menunjukkan
kegiatan yang menyolok yang nyata-nyata
menetang penjajah Jepang. Dalam keadaan
seperti ini, anggota-anggota dan para
simpatisan Muhammadiyah bergerak
sendiri-sendiri dan banyak diantaranya
masuk sebagai anggota peta, Heiho dan
bahkan ada yang masuk menjadi anggota
suatu gerakan bawah tanah, seperti yang
dilakukan oleh Bapak Bahruni, Bapak
Suhaimi dan sebagainya. sedangkan aktivis
Muhammadiyah yang lain tetap mengamalkan
agama menurut tuntunan Muhammadiyah.
Mereka bergerak tanpa membawa
Muhammadiyah. Namun demikian, sekali waktu
Muhammadiyah secara organisatoris masih
berusaha menjalankan tugasnya, misalnya
Muhammadiyah Malang menolak untuk menunduk
hormat ke arah matahari terbit,
menghormati (?) Heika, dan sejauh itu
Jepang tidak mengambil tindakan apa-apa.
Hanya ada sementara hak milik Muhammadiyah
harus diserahkan kepada Jepang, antara
lain sebuah mobil ambulan yang berfungsi
sebagai poliklinik keliling. Itu terjadi
pada tahun 1944.
Meskipun secara organisatoris Muhammadiyah
tidak bergerak, tetapi amal usaha
Muhammadiyah, seperti rumah yatim piatu,
poliklinik, sekolah, dan
pengajian-pengajian tetap berjalan.
Pada saat
Indonesia menyatakan kemerdekaannya, taitu
pada tanggal 17 Agustus 1945,
kadang-kadang Muhammadiyah yang tadinya
berpencar-pencar, mulai dihimpun lagi
untuk ikut berjuang mempertahankan
kemerdekaan. Ada di anatar mereka yang
menjadi laskar Hisbullah, ada yang masuk
TKR, TRI dan banyak pula yang mrnyalurkan
perjuangannya lewat partai politik, yaitu
Masyumi. Tersebut nama-nama seperti H.
Takhruni, Orient Maksum, Ghofar
Wiryosudibyo dan sebagainya itu adalah
tokoh-tokoh Muhammadiyah Malang yang
bergerak melalui partai poltik.
Setelah
adanya perubahan susunan Pemerintah
Daerah, dimana Karesidenan diciutkan
menjadi Daerah Tingkat II (yang meliputi
Kabupaten dan Kotamadya), maka
Muhammadiyah Daerah Malang, yang dahulu
mencakup Kabupaten dan Kotamadya Malang
saja.
Sejak itulah
Muhammadiyah daerah Malang dapat
berkonsentrasi untuk mengurus cabang dan
rantingnya sendiri, yaitu yang terdapat di
Kabupaten dan Kotamadya Malang saja.
Cabang dan ranting yang menjadi tanggung
jawab Pimpinan Muhammadiyah Daerha Malang,
meliputi cabang-cabang :
1.
Malang Tengah
2.
Malang Utara
3.
Malang Timur/Selatan
4.
Singosari
5.
Kepanjen
6.
Sumberpucung
7.
Pakisaji
8.
Sumber Manjing Kulon
9.
Sumbermaning Wetan
10.
Turen
11.
Wajak
12.
Lawang
13.
Tumpang
14.
Batu I dan Batu II
15.
Pujon
16.
Ngantang
17.
Kasembon
18.
Wagir
19.
Ampel Gading
20.
Gondanglegi
21.
Sengkaling
22.
Karang Ploso
Daftar
cabang-cabang Muhammadiyah tersebut,
sebagian ada yang masih merupakan cabang
pesiapan. Namun demikian, daftar tersebut
dapat meberikan suatu gambaran tentang
kemajuan yang telah diperoleh Muhammadiyah
Daerah Malang, walaupun masih bersifat
kuantitatif. Yang jelas tiap permintaan
pengesahan berdirinya suatu Cabang
Muhammadiyah di suatu daerah, selalu
disyaratkan minimal ada 2 amal usaha yang
harus dipenuhi oleh daerah tersebut, yaitu
amal usaha bidang pendidikan (sekolah) dan
pengajian agama. Dengan demikian,
dicantumkan cabang-cabang yang masih dalam
persiapan itu, membawa arti bahwa di
daerah itu sudah terdapat sekolah
Muhammadiyah dan kegiatan pengajian agama.
Hal ini bisa dikatakan bahwa Muhammadiyah
telah tersebar hampir di seluruh daerah
tingkast II Malang.
Dibawa oleh
situasi perjuangan fisik melawan Belanda,
dan Muhammadiyah secara organisatoris
berdiam diri, maka tokoh-tokoh
Muhammadiyah tetap menjalankan kegiatannya
melalui jalur politik dan jalur amal usaha
Muhammadiyah. Tokoh politik seperti Drs.
Amir Hamzah Wiryo Sukarto (Singosari),
Fathurrahman (malang), Subiyanto
(Sumbermanjing Kulon), dan sebagainya,
adalah warga Muhammadiyah yang bergerak
lewat jalur politik. Pimpinan Daerah
Muhammadiyah Malang pada waktu itu
dipegangoleh Bapak Kyai Moh. Dimyati.
Adanya
kenyataan bahwa banyak diantara anggota
Muhammadiyah yang berjuang lewat jalur
politik, maka pada sidang Tanwir di
Purwokerto pada tahun 1950, diputuskan
bahwa :
1.
Anggota Muhammadiyah boleh masuk
partai politik yang tidak beridiologi
Isla, asal tidfak merugikan perjuangan
Islam. Kalau merugikan, ditarik. Kalau
tidak mau, disuruh keluar dari
Muhammadiyah
2.
Anggota-anggota Muhammadiyah
diperbolehkan masuk DPR atas nama
Muhammadiyah.
Adapun
keanggotaan orang Islam termasuk anggota
Muhammadiyah ke dalam “Masyumi” memang
telah ada ikrar bersama antara tokoh-tokoh
Islam, bahwa Masyumi adalah satu-satunya
alat politik umat Islam.
Untuk
merealisir putusan sidang Tanwir
Purwokerto, yang membolehkan anggota
Muhammadiyah menjadi anggota DPRD dengan
nama Muhammadiyah, maka ada 5 tokoh
Muhammadiyah Malang yang duduk di DPRDS
kota besar Malang, salah satunya adalah
K.H.M. Bedjo Damoleksono.
Walaupun
Muhammadiyah pada waktu itu menjadi
anggota istimewa Masyumi, tetapi pada
sidang Majelis Tanwir di Yogyakarta tahun
1951, diputuskan bahwa Muhammadiyah tidak
akan berubah menjadi partai politik.
Muhammadiyah tetap Muhammadiyah.
Didesak oleh
perkembangan politik di Indonesia, khusus
perkembangan umat Islam, di mana NU akan
keluar dari Masyumi, maka pada sidang
Majlis Tanwir di Bandung tahun 1952,
diputuskan bahwa : keanggotaan
Muhammadiyah sebagai anggota istimewa
Masyumi tetap dipertahankan. Kemudian
dengan makin berkembangnya PKI. Maka pada
sidang Majelis Tanwir di Solo pada tahun
1953, diputuskan bahwa anggota
Muhammadiyah diperbolehkan masuk parpol
yang berdasarkan atas Islam saja. Setelah
pemilu I tahun 1955 dilaksanakan, dimana
menghasilkan partai besar, yaitu Masyumi,
NU, PNI dan PKI, maka masalah hubungan
Muhammadiyah dengan Masyumi diputuskan
dalam sidang Majelis Tanwir di kaliurang
tahun 1956, sebagai berikut :
a.
Muhammadiyah tetap Muhammadiyah
berjalan menurut Hittah yang telah
ditentukan, sedang yang khusus mengenai
soal-soal politik praktis, disalurkan dan
diatur bersama Masyumi.
b.
Anggota Muhammadiyah yang
berkeinginan berjuang dalam lapangan
politik secara langsung, dianjurkan masuk
partai poltik Islam.
c.
PP Muhammadiyah dan PP Masyumi
menyadari bahwa adanya keangggotaan
Istimewa dalam Masyumi adalah tidak wajar
dan disetujui untuk dihapuskan dengan cara
yang tidakl akan menimbulkan kegoncangan.
d.
Sebelum dihapuskan, hubungan antara
kedua belah pihak diharuskan dan
dipelihara sebaik-baiknya dan ada
pengertian bersama.
Adanya
putusan-putsan seperti ini sanmgat
membantu gerak dan langkah anggota
Muhammadiyah di daerah seperti di Malang
ini. Dengan demikian seperti ada pembagian
tugas, ada yang lewat jalur sosial yaitu
menggeluti amal usaha Muhammadiyah, dan
ada yang lewat jalur politik, yaitu masuk
menjadi anggota partai politik. Semboyan
yang selalu dipegang oleh aktivis
Muhammadiyah, adalah bahwa tempat bekerja
sebagai tempat cari nafkah, partai politik
sebagai tempat bejuang, Muhammadiyah
sebagai tempat beramal, walaupun makna
dari semboyan tersebut telah berubah.
Pada waktu
pelaksanaan Muktamar yang ke-33 tahun 1956
di Palembang, diputuskan bahwa “status
Muhammadiyah sebagai anggota Istimewa
`Masyumi` dihapuskan”.
Tanggal 10
Agustus 1960 Partai Masyumi dinyatakan
sebagai partai terlarang, dengan alasan
keterlibatan beberapa pucuk pimpinannya
dalam pergolakan dengan daerah PRRI dan
Permesta. Mungkin juga kecenderungan
partai itu untuk menolak demokrasi
terpimpin.
Setelah
Masyumi bubar, Muhammadiyah menerima
tindasan dan tekanan berat dari alat
negara, partai serta golongan lawan
Masyumi dahulu. Muhammadiyah dan
orang-orangnya digolongkan sebagai bekas
anggota partai terlarang. Dicurigai,
diawasi serta disingkirkan dari segala
kegiatan dan dicap kontra revolusi dituduh
sering membuat rapat gelap, geraknya
ditekan disertai intimidasi dan
fitnah-fitnah dari berbagai pihak. Banyak
pemimpin dan mubalighnya ditekan
Jalannya
Muhammadiyah lesu
pemimpin dan aktivisnya banyak yang
menjadi apatis. Berpuluh-puluh cabang
tidak lagi terdengar kegiatannya. Beberapa
sekolah dan madrasah juga ditutup.
Tenyata apa yang disinyalir
PP Muhammadiyah tersebut memang terjadi di
seluruh wilayah Indonesia. Muahmmadiyah
daerah Malang tak luput pula mengalami hal
seperti itu. Kasus Islam Sontoloyo Bapak
K.H.M. Bedjo Darmoleksono adalah sebagai
salah satu contohnya. Pada saat itu
pembentukan front Nasional yang
mencerminkan Nasakom, Muhammadiyah selalu
tersisih. Sekali waktu ada rapat umum
menyambut Kemerdekaan RI, kebetulan ketua
panitia adalah orang Muhammadiyah yang
dipercaya oleh pemerintah. Pada saat itu
ada usul dari PKI bahwa yang boleh
dipasang adalah bendera partai wakil
Nasakom. Akan tetapi oleh ketua panitia
bendera Muhammadiyah juga dikibarkan. Ini
menimbulkan protes keras dari PKI dan
sempat “geger”. Berkat dukungan
orang-orang pemerintah keadaan ini bisa
diatasi. Bendera Muhammadiyah tetap
berkibar, rapat umum pun dapat berjalan.
Namun demikian secara umum
kegiatan Muhammadiyah lesu dan menunggo
pedoman (pemerintah) dari PP Muhammadiyah.
Untunglah PP
Muhammadiyah tidak ikut tenggelam. Pada
saat yang gawat, PP Muhammadiyah cepat
mengambil kader Pimpinan Muhammadiyah
Daerah dari seluruh Indonesia untuk
mengikuti kursus kader selama 10 hari
dalam bulan Romadlon 1380 H. (1960 M) di
Yogyakarta. Dalam kursus tersebut K.H.
Fakih Usman menegaskan apa Muhammadiyah
itu ; ialah :
1.
Muhammadiyah adalah gerakan da`wah
amar ma`ruf nahi munkar. Oleh karena itu
kegiatan dan organisasinya harus tetap ada
dan subur dalam segala jaman dan masa.
2.
Keadaan masyarajkat dan pemerintah
sebagaimana adanya, adalah kenyataan dan
faktor yang harus diperhitungkan. Maka
hendaklah Muhammadiyah digerakkan dengan
berpijak di atas kenyataan yang riil untuk
membawa umat kepada masyarakat yang
dicita-citakan Muhammadiyah
3.
Dalam pembangunan negara dan
masyarakat adil makmur diridloi Allah,
Muhammadiyah dapat membantu dan
bekerjasama dengan pemerintah.
Rumusan
inilah yang kemudian dijadikan sumber
pokok dalam merumuskan kepribadian
Muhammadiyah dalam sidang tanwir dan
muktamar Muhammadiyah ke-35 di Jakarta
tahun 1962.
Dalam masa
gawat yang seperti ini, Muhammadiyah
Malang secara berturut-turut dipimpin oleh
:
1.
Kyai Moh. Dimyati, tahun 1947 –
1950
2.
Dr. H.A.S. Sumantri, tahun 1950
3.
Drs. Imam Efendi, tahun 1950
4.
K.H. Moh. Bedjo
Darmoleksono, mulai tahun 1951 sampai
beberapa periode kepengurusan.
Pada
muktamar Muhammadiyah ke-35 bulan November
1962 di Jakarta, Muhammadiyah mengundang
Presiden Soekarno untuk memberi sambutan.
Beliau berpidato dengan judul “makin lama
makin cinta”. Pidatonya itu betul-betul
menjadi tamparan bagi musuh-musuh
Muhammadiyah. Mereka tertegun dan
terheran-heran, melihat organisasi bekas
anggota istimewa partai Masyumi yang telah
dibubarkan itu mempunyai anggota yang
menjadi presiden ; orang yang berkuasa di
Indonesia.
Sejak itulah
Muhammadiyah bangkit kembali, giat
bekerja, memperluas amal usaha,
bahu-membahu dengan pemerintah. Dimana
Muhammadiyah bergerak dengan barisan
pemudanya. NA, IMM, IPM tumbuh dan
bergerak dengan menggunakan Drum Band.
Cepat sekali usaha ini mendapat simpati
dikalangan pemuda Islam. Setiap ada pawai
pameran kekuasaan (show of force) angkatan
muda Muhammadiyah dapat menunjukkan
keunggulan dalam kerapian, kesopanan,
keindahan dan jumlah yang besar, sehingga
berhasil menarik simpai rakyat dan
pemerintah.
Angkatan
Muda Muhammadiyah Malang juga tidak mau
ketinggalan unit-unit DrumBand
bermunculan. Kiranya nostalgia kebesaran
unit drum band HW, di jaman Belanda
dimunculkan lagi dengan membina dan
mendorong serta mensponsori angkatan muda
untuk membentuk unit drum band yang
tangguh. Seperti diketahui, bahwa HW
(Hisbul Wathan) adalah satu-satunya
kepanduan yang diijinkan mepunya drum band
dan boleh berpawai di jalan raya oleh
Belanda pada jaman penjajahan waktu itu.
Kebangkitan
Muhammadiyah yang ditunjukkan oleh
angkatan mudanya seperti tersebut di atas,
menyebabkan makin gencarnya usaha lawan
untuk membubarkan Muhammadiyah, yang
dipelopori oleh PKI. Oleh karena itu untuk
menjaga segala kemungkinan yang bisa
menimpa Muhammadiyah, PP Muhammadiyah
menyusun instruksi yang dinamakan “Hittah
PP Muhammadiyah”, yang isinya antara lain:
Kepada
seluruh cabang dan ranting Muhammadiyah
supaya :
1.
Mempertebal takwa dan tawakal serta
ketahanan berjuang
2.
Memperbanyak amal usaha dan
populerisasi Muhammadiyah
3.
Membagi-bagi habis semua
anggota/kaum Muhammadiyah dalam
bermacam-macam badan penyantun bangunan
amal yang ada seperti : sekolah, panti
asuhan, poliklinik dan
sebagainya.
Popularitas
muhammadiyah terus digalakkan, disamping
itu selalu mengadakan kontak-kontak
pendekatan kepada pemerintah dengan jalan
makin digiatkan audensi PP Muhammadiyah
dengan presiden, para mentri, kepolisian,
pimpinan ABRI dan Kejaksaan Agung. Hasil
kongkrit yang menunjukkan bahwa
Muhammadiyah dapat diikut sdertakan dalam
pemerintahan adalah ketika diangkatnya
Prof. K.H. Farid Ma`ruf menjadi Mentri
Urusan Mentri.
Puncak
keberhasilan popularitas Muhammadiyah
ditunjukkan pada upacara muktamar
Muhammadiyah ke-36 tahun 1965 di Bandung,
dengan utusan kurang lebih 4500 orang,
penggembira 6500 orang. 19 unit drum band,
dengan anggota sebanya 400 orang, utusan
NA kurang lebih 700 orang. Pawai muktamar
jauh lebih panjang, lebih indah, dan lebih
teratur dari pada pawai KIAA. Nama
Muhammadiyah bertambah harum dalam
masyarakat. Muktamar Bandung membuktikan
kebesaran Muhammadiyah yang memiliki
potensi untuk dikembangkan.
Dalam pada
itu, usaha PKI untuk menguasai Indonesia
telah mencapai titik kulminasi dengan
meletusnya pemberonakan G/30/S PKI tanggal
30 Setember 1965. Menghadapi pemberontakan
ini, PP Muhammadiyah mengambil
langkah-langkah sebagai berikut :
1.
Tanggal 6 Oktober 1965, PP
Muhammadiyah mengeluarkan statmen, bahwa
Gestapu adalah bencana nasional.
2.
Tanggal 27 Oktober 1965, PP
Muhammadiyah diwakili K.H.A. Badawi dan
Djarnawi Hadikusuma, mengadakan
perseteguhan janji dengan Mayjen Soeharto,
di gedung Kostrad, untuk saling membantu
menumpas Gestapu/PKI.
3.
Tanggal 9 sampai 11 November 1965
konferensi kilat Muhammadiyah yang
memutuskan untuk berbulat tekad menuntut
bubarnya PKI.
Menanggapi kebijaksanaan
PP ini angkatan muda Muhammadiyah segera
menggabungkan diri dengan KAMI dan KAPI,
dan akhirnya membentuk Kokam (korp Komando
Angkatan Muda Muhammadiyah), yang cepat
menjalar ke seluruh wilayah Indonesia.
Diseluruh Indonesia terdapat 80 batalyon
anggota Kokam. Sedangkan di Malang
memiliki anggota yang paling besar, yaitu
4 batalyon
4.
Tanggal 17 April 1966, dikeluarkan
pernyataan PP Muhammadiyah No. 9 untuk
menanggapi keinginan anggota atas
keinginannya untuk membentuk parpol.
Pernyataan tersebut berisi :
a.
Muhammadiyah tidak akan menjadfi
Parpol
b.
Politik adalah salah bidang satu
amal usaha yang dilaksanakan atas dasar
fungsinya
c.
Pendirian parpol oleh Muhammadiyah
harus dimusyawarahkan dalam uktamar atau
Tanwir
d.
Muhammadiyah menginginkan satu saja
partai Islam untuk umat Islam
e.
Menyerukan kepada semua golongan
Islam untuk menggiatkan da`wah Islamiyah
dan usaha kemaslahatan sosial-ekonomi
masyarakat
5.
Tanggal 19 Juni 1966, diadakan
sidang tanwir yang memutuskan :
a.
Medukung sepenuhnya pernyataan PP
Muhammadiyah No. 9 di atas
b.
Agar PP Muhammadiyah memprakarsai
terwujudnya satu parpol Islam untuk umat
Islam yang belum tergabung dalam suatu
partai
c.
Tidak boleh ada lagi badan atau
perseorangan dalam Muhammadiyah
mengusahakan terwujudnya partai-partai itu
kecuali Pimpinan Pusat
d.
Meningkatkanpelaksanaan Surat
Waperdam Adam Malik ( tentang hak
Muhammadiyah untuk wakil-wakilnya duduk
DPRGR, baik di pusat maupun daerah)
e.
Meningkatkan Majelis Hikmah
Sampai
menjelang Pemilu 1971, parpol Islam yang
diharapkan belum juga muncul. Sedangkan
untuk merehabilitasir Masyumi megalami
jalan buntu. Anggota Muhammadiyah bingung,
partai mana yang akan dipilihnya nanti.
Untuk
menjaga keutuhan Muhammadiyah, maka pada
rapat PP Muhammadiyah tanggal 22 oktober
1966 di Yogyakarta, diputuskan bahwa
bilapartia Islam yang diharapkan belum
muncul juga pada Pemilu 1971 maka
Muhammadiyah akan mencalonkan diri pada
pemilu, dengan tanda gambar sendiri.
tenyata menjelang dimuainya Pemilum
197l , lahirlah partai Islam yang
diprakarsai oleh Muhammadiyah, yaitu
Partai Muslimin Indonesia (Parmusi). Yang
menjadi ketua umum pertama adalah Bapak
Djarnawi Hadikusumo. Kota Malang dipilih
sebagai tempat kongres Parmusi yang
pertama. Dan Alhamdulillah
kongres berjalan dengan tertib dan
aman.
Demikianlah
Muhammadiyah Daerah Malang pada masa
kepemimpinan K.H.M. Bedjo Darmoleksono.
Yang banyak mengalami situasi yang penuh
tantangan, kegiatan Muhammadiyah tetap
dilaksanakan secara rutin, dengan gaya dan
crir khas Muhammadiyah yang jujur, Iklas,
tidak kenal berhenti beramal, meskipun
sara penunjangnya sangat minim. Sedangkan
kebijakan ke luar, tetap berpedoman dan
mengikuti ketentuan-ketentuan yang
dikeluarkan PP Muhammadiyah.
Setelah
kepemimpinan K.H.M. Bedjo Darmoleksono,
berturut-turut yang menjadi Pimpinan
Daerah Muhammadiyah Malang. Sebagai
berikut : Kyai Imam Mawardi (1971), Kyai
Asri Rachim (1974), Abdullah Hasyim (1977
dan 1981). H. Soehadji (1984 dan 1986)
sampai sekarang (1988).
Susunan
Pimpinan Muhammadiyah Daerah Malang pada
periode 1986 sampai Muktamar ke-41, adalah
sebagai berikut :
Ketua
: H.
Soehadji
Ketua I
: Abdullah Hasyim, BA
Ketua II
: Drs. Thohir Luth
Anggota
:
-
Drs. Muqodas Murtadlo
-
Drs. Muh Yasin Suhaimi
-
Drs. Hasyim Maksum
-
Marsani Fanani
-
Drs. Mashudi
Sedangkan
ketua dari masing-masing majelis yang
terdapat dalam tubuh Muhammadiyah Daerah
Malang, saat tulisan ini disusun adalah
sebagai berikut :
1.
Majelis P dan K
: Drs. H. Sukiyanto
2.
Majelis PKU
: Drs. Muqaddas Murtadlo
3.
Majelis Tabligh
: Drs. Thohir Luth
4.
Majelis Ekonomi
: H. Sukiyanto
5.
BPK
: Drs. Mashudi
6.
Biro
: Drs. Hasyim Maksum
Ketua dari
ortom-ortom Muhammadiyah Daerah malang,
saat ini adalah sebagai berikut :
1.
Aisyiyah
: Ibu Suhadji
2.
Pemuda Muhammadiyah
: Samlah, BA.
3.
Nasyiatul Aisyiyah
: Koestiyah
4.
Tapak Suci
: Ismail Nuryanto, SH.
5.
IPM
:
6.
IMM
:
Jumlah
cabang yang sudah aktif adalah 18 cabang.
Amal usaha
yang dibanggakan Muhammadiyah Daerah
Malang, adalah sebagai berikut :
-
Bidang Pendidikan
Bidang
pendidikan ini menjadi pusat perhatian dan
prioritas amal usaha Muhammadiyah di
seluruh cabang dan ranting. Data terakhir,
tercatat 99 lembaga pendidikan
Muhammadiyah yang terdapat di Kabupaten
dan Kodya Malang, yang terdiri atas :
-
Tk : 37 buah
-
SD : 20 buah
-
SMP : 18 buah
-
SMA : 7 buah
-
STM : 1 buah
-
SMEA : 5 buah
-
MTs : 2 buah
-
SPG : 2 buah
-
SNAKMA : 1 buah
-
Aliyah : 2 buah
-
UNMUH Malang dengan 9 Fakultas
(Fakultas Tarbiyah dan Syariah, FISIP,
Fakultas Hukum, Fakultas Psikologi,
Fakultas Pertanian, FKIP, Fakultas Teknik,
Fakultas Peternakan, Fakultas Ekonomi).
-
Panti Asuhan Yatim Piatu
Muhammadiyah
Rumah Yatim
Piatu Muhammadiyah berdiri bulan Agustus
1931. Mula-mula bertempat di rumah sewaan
di Kasin Kidul. Karena rumah tersebut
sudah tidak memenuhi syarat, lalu pindah
ke Jagalan, dan akhirnya pindah ke Kauman,
sampai tahun 1933. Rumah Yatim Piatu dapat
, menampung 20 anak. Karena rumah sewaan
di Kauman tidak dapat menampung anak yatim
yang diasuh, maka pindah lagi ke Kasin
Kulon No. 1, di sana dapat menampung 30
anak.
Atas
kedermawanan Ny. Perwata Rustiman, dengan
biaya beliau sepenuhnya didirikan gedung
sendiri di Bareng Tenis, dan dimulai tahun
1934, anak-anak dipindah ke sana semua.
Sejak itulah
rumah Yatim Muhammadiyah menempati
gedungnya sendiri sampai sekarang (1988).
Dengan segala daya dan upaya, setiap ada
kesempatan diadakan perluasan dan
pemugaran. Sehingga kondisi Rumah yatim
Muhammadiyah Malang pada saat tulisan ini
disusun adalah sebagai berikut : unit
bangunan memiliki tempat tidur dengan
kapasitas 50 tempat tidur untuk 100 anak.
Sbuah masjid yang berkapasitas 300 jamaah.
Anak yatim yang diasuh sebanya 60 anak.
Anggaran belanja yang dikeluarkan setiap
bulan kurang lebih Rp. 1.500.000,00.
Balai kesehatan (poliklinik)
Muhammadiyah Malang dan RSI Aisyiyah.
Balai
kesehatan Muhammadiyah didirikan bulan
November 1927, atas jasa seorang usahawan
Muhammadiyah,
H. Hasan Surati.
Pada waktu
didirikan, Poliklinik Muhammadiyah
tersebut menempati sebagian dari rumah H.
Hasan Surati di Jl. Pangadean (sekarang
Jl. ....... ).
Balai
kesehatan ini adalah merupakan bagian dari
pengelolaan bagian PKU, yang diketuai H.
Hasan Surati, dibantu oleh H.A. Djari dan
H.M. Hasyim.
Poliklinik
dibuka sore hari dengan diasuh oleh : dr.
Anwar, dr. Tjan Eng Jong,
dr. Hadiri, Prof. dr. Leber, dr.
Poerwo Soedirjo, dr. Sorodjo.
Tahun 1932
poliklinik tersebut pindah ke gedung baru
di Jl. Tongan (menyewa), dipimpin oleh
tenaga tetap yaitu dr. Moertiono. Karena
didorong oleh kebutuhan kesehatan yang
mendesak, terutama di ranting-ranting
Muhammadiyah Njabang, Karangploso,
Singosari dan sebaginya. Maka dengan
mengubah sebuah mobil tua merek Dodg yang
dibeli dengan harga 50 Golden,
dibuatlah sebuah ambulan, tyang
difungsikan sebagai poliklinik keliling
untuk melayani kesehatan masyarakat di
daerah-daerah tersebut. Diperkirakan
poliklinik keliling seperti ini adalah
yang pertama kali di Indonesia. Mobil
ambulan inilah yang pada masa pemerintahan
Jepang harus diserahkan keoada pemerintah
Jepang.
Tahun 1937,
pemimpin PKU digantikan oleh Dr. Prabowo
dan gedung poliklinik piondah ke jalan
Gandean sampai sekarang ini. Pelayanan
kesehatan yang dapat dilakukan poliklinik
Muhammadiyah Gandean pada saat ini
meliputi : klinik bersalin (BKIA), klinik
bagian umum, klinik bagian Gigi.
Disamping
poliklinik di jalan Gandean Muhammadiyah
Daerah Malang juga mempunyai Rumah Sakit
Islam di jalan Sulawesi 16 Malang. RSI
Aisyiyah Malang diresmikan pembukaannya
oleh Sekwilda Kotamadya Malang, pada
tanggal 29 Agustus 1987. Pimpinan
pelaksana RSI Aisyiyah Malang ini
dipercayakan kepada dr. Syamsul Islam
dengan SK. PDM. No. A–2/042/1986 tanggal 6
September 1986.
Muhammadiyah
Daerah Malang, membawahi 17 Cabang dan 90
ranting, yang tersebar di seluruh wilayah
Kotamadya dan Kabupaten Malang.
Cabang-cabang Muhammadiyah Daerah Malang
adalah sebagai berikut:
1.
PMC Malang Tengah
2.
PMC Malang Timur
3.
PMC Malang Utara
4.
PMC Batu I di Kecamatan Batu
5.
PMC Batu II di Kecamatan Batu
6.
PMC Dau di kecamatan Dau
7.
PMC Lawang di kecamatan Lawang
8.
PMC Singosari di kecamatan
Singosari
9.
PMC Tumpang di kecamatan
Tumpang
10.
PMC Turen di Kecamatan Turen
11.
PMC Bululawang di kecamatan
Bululawang
12.
PMC Wajak di ekcamatan Wajak
13.
PMC Sumberpucung di kecamatan
Sumberpucung
14.
PMC Kepanjen di kecamatan Kepanjen
15.
PMC Pakisaji di Kecamatan Pakisaji
16.
PMC Gondanglegi di Kecamatan
Godanglegi
17.
PMC Sumbermanjing Kulon di
Kecamatan Pagak
Demikian
gambaran Muhammdiyah di Daerah Malang
mulai tahun 1926 hingga tahun 1989. Banyak
hal telah dilakukan dan
disumbangkan untuk bangsa dan negara ini.
Pasang surut dan lika-liku yang telah
dijalani oleh Muhammadiyah tentunya harus
dijadikan sebagai ibrah bagi
penerus-penerus Muhammadiyah periode
berikutnya. Sehingga Muhammadiyah dengan
sejarahnya mempunyai makna dan
signifikansi yang dalam untuk membangun
Muhammadiyah secara luas dan secara khusus
di wilayah Malang yang sekarang telah
dibagi menjadi dua yaitu Muhammadiyah
Kodya Malang dan Muhammadiyah Kabupaten
Malang.
Potensi
Muhammadiiyah di Daerah Malang sungguh
sangat besar, karena itu perlu usaha yang
sungguh-sungguh untuk mendayagunakan
potensi yang ada sehingga
semakin nampak wujud
kontribusi Muhammadiyah bagi agama,
bangsa dan negara.
“Hai
orang-orang yang beriman bertaqwallah
kepada Allah damn hendaklah setiap diri
melihat apa yang telah berlalu (sejarah)
untuk meraih masa depan yang lebih
gemilang”
Adapun Rekap
PCM/PRM se-Kota Malang per-15 Juni 2008
|
No. |
Nama PCM/PRM |
No. SK Pendirian |
No. SK Pimpinan |
Ketua |
Alamat |
Telp/HP |
|
I |
PCM KLOJEN |
A-2/SKC/001/9500 |
014/III.O/B/2006 |
Drs. H. Moh. Munir, MA |
Jl. Jagung. Suprapto II-E/355 Malang |
(0341) 357765 |
|
1 |
PRM. Bareng I |
A-2/SKC/001/9500 |
|
Sukiman |
Jl. Bareng Tenis Va/637 Malang |
(0341) 365453 |
|
2 |
PRM. Bareng II |
A-2/SKC/001/9500 |
|
Teguh Poncosilo |
Jl. Bareng Tengah V/710 B Malang |
(0341) 323984 |
|
3 |
PRM. Kidul Pasar |
A-2/SKC/001/9500 |
|
H. Fanus Hanafi |
Jl. Prof. Moh Yamin Kota Malang |
|
|
4 |
PRM. Wetan Pasar |
A-2/SKC/001/9500 |
|
Alfi Kalam |
Jl. Kopral Usman I/ Malang |
(0341) 365803 |
|
5 |
PRM. Tongan |
A-2/SKC/001/9500 |
|
Saiful Bakhri |
Jl. A.I. Suryani II/518 Malang |
(0341) 345034 |
|
6 |
PRM. Gandekan |
A-2/SKC/001/9500 |
|
Achmad Setyadjie |
Jl. KH. Wahid Hasyim II/ 540 Malang |
(0341) 367194 |
|
7 |
PRM. Kayutangan |
A-2/SKC/001/9500 |
|
H. Ahmat Abdullah |
Jl. Kayutangan Klojen Kota Malang |
|
|
8 |
PRM. Celaket |
A-2/SKC/001/9500 |
|
Drs. Thoha Rosyadi |
Jl. Kaliurang N0 194 Malang |
(0341)361106 |
|
9 |
PRM. Kasin |
A-2/SKC/001/9500 |
|
Nursalim |
Jl. Yulius Usman Klojen Malang |
|
|
10 |
PRM. Klampok Kasri |
A-2/SKC/001/9500 |
|
Drs. Lukman Hakim |
Jl. Jombang I/ Malang |
|
|
11 |
PRM. Temenggungan |
A-2/SKC/001/9500 |
|
Chairil Amin |
Jl. A. Munandar 7/533 Malang |
(0341) 351070 |
|
12 |
PRM. Oro-oro Dowo |
A-2/SKC/001/9500 |
|
Drs. Budiono |
Jl. Batok No. 17 Kota Malang |
|
|
13 |
PRM. Penanggungan |
A-2/SKC/001/9500 |
|
Rohman |
Jl. Penanggungan Kota Malang |
|
|
14 |
PRM. RSIA |
A-2/SKC/001/9500 |
|
Drs. Umar qusyaiyin |
Jl. Sulawesi No. 16 Malang |
|
|
II |
PCM BLIMBING |
A-2/SKC/100/9500 |
033/III.O/B/2006 |
Purnomo Hadi |
Jl. Mendit Barat No. 17 Malang |
(0341) 7051935 |
|
1 |
PRM. Blimbing |
A-2/SKC/100/9500 |
|
Djumain |
Jl. L.A Sucipto No.36 Malang |
(0341) 417893 |
|
2 |
PRM. Pandean |
A-2/SKC/100/9500 |
|
Ismail Ridlo |
Jl. Sulfat 42 Malang |
(0341) 470165 |
|
3 |
PRM. Purwodadi |
A-2/SKC/100/9500 |
|
Hartono Hasyim |
Jl. Sumpil III/18 Malang |
(0341) 492498 |
|
4 |
PRM. Arjosari |
A-2/SKC/100/9500 |
|
H.M. Rasyad |
Jl. Teluk Tomini 2 Malang |
(0341) 471167 |
|
5 |
PRM. Bengawansolo |
A-2/SKC/100/9500 |
|
H. Zainuruddin, BA |
Jl. Tumenggung Suryo No. 5 Malang |
(0341) 411822 |
|
6 |
PRM. Glintung |
A-2/SKC/100/9500 |
|
Saiful Ruhan |
Jl. Glintung 6/B-14 |
(0341) 409070 |
|
7 |
PRM. Purwantoro |
A-2/SKC/100/9500 |
|
Zultony |
Jl. Batu Bara No.69 Malang |
(0341) 412324 |
|
8 |
PRM. Bunul |
A-2/SKC/100/9500 |
|
Abdul Syukur Daha |
Jl. Bunul Blimbing Kota Malang |
|
|
III |
PCM. LOWOKWARU |
A-2/SKC/013/9500 |
023/III.O/B/2006 |
Drs. Usman Kasmin |
Jl. Joyo Tambaksari No. 29 Malang |
(0341) 565451 |
|
1 |
PRM. Lowokwaru |
A-2/SKC/013/9500 |
|
Ir. Agus Otomo |
Jl. Selorejo 4/59 Malang |
(0341) 413826 |
|
2 |
PRM. Dinoyo |
A-2/SKC/013/9500 |
|
Wage Munawar, S.Pd |
Jl. MT. Haryono 1206/B Malang |
(0341) 587284 |
|
3 |
PRM. Sumbersari I |
A-2/SKC/013/9500 |
|
M. Rukhan |
Jl. Bend. Sutami Ib/ Malang |
|
|
4 |
PRM. Sumbersari II |
A-2/SKC/013/9500 |
|
Handoyo Hartojo |
Jl. Sumbersari II/32 Malang |
|
|
5 |
PRM. Merjosari |
A-2/SKC/013/9500 |
|
M. Kabul |
Jl. Merjosari Lowokwaru Malang |
|
|
6 |
PRM. Ketawanggede |
A-2/SKC/013/9500 |
|
Drs. Suwardi |
Jl. Kertosentono 109 Malang |
(0341) 566599 |
|
7 |
PRM. Tlogomas |
A-2/SKC/013/9500 |
|
Drs. |
Jl. Raya Tlogomas 26 Malang |
(0341) 582919 |
|
8 |
PRM. Mojolangu |
A-2/SKC/013/9500 |
|
Drs. Moch. Sholeh |
Jl. Mojolangu Lowokwaru Malang |
|
|
9 |
PRM. Tulusrejo |
A-2/SKC/013/9500 |
|
Drs. Nurcholis |
Jl. Bantaran Barat I/13 Malang |
(0341) 492008 |
|
10 |
PRM. Jatimulyo |
A-2/SKC/013/9500 |
|
Drs.H. Abdul Madjid,M.Ag |
Jl. Simbar Menjangan 46 Malang |
(0341) 498653 |
|
11 |
PRM. Tunggulwulung |
A-2/SKC/013/9500 |
|
Drs. Tobroni, M.Si |
Jl. Sasando 186 Malang |
(0341) 485663 |
|
IV |
PCM. SUKUN |
A-2/SKC/108/9500 |
032/III.O/B/2006 |
Drs. H. Radix Mursenoadji |
Jl. Segawe No. 12 Malang |
(0341) 802209 |
|
1 |
PRM. Sukun |
A-2/SKC/108/9500 |
|
Ponimin, BA |
Jl. Prenjak Timur Sukun Kota Malang |
|
|
2 |
PRM. Bandungrejosari |
A-2/SKC/108/9500 |
|
Rusbianto |
Jl. Kepuh X/ 7-A Malang |
(0341) 800689 |
|
3 |
PRM. Bakalan Krajan |
A-2/SKC/108/9500 |
|
Drs. Hari Mujoko |
Jl. Bakalan Krajan 192 Malang |
(0341) 801517 |
|
4 |
PRM. Kebonsari |
A-2/SKC/108/9500 |
|
Agus Salim,S.Pd |
Jl. Raya Kebonsari V Sukun Kota
Malang |
|
|
5 |
PRM. Gadang |
A-2/SKC/108/9500 |
|
Subadi, BA |
Jl. Gadang X/71 Malang |
(0341) 805481 |
|
6 |
PRM. Mergan |
A-2/SKC/108/9500 |
|
Drs. Sulaiman Nafis |
Jl. Mergan Veteran No. 60 Malang |
(0341) 320772 |
|
7 |
PRM. Ngaglik |
A-2/SKC/108/9500 |
|
Abdul Djamil |
Jl. Raya S. Supriadi Ngaglik Sukun
Malang |
|
|
8 |
PRM. Klayatan |
A-2/SKC/108/9500 |
|
Drs. Syaifullah |
Jl. Klayatan 40 Sukun Kota Malang |
(0341) 801312 |
|
9 |
PRM. Tanjungrejo |
A-2/SKC/108/9500 |
|
Sumari |
Jl. IR. Rais I/50 Malang |
(0341) 341885 |
|
V |
PCM. KDKANDANG |
A-2/SKC/099/9500 |
037/III.O/B/2006 |
Drs. H. Abd. Rouf Abdullah |
Jl. Danau Sentani IIE.3B/20 Malang |
(0341) 711289 |
|
1 |
PRM. Kedung Kandang |
A-2/SKC/099/9500 |
|
Sadar Prasojo |
Jl. Kedung Kandang VII/30 Malang |
(0341) 710734 |
| |